Oleh: Titis Putri Rahayu
Dari keheningan yang dipaksa datang
Tak ada satupun kata yang lolos untuk diucapkan
Bibir bagai tertanam seribu benang
Dan hanya luka yang memaku jiwa
Tuk menerima getirnya kenyataan
Tinta merah yang tertoreh di ambang pintu
Menjadi pengingat akan kebengisan perampas itu
Ketika besi panas terus menghunus jantungmu
Lalu menyeretmu jauh ke tepi maut
Hingga kau lenyap dalam ketakutan
Lantas apa arti sebuah perlawanan?
Layakkah kau disebut pengecut di negeri sendiri?
Yang hilang begitu saja ditengah terangnya rembulan
Menumbuhkan kepedihan mendalam
Menyisakan bayang semu di relung ingatan
