73 Tahun KAI, Terus Berinovasi yang Ber-Wahana Daya Pertiwi

Tanggal 7 Juni 1864 merupakan sejarah awal dari perkeretaapian Indonesia, yaitu ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele (masa penjajahan Belanda). Yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan rute Surabaya – Pasuruan – Malang, Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij, Serajoedal Stoomtram Maatschappij, dll. Hingga pada akhir 1928 telah terbangun jalur rel sepanjang 7.464 km. Tahun 1942, Pemerintah Belanda meneyerah tanpa syarat kepada Jepang sehingga perkeretaapian diambil alih oleh Jepang. Pada masa ini, kereta api digunakan untuk mengangkut hasil tambang batu bara guna menjalankan mesin perang. Beberapa hari setelah Indonesia merdeka, diambil alihlah stasiun dan kantor pusat kereta api yang dikuasai oleh Jepang. Puncaknya pada tanggal 28 September 1945 yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.
Dalam perjalanannya, Kereta Api Indonesia mengalami pertumbuhan dan kemajuan dengan terus bertransformasi yang bertujuan untuk  menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan pelanggan dan memenuhi harapan stakeholders. Kesan kereta yang kumuh, kotor, pengap, panas kini sudah berubah menjadi rapi dan tertib. Bahkan kereta api juga telah terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, seperti kereta bandara yang menghungkan stasiun dengan bandara. Gebrakan – gebrakan pelayanan di bidang Teknologi Informasi juga terus dilahirkan. Mobile Ticketing, E-Ticketing, E-Gate, E-Parking, Boarding Pass, Pre Order Meals, hingga aplikasi KAI Access merupakan produk IT dari KAI. Pembaruan – pembaruan juga terus dilakukan melalui inovasi – inovasi untuk pelayanan kepada penumpang, misalnya Railpay, Entertainment On Board, Wifi, Customer Service On Train dan lainnya. Kehadiran Kereta Wisata juga menjadi salah satu transformasi yang menghadirkan wajah baru dalam perkeretaapian di Indonesia. Selain itu, ada pula Kereta Tidur dengan layanan ekslusif yang telah resmi beroperasi pada tanggal 13 Juni 2018. Kereta kelas luxury jenis sleeper ini sampai saat ini masih melayani pengguna KA di rangkaian Argo Anggrek relasi Gambir – Semarang Tawang – Surabaya Pasar Turi. Sehingga tidak heran jika kereta api menjadi moda transportasi yang mengangkut penumpang terbanyak. Sepanjang tahun 2017 saja telah tercatat ada 360 juta penumpang.
Pembangunan infrastruktur perkeretaapian akhir – akhir ini juga telah mulai digencarkan kembali. Mulai dari pembangunan rel ganda di pulau jawa, pengaktifan kembali rel – rel yang mati, dan yang lebih menggembirakan lagi adalah pembangunan rel kereta di wilayah luar jawa dan sumatera. Harapannya adalah tentu untuk mewujudkan moda transportasi massal yang hasilnya akan mengurangi kemacetan di jalan raya dan mewujudkan sila ke 5, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kita sebagai masyarakat tentu harus mendukung upaya – upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan menggunakan jasa kereta api, mentaati peraturan dan ikut menjaga fasilitas yang ada. Vandalisme yang terjadi di Depo Lebak Bulus , Jakarta Selatan kemarin (25 September 2019), kecelakaan – kecelakaan karena menerobos palang pintu kereta menjadi catatan bahwa masih ada sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab dan kurang sadar dalam memaknai sebuah kewajiban bersama di republik ini.
Selamat hari Kereta Api Indonesia yang ke 73. Mari kita bersama – sama turut menjaga dan memajukan perkeretaapian Indonesia serta mendukung PT Kereta Api Indonesia untuk terus berinovasi yang ber-Wahana Daya Pertiwi.

 

Oleh Riduwan Prasetya Pengurus Formadiksi UM Koordinator Divisi Keilmuan dan Pengabdian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *