Oleh Niswah Tsalitsa
Kau tahu? mungkin ini terdengar klise
Mungkin telingamu sudah cukup muak
Tenggorokanmu tercekat, ingin mencela
Tapi pikiranmu masih waras
Maka sekujur ragamu memilih tuk diam
Walau benakmu betutur (basi)—kumur seribu kali
Di dunia yang sementara ini
Pantaslah sesaat untuk selebrasi diri
Rayakanlah, meski kata itu terdengar berisik
Syukurilah, meski pada kenyataannya hidup ini terlalu sulit
Nikmatilah, meski hari itu terlalu pelik
Tak mengapa, itu normal
Namanya juga hidup
Sebab ada kalanya gemerlap semesta menyertai
Kemudian di lain sisi kau akan merasa terbunuh dengan gemerlapnya
Untuk itu,
Merayakan diri tak seburuk dan serumit itu
Hanya menunggu persetujuanmu, kontribusimu
Tak mengapa, itu normal
Namanya juga manusia
Manusia itu sebenarnya sederhana,
hanya saja pola pikirnya terlalu menuntut (berturut-turut)
