Pada tahun 2022, aku dan ketiga temanku merencanakan liburan ke sebuah pantai di ujung selatan. Saat itu kami sedang berdiskusi tentang hari apa kami akan berangkat dan pantai mana yang ingin kami tuju.
Di tengah percakapan, aku tiba-tiba mengusulkan satu nama pantai yang belum pernah kami datangi sebelumnya bahkan terdengar cukup asing bagi kebanyakan orang. “Bagaimana kalau kita pergi ke pantai yang sepi, tenang, dan pemandangannya indah? Kayaknya cocok buat kita berempat,” kataku sambil membuka ponsel.
Temanku menoleh.
“Pantai yang mana, Ga? Ada rekomendasi?”
Aku mengangguk kecil.
“Ada. Tapi namanya agak asing… bentar, aku cek dulu.”
Aku segera mencari informasi di internet tentang pantai yang mungkin memenuhi kriteria itu. “Nih, ketemu,” ucapku sambil menunjukkan layar ponsel. “Pantai ini namanya Pantai Pulo. Gimana kalau kita ke sana?”
Ketiga temanku langsung menjawab kompak,
“Wah, bagus juga ya! Ayo kesana aja. Pasti seru buat main-main nanti.” Setelah sepakat, kami memutuskan untuk berangkat pada hari Jumat pukul 15.00. Seminggu kemudian, kami berempat berkumpul di satu titik untuk memulai perjalanan. Masing-masing membawa perlengkapannya sendiri ada yang membawa snack, ada yang membawa tas kecil, dan salah satu temanku membawa kamera tambahan untuk dipakai di sana. Setelah menunggu beberapa saat, kami memutuskan untuk berfoto bersama sebelum berangkat. Namun saat melihat hasil fotonya, salah satu temanku tiba-tiba mengerutkan dahi.
“Loh… Ga, muka mu kenapa putih gitu?” katanya sambil memperbesar layar. Aku mendekat. Wajahku di foto itu memang terlihat pucat berwarna putih aneh padahal tiga temanku terlihat normal. Tidak ada pantulan cahaya, tidak ada efek kamera. Hanya aku yang tampak seperti bayangan yang hilang warnanya.
Sejenak kami saling pandang, bingung.
“Aneh banget,” gumam temanku yang lain. “Padahal tadi nggak ada apa-apa.” Aku hanya tertawa kecil untuk meredakan suasana, meski perasaan tidak enak mulai merayap di dada. Sebenarnya aku sudah merasa ada yang janggal dari kejadian itu, tapi dalam hati aku takut mengecewakan mereka jika liburan ini harus batal hanya gara-gara hal sepele seperti itu. “Sudahlah, ayo berangkat. Jangan dihiraukan,” kataku memaksa tersenyum.
“Mungkin itu cuma kebetulan. Mending kita segera jalan dan berboncengan.” Ketiga temanku saling berpandangan sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Ya sudah, kalau kamu nggak masalah, kita berangkat sekarang saja. Lagian hari sudah mulai semakin sore.”
Akhirnya kami berempat berangkat. Perjalanan memakan waktu cukup lama, dan sepanjang jalan pikiranku masih terpaku pada hasil foto tadi sesuatu tentang wajahku yang putih itu terasa sangat aneh dan mengganggu. Di tengah lamunanku, motor kami tiba-tiba melambat. Hujan turun begitu saja, cukup deras untuk membuat kami harus menepi. Kami berhenti di pinggir jalan, mengenakan jas hujan, lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Hujan membuat suasana semakin muram. Beberapa desa yang kami lewati tampak sangat sepi, seolah tak banyak orang tinggal di sana. Jalanannya berlubang di sana-sini, penuh batuan yang tidak rata, membuat motor kami sesekali terguncang.
Tak lama setelah melewati bebatuan itu, sebuah gapura besar muncul di depan kami. Di bagian atasnya tertulis: “Selamat Datang di Desa Pulo.”
Aku refleks menyeletuk,
“Teman-teman, kita sudah hampir sampai nih!”
Temanku ikut berseru,
“Wah, iya! Ini dia desanya!”
Namun anehnya, begitu kami melewati gapura tersebut, hujan yang sebelumnya deras tiba tiba berhenti total, seolah ada batas tak terlihat yang memotong cuaca. Dalam hati aku bergumam, “Loh… kok hujan tiba-tiba reda? Aneh banget.” Tapi aku mencoba menganggapnya hanya kebetulan.
Perjalanan kami pun mulai dipenuhi kejadian-kejadian ganjil. Salah satu temanku tiba-tiba HP nya terjatuh, padahal ia membawanya dengan sangat hati-hati. Jalanan menuju pantai semakin parah batuan besar, tanah licin, dan jalur yang terus menanjak.
Sementara itu, warga desa yang kami lewati menatap kami dengan pandangan heran, seolah bertanya-tanya kenapa ada empat anak muda lewat jalan seperti ini menjelang sore. Namun kami berempat tetap melaju, mencoba mengabaikan tatapan-tatapan aneh itu. Plakat bertuliskan “Pantai Pulo” mulai terlihat di depan mata kami. Artinya, kami berempat sudah semakin dekat dengan area pantai. Waktu di ponsel menunjukkan pukul 16.30 sore.
Perjalanan kami melalui jalan yang dipenuhi pohon-pohon besar dan tanah becek terasa menegangkan. Setelah melewati pepohonan yang rimbun, barulah terlihat sebuah bukit tinggi dan besar. Di ujung bukit itulah terhampar pantai bernama Pantai Pulo.
Sesampainya disana, kami langsung merasa senang. Pantainya benar-benar indah pasirnya putih bersih, lautnya biru kehijauan. Namun, semakin lama aku memperhatikan, semakin aneh rasanya.
Pantai secantik ini…
Tapi tidak ada satupun orang selain kami berempat.
Bangunan-bangunan yang seharusnya dipakai pedagang ikan atau warung makan, tampak kosong,warungnya terbuka lebar sehingga terlihat ada sisa sisa meja yang digunakan untuk berdagang, beberapa bahkan sedikit rusak seperti sudah lama ditinggalkan. Suasananya membuat bulu kuduk merinding pelan.
Toilet umum di dekat area parkir lebih menyeramkan lagi. Catnya kusam, pintunya setengah terbuka, dan bagian dalamnya gelap seolah tidak pernah disentuh manusia sejak lama. Rasanya seperti tempat yang ditinggalkan begitu saja oleh seluruh masyarakat desa. Aku menyeletuk,
“Akhirnya kita sampai juga. Setelah apa yang kita lewati tadi… rasanya lega banget. Dan sesuai ekspektasiku, pantai ini indah banget.”
Teman-temanku ikut tersenyum senang. Meski pantainya cantik, area parkir yang gelap dan bangunan kosong membuat suasananya terasa tidak nyaman. Aku menunjuk ke sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.
“Ayo ke sana, ke tempat yang lebih tinggi itu,” katanya. “Kayaknya pemandangannya bakal lebih bagus daripada di sini.”
Sesampainya di atas, kami melihat sesuatu yang jauh lebih indah daripada perkiraan. Tepat di bawah bukit itu ada tepian pantai kecil dengan pasir yang lebih putih dan air yang tampak lebih jernih. Aku turun lebih dulu untuk memastikan, dan benar saja pemandangan di bawah jauh lebih tenang dan indah. Kami memutuskan mendirikan tenda di tepi pantai itu, agar barang
barang kami aman dan kami lebih leluasa bermain. Di sanalah kami menghabiskan waktu berlarian kecil, bercanda, memotret senja yang perlahan berubah jingga, dan menikmati suara ombak yang berulang-ulang memecah keheningan.Tanpa kusadari, suasana riang itu perlahan berubah. Saat salah satu temanku menggoda dan menggangguku, aku terpancing emosi dan mulai mengucapkan kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas. Entah kenapa, aku merasa lebih mudah tersulut sore itu seakan ada sesuatu yang menekan dadaku, membuatku cepat marah.
Tak lama setelah itu, kami berhenti sejenak untuk menikmati makanan dan minuman yang kami bawa. Aku mengambil alat seduh, membuat kopi, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Aroma kopi hangat bercampur dengan udara laut sore itu, terasa menenangkan… setidaknya
begitu pikirku.Aku mengangkat gelas itu dan menyesapnya sedikit.Detik berikutnya, rasa panas yang luar biasa langsung menyengat lidahku.
“Ahhh… panas sekali!” seruku refleks. Lidahku seketika terasa seperti terbakar. “Kok bisa sepanas ini? Padahal biasanya nggak pernah begini.”
Aku memeriksa ujung lidahku dengan cermin kamera ponsel memang terlihat merah sekali, seperti habis tersiram air mendidih.Teman-temanku menoleh, tetapi hanya tertawa kecil ketika aku bilang mungkin aku terlalu terburu-buru meminumnya. Meski begitu, ada rasa aneh yang muncul di dadaku. Kopi itu tidak terlihat mendidih ketika kutuangkan… tapi rasanya seolah baru saja diangkat dari kompor.
Namun, seperti kejadian-kejadian sebelumnya, aku kembali memaksa diriku menganggap itu hanya kebetulan. Kami melanjutkan makan, seolah tidak ada yang janggal,tapi aku Sedikit rasa khawatir mulai muncul di dadaku. Sejak tadi aku mengumpat dan berkata kasar tanpa sadar entah kenapa suasana pantai ini seperti membuat emosi lebih mudah meledak. Aku sempat menyesali hal itu dalam hati, takut kalau tempat ini memang tidak seharusnya diperlakukan sembarangan.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah atas bukit. Seorang pria paruh baya muncul membawa sabit kecil dan seikat rumput basah sepertinya ia sedang mencari pakan ternak. Ia berhenti tepat di atas kami, menatap ke bawah dengan raut heran. “Hei, kalian ngapain di sini sore-sore menjelang petang begini?” tanyanya dengan suara keras.
Aku dan teman-temanku spontan terkejut. Salah satu temanku menjawab gugup, “Kami cuma berlibur, Pak. Kami hanya ingin melihat sunset.” Pria itu memandang kami satu per satu, ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
“Cepat pulang,” katanya tegas. “Jangan lama lama di sini. Jangan di pantai ini sampai maghrib.”
Ia tak menjelaskan kenapa. Setelah mengucapkan itu, ia langsung berlari menuruni bagian bukit lain, menghilang di balik pepohonan seolah terburu-buru.
Kami semua saling menatap. Aku kemudian memeriksa ponsel. Layar menunjukkan pukul 17.30. Langit pun mulai meredup lebih cepat dari biasanya, seperti ada bayangan gelap yang turun perlahan menutupi pantai. Suasana yang tadinya terasa indah mendadak berubah… seolah ada sesuatu yang menunggu datangnya malam. Setelah mendengar peringatan dari lelaki pencari rumput tadi, rasa takut langsung merayap dalam tubuh kami. Tanpa banyak bicara, kami berempat buru-buru membereskan tenda dan semua barang yang kami bawa.
Namun justru saat itulah hal-hal aneh mulai terjadi.
“Ayo cepat!” seruku panik. “Pasaknya patah! Ini gimana?!”
Benar saja pasak tenda yang tadi kami tancapkan dengan mudah kini seperti patah sendiri, dan tendanya sulit sekali dilipat. Seolah ada sesuatu yang menahan kami agar tidak pergi.
Wajah teman-temanku putih pucat, tangan mereka gemetaran saat mengemas barang. Saking paniknya, aku tidak sadar ponselku jatuh dan tertinggal di pasir. Aku belum tersadar ponselku terjatuh. Kami berlarian menaiki jalur yang tadi kami turuni, nafas tersengal karena takut. Langit semakin gelap, angin seperti hilang, dan udara terasa berat. Begitu sampai di area parkir, salah satu temanku tiba-tiba berhenti. Wajahnya pucat seperti habis melihat sosok.
“Ada… ada yang berbisik,” katanya lirih.
Kami semua menoleh.
“Berbisik apa?” tanyaku, jantungku langsung berdetak lebih cepat.
Ia menelan ludah, suaranya bergetar.
“Tadi aku dengar suara besar… dari balik bukit. Suaranya berat banget ,“Ndang muliho, ndang muliho…’”
Kami semua terdiam. Dalam bahasa Jawa. Artinya “cepat pulang.”
Tapi belum sempat kami bereaksi, dia melanjutkan dengan suara makin gemetar, “Terus… ada suara lain lagi yang berbisik ke aku… ‘‘Madepo mburi. Kancamu sitok kae tinggalen, rapopo…’’ (Lihat ke belakang. Temanmu yang satu itu tinggalkan saja, tidak apa apa). Aku langsung merinding sampai ke tulang. Temanku sudah hampir menangis ketakutan. Kami semua langsung sepakat harus pergi sekarang juga. Di tengah kondisi yang sudah sangat menyeramkan, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang membuat nafasku langsung tercekat. “Loh… ponselku mana?” seruku panik sambil merogoh semua saku dan tas. “Kalian ada yang lihat nggak? Aduh… ini penting banget! Gimana ini?!” Nada suaraku meninggi karena ketakutan. Teman-temanku ikut panik, saling menatap dengan wajah tegang. “Kita nggak tau, Ga! Kamu taruh dimana tadi?” tanya salah satu temanku. Aku mencoba mengingat dengan terburu-buru. Nafasku masih berantakan.“Apa jangan jangan jatuh pas kita beresin pasak tenda tadi…?” gumamku. “Soalnya kita tadi buru-buru banget.“Begitu aku mengucapkan itu, salah satu temanku langsung membelalakkan mata. “APA?!” teriaknya. “Jatuh di sana? Di bawah bukit? Di dekat pantai itu?!” Wajahnya langsung berubah pucat, lalu ia berseru ketakutan bercampur marah
“Kita nggak mau balik ke situ ya, Ga. Kalau kamu mau ambil, ambil sendiri. Kita nunggu di sini. Kita nggak mau balik ke sana lagi!” Suasana langsung hening tapi mencekam.
Aku menelan ludah keras-keras. Jujur, aku sama takutnya dengan mereka. Tapi ponselku, semua data penting ada di sana. Dan kalau hilang, aku benar-benar celaka. Setelah menarik napas panjang, aku berkata pelan tapi tegas,
“Oke… kalau kalian nggak mau temenin aku… aku akan ambil sendiri.” Aku mengambil senter dari salah satu tas dan langsung bergegas menuju bukit yang tadi kami turuni. Udara malam sudah mulai menusuk, dan di tengah perjalanan aku sempat mendengar suara-suara kecil seperti bisikan halus yang datang dari arah pepohonan.Tapi aku mengabaikannya. Aku harus menemukan ponsel itu.
Saat aku tiba di puncak bukit, aku mengarahkan cahaya senter ke bawah. Di antara bebatuan dan pasir yang mulai gelap, aku melihat benda berkilau terkena cahaya. Dan ternyata itu ponselku.
“Nah… itu dia,” gumamku lega.
Namun suara ombak terdengar terlalu keras malam itu, seolah bergemuruh tepat di belakangku. Anginnya pun bertiup tak wajar keras, menusuk, seperti mencoba menahan langkahku agar tidak turun.
Meski begitu, aku tetap memaksakan diri. Ponsel itu penting. Sangatlah penting. Dengan hati-hati aku menuruni bukit, melewati akar-akar pohon yang menjulur seperti tangan, serta bebatuan pantai yang licin karena lembab. Tapi tidak ada hal aneh saat aku turun. Semuanya tampak biasa… meski suasananya terasa berat.
Akhirnya aku mencapai lokasi ponsel itu. Aku jongkok, mengambilnya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
“Syukurlah… ketemu juga,” ucapku dengan napas lega.Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama.Saat aku mulai naik kembali, kakiku terpeleset oleh batuan licin yang tertutup lumut. Aku tergulung ombak hingga sampai di tepi pantai, tubuhku terhempas keras ke batu karang. “Brak!” suara benturan itu begitu kuat sampai membuat pandanganku tiba-tiba kabur. Dalam sepersekian detik sebelum benar-benar hilang kesadaran, Aku melihat cahaya aneh seperti pusaran tipis berwarna kebiruan muncul dari sela-sela bebatuan pantai. Angin yang berputar perlahan muncul entah dari mana, menarik tubuhku yang sudah tidak berdaya. Lalu semuanya gelap aku seperti melayang di ruangan kosong, hingga akhirnya jatuh ke sebuah tempat asing dimensi lain yang menghubungkan dengan masa lalu.
Perlahan, suara ombak kembali terdengar. Aku membuka mata di antara rasa pusing dan denyutan sakit di kepalanya. “Aduhh aku dimana ini? kepalaku sangat pusing” ucapku pada saat terdampar tak lama aku berdiri dengan rasa sakit di tubuhku aku berjalan menyusuri pantai tampak dari kejauhan terlihat segerombolan orang tinggi dan berkulit putih di ujung
sana aku pun terkejut melihat “wahh ada orang akhirnya aku selamat’’ Aku kemudian mendekat ke arah segerombolan orang kulit putih dan ternyata segerombolan itu memakai seragam dan membawa senjata khas masa lalu, tak lama setelah beberapa langkah mendekat para orang berkulit putih itu, ketika seorang di antara mereka tiba-tiba berteriak lantang. “Stop! Wie ben jij?!” (“Berhenti! Siapa kamu?!”) Beberapa tentara langsung mengarahkan senjata panjang mereka ke dadaku. Wajah mereka tegang, seolah melihat sesuatu yang benar benar asing dan mencurigakan.
Aku terkejut. “Haa… bahasa apa ini? Aku tidak mengerti,” gumamnya panik. Dengan terbata-bata aku mencoba menjawab, “A-aku hanya… tersesat…” Meski aku tahu kemungkinan besar mereka tidak akan mengerti.
Namun salah satu tentara memicingkan mata, lalu berteriak ke rekannya, “Hij komt hier niet vandaan! Pak hem!” (“Dia bukan orang sini! Tangkap dia!”) Dua tentara langsung maju cepat. Aku panik, jantungku berdegup kencang. Aku sadar, satu kesalahan saja bisa berakibat fatal. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju hutan di dekat pantai, meski tubuhku terasa sakit dan berat.
“Schiet!” (“Tembak!”) Sebuah tembakan melesat, membuat burung-burung di pepohonan terbang serentak. Aku semakin kalut, berlari tanpa memikirkan arah, hanya ingin menjauh dari pasukan itu. Aku sontak sangat kaget dan ketakutan dengan suara tembakan , membuatku tidak fokus dan tak sengaja tersandung oleh kayu besar yang membuatku terjatuh dan pingsan, di sisi lain pasukan berkulit putih itu sudah tidak menemukan dimana aku lalu mereka tidak menghiraukannya. Keesokan paginya, hutan tampak sunyi seorang kakek tua sedang mencari kayu bakar di antara pepohonan rimbun. Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh sesosok tubuh tergeletak di semak-semak.
“Siapa pemuda ini? Kok bisa pingsan di tengah hutan seperti ini?” gumamnya, wajahnya penuh keheranan.
Merasa kasihan, kakek itu segera mendekat dan menepuk bahu pemuda itu pelan. “Nak… bangun nak! Siapa kamu, dan kenapa bisa berada di sini?”
Ketika matanya menatap pakaianku , alis kakek itu terangkat bingung.
“Pakaianmu… aneh sekali… seperti bukan dari zaman ini,” bisiknya, matanya menelusuri jaket, celana, dan sepatu modern. Kakek itu melihat pakaianku benar-benar berbeda dari yang biasa dipakai orang-orang di desanya.
Selang beberapa saat, Aku mulai membuka mata perlahan. Pandanganku masih berputar, tubuhku juga sangat sakit dan berat.
Tangan dan kakiku penuh luka, dan di dahiku terlihat memar akibat benturan batu kemarin.
Aku menarik nafas pelan, berusaha duduk, tapi rasa sakit membuatku menjerit kecil. Kakek itu segera membantunya duduk di atas batang kayu besar, menepuk punggungnya dengan lembut sambil berkata
“Tenang nak… kamu selamat. Kita cari cara untuk membersihkan luka-lukamu dulu. Tapi pakaianmu… siapa yang membuat pakaian seperti itu? Benar-benar aneh bagiku.” Aku hanya bisa menatap kakek itu dengan mata setengah tak percaya.Di dalam hatiku, aku sadar… aku tidak lagi berada di dunia yang aku kenal. “Hmm… kek… aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku masih sangat pusing, dan kemarin aku sempat dikejar oleh pasukan berseragam yang berkulit putih. Makanya aku bisa sampai di sini sekarang,” ucap aku, dengan suara terdengar lemah dengan tubuh gemetar.
Kakek itu menatapku dengan prihatin.
“Kasihan nak… kamu pasti sangat kelelahan. Ayo ikut saja ke rumahku yang tak jauh dari sini. Di sana kamu bisa beristirahat dan merawat luka-lukamu.”
“Baik, kek… terima kasih atas bantuannya,” jawab aku sambil mencoba tersenyum lemah. Dengan hati-hati, kakek itu membimbingku berjalan melalui hutan. Aku berjalan terbata-bata, setiap langkahku penuh perjuangan karena luka-luka yang cukup serius. Pepohonan dan akar di jalan setapak membuatku harus ekstra hati-hati, namun aku merasa sedikit lega karena ada kakek yang menuntunnya menuju tempat aman.Tak lama kemudian, aku dan kakek sampai di sebuah desa yang diperkenalkan kakek, bernama Desa Marga. Aku merasa sedikit heran hampir seluruh penduduk tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, dan jelas terlihat bahwa mayoritas mereka mengikuti tradisi dan kebiasaan setempat. Di halaman depan beberapa wanita menata sesajen, menyalakan dupa, sementara pemuda membawa alat pertanian. Di kejauhan tampak pura kecil dengan gapura bertingkat.
Aku merasa sangat bingung. Beberapa warga yang melihatku menatap dengan penasaran, seolah mencoba memahami siapa pemuda asing yang mengenakan pakaian aneh itu. Jaket, celana modern, dan sepatu sneakers nya benar-benar berbeda dari apa yang biasa mereka lihat.
Sesampainya di rumah kakek, aku dibawa ke ruang tamu untuk dijamu dan luka-lukaku dirawat. Kakek menyiapkan segelas air dan menyerahkannya.
“Ini, nak… silahkan minum air dulu. Pasti kamu sangat kehausan,” ucap kakek sambil tersenyum hangat.
“Terima kasih, kek, karena telah menolong saya dan memberi tempat untuk beristirahat,” jawab Aku lemah, dan masih menahan rasa sakit.
Kakek menatapku dengan serius, seolah menimbang sesuatu.
“Nak… siapa kamu sebenarnya, dan dari mana asalmu? Kau bukan orang biasa, aku bisa merasakannya,” tanyanya perlahan, penuh keheranan.
Aku hanya bisa menunduk, bingung bagaimana menjawab. Aku masih pusing dan trauma setelah dikejar pasukan berseragam tadi, serta masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi padaku. “Eh… kek… aku… aku tersesat,” jawabnya perlahan, suaranya lemah. “Aku… aku tidak tahu… bagaimana bisa sampai di sini… aku terjatuh di hutan dan… aku tidak tahu harus ke mana.”
Kakek mengerutkan dahi, tetap memperhatikannya.
“Hmm… pakaianmu aneh sekali… seperti bukan dari zaman ini. Kau benar-benar asing bagi desa ini.” Aku menelan ludah, sambil merasa bingung bagaimana menjelaskan semuanya. “Ya… mungkin itu… ya, kek… aku memang berbeda… tapi aku tidak tahu harus bilang apa… aku hanya ingin beristirahat dulu.”
Kemudian Kakek membantuku melepas pakaian modernku dan menggantinya dengan baju lengan panjang sederhana dan kain panjang khas desa. Sepatu modernku diganti dengan sandal sederhana. Begitu berpakaian baru, Aku merasa sedikit lebih nyaman dan tidak terlalu mencolok di hadapan warga.
Kakek tersenyum lembut.
“Sekarang kau bisa lebih aman, nak. Orang-orang tidak akan terlalu heran melihatmu. Tapi istirahatlah dulu, luka-lukamu masih harus diperhatikan.”
Aku menarik nafas panjang, merasa sedikit lega. Aku tidak perlu terburu-buru menceritakan rahasia tentang dimensi dan masa depan yang baru sajaku alami.
Hari berikutnya, Aku mulai membantu kakek menata dapur dan beradaptasi di rumahnya. Aku duduk di teras sambil mengamati kegiatan di desa. Di tengah lamunanku, tiba-tiba kakek menepuk pundakku dan bertanya,
“Nak, kenapa? Ada apa sampai kau melamun dari tadi?”
Aku menjawab, “Aku sedikit bingung, Kek. Rasanya sangat berbeda… suasana di desa ini terasa asing, seperti hidup di masa lalu.”
Kakek menatapnya sambil menghela napas.
“Nak, banyak hal sudah terjadi sejak satu tahun negara kita merdeka. Orang-orang di desa ini masih bersiap dan berjaga… banyak yang harus dilakukan untuk melindungi desa.” Aku menelan ludah, mencoba memahami ucapan kakek.
“Haa… satu tahun setelah merdeka… berarti ini… tahun 1946?” gumamku pelan, mataku melebar.
Kakek merasa heran melihat reaksiku.
“Kenapa nak, ada apa? Kenapa kau bisa segitu kagetnya? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?”
Aku langsung tersadar. Ia tidak boleh memberitahu kakek tentang identitas aslinya. “Ahhh… tidak apa-apa, Kek. Cuma kaget aja… ternyata sudah satu tahun setelah merdeka,” jawabnya pelan, berusaha tersenyum.
Kakek kemudian bertanya siapa namaku
“Nak….. siapakah namamu beritahulah kakek agar aku bisa mengenalmu lebih dekat?” “Namaku….. Arga kek, kakek bisa memanggilku Arga”
“ Namamu bagus sekali nak…..” Ucap kakek sambil tersenyum
Tak lama setelah itu, Aku masuk ke dalam rumah,dan duduk termenung. Aku terus teringat kejadian di Pantai Pulo saat terpeleset di tebing bukit, kemudian tiba-tiba terdampar di sebuah pantai yang asing. Kini, kenyataan membuatku terkejut aku sedang berada di tahun 1946. Aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimana aku bisa kembali ke masa depan dan keluar dari semua ini. Rasa takut mulai merayap di dadaku, dan pikiranku tentang ketiga temanku membuat semakin cemas. “Apakah mereka baik-baik saja? Apakah aku bisa kembali?” gumamnya pelan, sambil menunduk dan menggenggam tangan.
Meski hatiku penuh kecemasan, Aku berusaha tetap tenang. Aku yakin pasti ada jalan keluar atau petunjuk untuk kembali ke dimensi asalku. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk menjelajah Desa Marga agar bisa mendapatkan petunjuk dan sekaligus lebih mengenal lingkungan sekitar.
Keesokan harinya, Aku berpamitan kepada kakek.
“Nak, kau mau kemana?” tanya kakek.
“Aku hanya ingin berjalan-jalan di desa, kek. Supaya lebih mengenal tempat ini dan bisa cepat beradaptasi,” jawabku.
Kakek mengangguk dan tersenyum tipis.
“Baiklah, nak. Berhati-hatilah dan jangan terlalu jauh. Desa ini aman, tapi tetaplah waspada.” Aku mengucapkan terima kasih, lalu melangkah keluar rumah. Saat berjalan santai sambil memperhatikan rumah-rumah warga di sekitarnya, tiba-tiba aku ditabrak seorang wanita yang sedang terburu-buru.
“Maaf, maaf, Tuan! Saya tidak sengaja… saya sedang terburu-buru dan tidak sempat melihat ke depan. Maafkan saya,” ucap gadis itu terbata-bata.
“Ah, tidak apa-apa, nona. Aku baik-baik saja,” jawabku sambil sedikit tersenyum.Aku tidak bisa menahan rasa kagumku terhadap kecantikan gadis itu.
Setelah itu, gadis tersebut pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa terpaku sejenak, sedikit kehilangan fokus, hatiku berdebar, dan pikiran tentang gadis itu terus menghantui langkahku Waktu sudah mulai petang, Aku kembali ke rumah kakek. Dengan wajah berseri, aku menceritakan pengalaman hari itu.
“Kek, tadi aku… aku bertemu seorang gadis… yang sangat cantik. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya lagi,” ujarnya dengan nada antusias tapi penuh keraguan. Kakek tersenyum tipis, lalu keesokan harinya memberikan tugas padaku. “Nak, tolong carikan kayu bakar untuk keperluan memasak hari ini,” kata kakek. Aku pun segera bergegas ke hutan tempat yang dulu membuatku pingsan. Aku menapaki jalan setapak yang familiar namun tetap terasa asing. Saat sedang mengumpulkan kayu, tiba tiba aku melihat sosok yang sudah tidak asing, lagi gadis yang kemarin menabrakku. Hatiku berdebar kencang. Gadis itu tersenyum malu-malu ketika melihatku, seolah kebetulan mempertemukanku lagi dengan dia di tengah hutan yang rimbun.
Aku pun berusaha mendekat, sedikit tersipu malu, sambil membuka percakapan. “Kamu di sini juga? Kebetulan sekali ya kita bertemu,” ucapnya, mata ku menatapnya dengan penasaran.
“Ah… iya, maaf ya soal kemarin. Aku benar-benar tidak sengaja,” jawab gadis itu sambil menundukkan wajahnya, suara terdengar pelan.
“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi soal kemarin. Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Namaku Arga, nama kamu siapa?”
“Iyaaa, benar juga. Namaku Ni Gusti Putu Dewi, tapi panggil saja Putu,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
Semakin hari, Aku dan Putu semakin sering bertemu. Aku dan Putu berjalan-jalan di sekitar desa, membantu kakek, dan sesekali berbincang bincang sambil mengamati kegiatan warga. Rasa kagumku pada Putu semakin dalam, begitu pula sebaliknya. Kehangatan dan tawa membuat waktu terasa singkat setiap kali bersama.
Namun, kabar tentang kedekatanku dengan Putu mulai terdengar hingga sampai ke telinga orang tua Putu. Sontak ayah Putu marah besar dan pada saat itu sedang berada di samping putu ketika orang tua sedang marah besar “Putu… kau harus berhati-hati,” kata salah ayah putu dengan nada tegas. “Pemuda ini bukan berasal dari desa ini, bahkan kita tidak tahu asal
usulnya. Dan dia… dia tidak memiliki kasta. Hubungan kalian… tidaklah pantas.” “Jauhi pemuda yang tidak jelas asal usulnya ini mulai dari sekarang juga!” Mendengar hal itu, Putu hanya terdiam menunduk, hatinya campur aduk antara perasaan sayang padaku dan rasa hormat pada orang tuanya. Sementara Aku, meski kecewa, tetapi memahami bahwa ada
batas-batas yang tak bisa aku langgar, terutama di tengah adat dan tradisi yang sangat kental di desa itu.
Setelah kejadian saat itu Putu dan Aku tidak pernah terlihat lagi bersama sama, Aku hanya bisa merenung dan harus bersabar.
Kemudian seiring berjalannya waktu persiapan perang mulai terasa di desa, suasana menjadi tegang. Warga dan pasukan berjaga-jaga, menyiapkan logistik, dan membicarakan strategi. Aku yang mulai menyesuaikan diri, ditugaskan untuk membantu kakek dan beberapa warga menyiapkan kayu bakar, memasak, serta membawa perlengkapan untuk keperluan pasukan. Secara kebetulan, Putu juga terlibat dalam kegiatan tersebut, membantu menyiapkan makanan dan peralatan bagi pasukan. Karena sering berada di lokasi yang sama, Aku dan Putu kembali sering bertemu. Aku dan Putu sering berbicara, saling menukar saran, dan sesekali saling melempar senyum di tengah hiruk-pikuk persiapan perang. Meski orang tua Putu tetap tidak menyetujui hubungan ku dengan Putu, kesempatan untuk bertemu membuat kedekatan kita semakin kuat. Di balik ketegangan desa yang sedang bersiap menghadapi pasukan berkulit putih, Aku dan Putu menemukan momen-momen kecil untuk saling mengenal dan mendukung satu sama lain.
Malam semakin larut tapi ketegangan terasa di setiap sudut. Aku berjalan pelan menyusuri jalanan desa yang diterangi cahaya lampu minyak. Dari kejauhan terdengar suara langkah dan gemerisik, diiringi bisikan warga yang sigap memindahkan bekal dan menyiapkan posisi mereka.
Di salah satu banjar desa, beberapa pemuda dan warga tua menatap ke arah bukit tempat pasukan berkulit putih mendekat. Tiba-tiba terdengar teriakan dan dentuman senjata, lalu percikan api dari tembakan yang menyambar di rerumputan. Warga berserakan, beberapa menyalakan obor untuk memberi tanda, sementara Aku hanya bisa mematung di tepi jalan, memandang semua itu dengan mata terbelalak.
Di depan rumah salah satu warga, Aku menyaksikan kepala pasukan, memimpin pasukan dengan tegas, mengatur posisi dan memberi aba-aba. Beberapa warga membawa logistik dan perlengkapan ke pos-pos yang strategis, sementara yang lain menutup jalan-jalan kecil untuk menghalangi pasukan berkulit putih.
Suara teriakan “Maju! Jangan mundur!” terdengar, dan Aku melihat sebuah kelompok pasukan akhirnya terdesak. Namun, semangat mereka tak surut. Warga, pemuda, bahkan beberapa anak muda ikut mengangkat semangat, meski menghadapi risiko yang jelas. Asap dari tembakan dan percikan api dari senjata memenuhi udara, membuat malam tampak suram dan penuh ketegangan.
Di tengah kekacauan itu, Aku melihat Putu bergerak cepat, mengantarkan bekal dan memberi arahan kepada pemuda di pos penjagaan. Aku menelan ludah, hatiku berdebar, tapi aku tak bisa menoleh dari pemandangan itu. Di bawah cahaya obor, ada keberanian yang terpancar dari wajah-wajah penduduk desa, keteguhan yang membakar semangat mereka untuk mempertahankan tanah air.
Beberapa saat kemudian, suara komando dan tembakan mereda. Hanya sisa asap dan bisikan warga yang terdengar, sementara beberapa warga memeriksa keadaan dan menyembuhkan yang terluka. Aku menarik nafas panjang, mataku menatap ke arah pos-pos yang tadi dipenuhi kekacauan. Aku menyadari, malam ini menjadi saksi dari keberanian, pengorbanan, dan semangat yang akan dikenang sepanjang sejarah.
Setelah pertempuran mereda, warga desa tidak langsung beristirahat. Mereka bergotong royong membersihkan sisa-sisa kerusakan, memperbaiki rumah yang runtuh, dan menyingkirkan puing-puing dari tanah yang terkena serangan. Aku menyaksikan semuanya dengan rasa kagum meski lelah dan trauma, warga tetap bersatu, saling membantu, dan menjaga semangat kebersamaan.
Dalam suasana itu, Aku juga ikut membantu sebisa mungkin, walau hanya mengangkat kayu atau menata peralatan, sambil memperhatikan Putu yang terlihat sigap membantu ibunya menyiapkan makanan untuk warga yang bekerja. Momen itu membuatku lebih menghargai keberanian dan keteguhan hati penduduk desa, sekaligus menimbulkan perasaan hangat dan kagum terhadap Putu.
Beberapa hari setelah membantu warga membersihkan sisa-sisa perang, Aku duduk di teras rumah kakek, menatap kegiatan desa yang sibuk. Aku mencoba mengalihkan pikiranku terhadap tujuan utama, yang mencari petunjuk untuk kembali ke dimensi asal. Kabar tentang pernikahan Putu dengan pria lain yang terjadi karena aturan kasta di desa secara perlahan sampai ke telingaku melalui bisik-bisik warga. Hatiku seketika hancur berkeping keping. Aku merasa kosong, seolah semua yang aku rasakan untuk Putu sia sia. Aku menundukkan kepala, menutup mata, dan membiarkan diriku tenggelam dalam kesedihan, mencoba menenangkan diri namun tidak mampu menahan rasa sakit yang begitu mendalam. Aku termenung di teras rumah kakek, menatap jauh ke hutan. Hatiku hancur melihat Putu harus dinikahkan dengan orang lain. Sakit itu hampir membuatku tak berdaya. Tiba-tiba, sebuah bisikan samar terdengar di telingaku, seolah memanggil “Kau harus kembali… jika tidak, kau takkan pernah pulang.”
Dengan nafas berat, Aku mengangguk pelan. Aku tahu harus meninggalkan kakek, meninggalkan masa lalu yang aku cintai, dan kembali ke dimensi asalku.
Aku sontak terbangun dari lamunan karena mendengar bisikan tersebut ”siapa itu! kemana aku akan pergi untuk kembali ke masaku!” kemudian bisikan tersebut mulai terdengar jelas di telingaku dan menyuruhku kembali ke tempat awal di mana aku terdampar di situ, aku akan menemukan jalan pulang. Aku menelan ludah. Aku sadar, meskipun hatiku ingin tetap tinggal, aku memang harus pergi. Dengan langkah berat, aku berdiri dan menatap kakek. “Kek… aku… aku harus pergi. Mungkin lama, aku tidak tahu kapan bisa kembali,” ucapku pelan.
Kakek menatapku lama, raut wajahnya campur aduk antara prihatin dan mengerti. “Nak… jaga dirimu baik-baik. Ingatlah selalu rumah ini dan orang-orang yang peduli padamu. Jika jalanmu memang harus pergi, pergilah dengan hati yang tenang.” Aku tersenyum tipis, menundukkan kepala dengan hormat.
“Terima kasih, kek… atas segalanya. Aku tidak akan melupakan semua kebaikanmu.” Sebelum Aku melangkah pergi, kakek mengambil sebuah gelang dari atas meja. Dengan lembut, ia mengikatkan gelang itu di pergelangan tanganku.
“Ini… sebagai tanda, nak. Agar kau selalu ingat rumah ini… dan jangan lupa, kau selalu punya tempat kembali,” ucap kakek sambil menepuk pundakku sekali lagi. Aku menatap gelang itu, mataku berkaca-kaca, lalu menggenggamnya dengan erat sebelum melangkah menjauh, meninggalkan desa, kakek, dan semua kenangan yang telah menemaniku. Aku melangkah perlahan meninggalkan rumah kakek. Gelang yang diberikan terasa berat di pergelangan tanganku, seolah menahan setiap langkah untuk pergi. Hatiku campur aduk patah, rindu, dan bingung. Aku berjalan menembus jalan setapak desa yang mulai sepi, suara langkah kakiku bergema di antara rumah-rumah penduduk yang kini tampak diam dan teduh. Tak lama, aku tiba di ujung desa, di mana hutan mulai menebal. Angin sore menyisir wajahku, membawa aroma tanah basah dan daun-daun hutan yang lembab. Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan pikiran yang kacau. Setiap langkah menuju hutan, rasa sakit hati itu semakin terasa, tapi di dalamnya ada bisikan samar sebuah panggilan yang membuatku tahu, waktunya kembali ke tempat asal. Pada saat aku mulai melangkah ke tepian pantai tiba tiba ombak yang sangat besar menghampiriku di tepi pantai aku sangat takut dan kemudian berlari tapi usahaku tidak berhasil aku tetap tergulung ombak dan dahiku lagi lagi terhantam batuan pantai seketika aku kembali tak sadarkan diri semuanya menjadi sangat gelap tiba tiba ada cahaya yang aku lihat, ternyata cahaya itu berasal dari senter temanku yang berhasil menemukan aku yang tergeletak di tepian pantai bawah bukit salah satu temanku memanggil para warga desa
untuk membantu mengangkat tubuhku ke tempat salah satu rumah warga di sekitar pantai pulo
Ketiga temanku sangat panik melihat kondisiku yang tak sadarkan diri. Sesampainya di rumah warga aku belum juga sadarkan diri salah satu temanku mengompres dahiku dengan air hangat dan memberikan minyak ke hidungku supaya cepat siuman, tak berselang lama akhirnya aku sadarkan diri “ Aku dimana ini?” ucapku yang baru saja terbangun, ketiga temanku sontak kaget senang akhirnya aku masih hidup warga kemudian bertanya “apa yang kamu alami anak muda apa yang terjadi kepadamu ceritakan saja” wajahku yang dipenuhi luka membuat warga khawatir karena mungkin aku bisa saja tergulung ombak tadi,lalu aku menceritakan semua hal yang dialami tadi “aku mengalami suatu kejadian yang di luar kepala kejadian itu sangatlah aneh, aku kembali ke masa lalu dimana aku berada di tahun 1946” sontak semua yang mendengar tidak percaya apa yang aku katakan semua nya menganggap aku hanya halusinasi akibat benturan di kepalaku.
Kemudian tiba tiba salah satu warga menyeletuk “kok kalian berani berani nya datang ke situ apalagi menjelang magrib, memang banyak kejadian aneh di pantai itu sudah banyak korban yang tenggelam di sana pantai itu sudah lama di tinggalkan oleh warga sekitar bersyukur kau masih bisa selamat” ucap warga, ketiga temanku pun terkejut mendengar cerita tentang pantai
itu setelah nya karena tidak mau berlama lama di daerah tersebut, akhirnya mereka ber empat memutuskan untuk langsung pulang ke kota aku pun setuju karena tubuhku sangatlah capek dan lemas pada saat perjalanan menuju pulang tiba tiba seluruh listrik desa tiba tiba padam dan udara pada saat itu terasa begitu gerah dan pengap membuat semuanya memutuskan untuk memakai baju yang pendek, selama perjalanan pulang listrik padam yang terlihat hanya kilat di awan yang tidak bersuara seolah memberikan sedikit cahaya untuk pulang dengan bantuan senter dan sedikit lampu motor membuat perjalanan semakin mencekam, dan tidak ada satupun orang yang berani lewat kami sangatlah ketakutan dalam perjalanan pulang dan tiba pada akhirnya kita sudah berada di bawah gapura yang bertuliskan selamat datang di desa pulo seketika hawa dingin merasuki tubuh aku dan teman temanku merasa seperti bebas dari penjara yang penuh dengan api yang membara di situ kami tetap melanjutkan perjalanan hingga bisa sampai ke kota dan kembali ke rumah masing masing tanpa mau berbicara tentang peristiwa panjang yang kami lalui.
Sesekali Aku kembali sendirian ke Pantai Pulo. Angin laut mengusap wajahku, membawa aroma yang familiar, namun sepi yang ada terasa hening dan penuh kenangan. Ombak bergerak di tepian, menari seolah menyapaku, tapi aku tahu mereka tak akan bisa membawaku kembali ke masa itu.Aku menatap cakrawala, di mana langit dan laut seakan
menyatu tanpa batas. Gelang di tanganku berkilau samar terkena sinar senja, yang mengingatkan pada kakek yang pernah menaruh kasih sayang seperti seorang ayah. Aku berdiri di tepi Pantai Pulo. Ombak bergerak lambat, angin membawa aroma laut yang akrab. Aku menutup mata, membiarkan suasana desa, kakek, Putu, dan orang berkulit putih itu muncul lagi di dalam kepalaku. Di dunia itu, aku merasa aman. Tidak ada dunia nyata yang bisa menyakitiku.
Dalam kesunyian itu, sebuah suara terdengar.
“Argaaa… ayo kita pulang.”
Pelan, lembut, seolah memanggilku dari balik kabut.
Aku menoleh cepat, tapi pantai tetap kosong.
Bisikan itu datang lagi, lebih dekat seakan tepat di belakang telingaku.
“Arga… ini bukan tempatmu.”
Begitu bisikan itu menghilang, Pantai Pulo mulai tampak kabur. Warnanya memudar, lautnya menghilang seperti disapu cahaya. Aku spontan memejamkan mata, memeluk sisa-sisa dunia itu sekuat tenaga.
Lalu suara itu berubah menjadi suara yang sangat kukenal.
Suara yang memanggilku ketika aku sedang melamun di rumah kakek.
“Arga… buka mata.”
Pasir di bawah kakiku menghilang. Ombak berhenti.
Cahaya senja padam, berubah menjadi dingin dan putih. Dentuman jam dinding menggantikan suara angin laut. Aku seketika membuka mata. Pantai Pulo pun lenyap. Aku terbaring di ranjang sebuah ruangan putih. Di sampingku berdiri seorang pria berpakaian jas putih, menatap dengan campuran lega dan kekhawatiran.
Pria itu menarik nafas dalam.
“Bagus… akhirnya kamu kembali.”
Aku menunduk, menatap gelang rumah sakit di pergelangan, gelang yang di dalam pikiranku aku meyakini bahwa itu adalah pemberian dari kakek.
“…Dok? Kenapa aku di sini?”
Suaranya pecah dan goyah.
Dokter tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku catatan yang sejak tadi berada di tanganku, lalu membuka halaman-halaman yang penuh sketsa yaitu pantai, sesosok wanita, seorang pria tua, dan beberapa orang bersenjata. Beberapa halaman robek karena terlalu sering ditekan pensil, seolah aku mencoba membuat dunia itu tetap hidup. “Ini yang kamu pegang sepanjang minggu,” ucap dokter, pelan tapi tegas.
Aku mengerutkan dahi.
“Se…minggu, Dok?” Dokter menatapnya serius.
“Kamu melamun selama tujuh hari, Arga. Tidak bicara. Tidak merespons. Hanya menatap buku ini… kadang tersenyum, kadang menangis.”
Aku membeku, nafasnya tercekat.
“Aku… seminggu?”
“Ya.” Dokter menutup buku catatan itu dengan hati-hati, seolah menutup pintu ke dunia lain. Aku memegangi kepalaku.
“P…pantai tadi…” suaranya nyaris tak terdengar.
Dokter merendahkan nada suaranya, penuh empati. “Itu hanya ruang yang kamu ciptakan sendiri. Tempat kamu bersembunyi saat kenyataan terlalu berat untuk kamu hadapi.” Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa perih. “Aku… aku merasa aman di sana…” Air mataku terjatuh, satu-satu.
Dokter tersenyum kecil, simpatik.
“Kadang, ketika luka batin terlalu dalam, pikiran kita membuat dunia yang terasa lebih aman. Tapi kamu hampir tidak kembali dari sana, Arga. Seminggu hilang di dunia khayalanmu. Seminggu.”
Aku menggenggam buku catatan itu erat. Sketsa wajah Putu sudah basah oleh air mataku. Dunia itu terasa lebih nyata daripada apa pun di ruangan ini.
Tapi dokter kembali menatapnya tegas, namun lembut.
“Arga… itu hanya tempat kamu bersembunyi. Dunia nyata memang sulit, tapi kamu harus keluar dari sana. Dunia itu akan memakanmu pelan-pelan.”
Aku terdiam lama. “Kalau aku keluar… apa aku akan bisa merasa aman lagi?” “Tidak secara langsung,” jawab dokter dengan jujur. “Tapi aku akan membantu kamu. Kita akan membangun tempat yang aman dan nyata. Pelan-pelan. Di sini.”
Aku menunduk. Di antara rindu pada Pantai Pulo dan ketakutan pada kenyataan, aku mulai merasakan sesuatu yang baru yaitu kesadaran. Meski masih samar, masih diliputi denial, tapi ada secercah keberanian untuk mencoba.
Aku menarik nafas yang panjang, menggenggam gelang rumah sakit itu. “…Baik, Dok. Aku… mau aku akan mencoba.”
Dokter menepuk bahuku. “Satu langkah, Arga. Tidak perlu cepat. Perjalananmu baru dimulai. Dan kali ini, bukan di Pantai Pulo.”
Aku menatap ruangan putih itu. Bayangan samar pantai masih muncul di sudut pikiranku, tapi tidak lagi menguasai seluruh dunia batinku.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti. Dunia yang aku ciptakan hanyalah refleksi dari rasa kesepianku sendiri. Dan satu-satunya jalan keluar adalah menghadapi kenyataan meskipun itu menyakitkan, tapi adalah hal yang nyata.
