Oleh: Avira Yulia Ananda
Berapa banyak di antara kami
yang batuk di malam hari,
diam-diam menghitung sisa napas,
sementara pabrik terus beroperasiSetiap hari debu itu turun perlahan,
menempel di kulit, masuk ke paru-paru, bahkan ikut mengendap dalam mimpi kami,
menyatu dengan napas yang bahkan tak sempat kami sadari sebagai keluhan.
Kami bekerja di tengah asap dan kebisingan,
menukar waktu hidup dengan jam lembur,
menukar tulang yang makin rapuh
dengan gaji yang tak pernah cukup
untuk membeli rasa tenang.
Upah kami ibarat sebutir debu-debu
kecil, ringan, mudah hilang tertiup angin,
sempat singgah di telapak tangan
lalu menghilang sebelum sempat benar-benar dihitung.
Kami pulang membawa lelah yang berat,
tapi kantong yang kami bawa pulang tetap ringan,
seakan keringat yang kami keluarkan
tidak sebanding dengan terik matahari
yang kami tanggung sepanjang hari.
Seolah tubuh kami bisa diganti
secepat mesin yang diperbarui?
Kami tidak menuntut kemewahan.
Kami hanya ingin upah
yang sepadan dengan debu yang kami hirup,
dengan waktu yang kami korbankan,
dengan cita-cita yang harus kami tunda
demi anak-anak yang menunggu di rumah.
Karena keadilan yang sesungguhnya
bukan diukur dari sebesar apa pabrik berdiri,
melainkan seberapa layak
ia menghargai debu yang bersarang
di paru-paru orang-orang kecil
yang menopangnya dari bawah.
