ARTI PENDIDIKAN BAGI CITRA

“Lulusan terbaik Wisuda ke-103 Universitas Negeri Malang, dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,95 diraih oleh Citra Handayani dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi.”

“Wah, Citra.. Selamat ya..”

“Citra congratulations, you deserved it!”

            Ucapan selamat datang dari teman-teman satu jurusan Citra yang duduk berdampingan dengannya. Ayahnya memeluk dan mencium kening Citra, sesekali beliau menyeka air mata harunya sebagai tanda kebanggaannya terhadap Citra.

Citra terkejut, hatinya meloncat kegirangan mendengar namanya dipanggil oleh pembawa acara sebagai lulusan terbaik se-Universitas Negeri Malang. Tak pernah Citra sangka sebelumnya, Ia akan berjalan di red carpet, dengan diiringi tepuk tangan riuh dari seluruh hadirin, naik ke panggung bersama orang tuanya, dan menerima penghargaan dari bapak rektor. Selama kuliah, Citra memang dikenal sebagai orang yang rajin, ulet, dan penuh semangat. Berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, tidak membuat tekad Citra untuk mengemban pendidikan menciut. Ia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah yakni Bidikmisi selama 8 semester.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang servis sepeda dan ibunya yang berjualan kue keliling kampung menjadi penyemangat bagi dirinya untuk terus belajar. Tidak ada rasa minder dalam diri Citra, yang ada hanya kemauan dan semangat untuk terus belajar. Ia bahkan sering menjadi perwakilan fakultas atau universitas dalam beberapa perlombaan nasional, seperti debat, karya tulis ilmiah, maupun program kreativitas mahasiswa. Citra mampu menjadi sosok inspiratif bagi teman-temannya.

Dia bahkan tidak malu atau minder, untuk menambah uang bulanannya Citra juga berjualan beberapa kue dengan resep yang ia dapat dari ibunya. Ia titipkan dagangannya di kantin. Sekali waktu ia jajakan keliling kelas kepada teman-temannya. Kalaupun ia ingin bekerja, tidak perlu susah mencari. Perusahaan pasti akan menawarkan pekerjaan pada Citra. Tapi nyatanya, bukan itu impian Citra.

“Pak, Bu. Citra pengen buka usaha deh.”

“Kenapa nggak kerja aja, Cit? Posisi akuntan banyak lo yang cari. Dengan prestasi kamu waktu kuliah, bapak juga yakin kamu akan diterima di perusahaan manapun.”

“Tapi pak, sebesar-besarnya gaji yang kita dapat bekerja, lebih enak kalau dapat penghasilan dari usaha sendiri.”

“Emang kamu mau usaha apa, nduk?”

“Citra mau buka usaha café kecil-kecilan dulu, bu. Dari resep kue ibu nanti Citra modifikasi jadi makanan jaman sekarang. Ditambah resep-resep camilan dan minuman popular yang Citra dapat dari pelatihan kewirausahaan waktu kuliah.”

“Ya sudah, nduk. Bapak sama ibu percaya sama kamu dan akan selalu dukung apapun yang kamu lakukan. Selama itu baik dan membuat kamu seneng.”

“Alhamdulillah, terima kasih ya pak, bu. Terima kasih sudah selalu dukung Citra. Citra janji bakal buat kalian bahagia,” ucap Citra seraya memeluk kedua orang tuanya.

Citra memulai usahanya dengan mengolah resep kue milik ibunya. Ia pun mulai memodifikasi kue-kue tradisional dengan konsep yang lebih modern dan diminati oleh kaum milenial. Ia juga mulai membuat minuman-minuman seperti Thai Tea, Milkshake, dan minuman lainnya. Citra juga mulai membuat anggaran modal yang diperlukan untuk usahanya ini dengan sangat hati-hati dan teliti seperti yang ia dapatkan semasa kuliah. Mencari lokasi yang sesuai, property, furniture untuk kebutuhan cafe, serta mencari tenaga kerja.

Citra mengajak kedua teman kuliahnya yang masih belum bekerja, bergabung dalam bisnisnya ini.  Modal yang ia dapat berasal dari tabungan simpanan hadiah dari lomba-lomba yang sering ia ikuti. Selama 3 bulan mempersiapkan segala sesuatunya, Citra berhasil mendirikan café miliknya sendiri. Ada kebanggan dan kepuasan tersendiri dalam diri Citra. Tapi tentu saja, di balik kesuksesannya ada saja orang-orang yang mencibir dan menghujat Citra, seakan mereka tahu segala sesuatu tentang hidup Citra.

“Lo Citra, tante kira sekarang udah kerja di perusahaan luar negeri. Ternyata, cuma jadi pengusaha café kecil ya. Terus gelar kamu, IPK kamu, sertifikat lulusan terbaik kamu mau dikemanain? Si Dinda anak tante, nggak banyak omong waktu kuliah. Tapi sekarang dia udah kerja di PT KAI bagian keuangan. Bangga tante punya anak kayak dia,” cibir salah satu tetangga Citra.

“Alhamdulillah tante, Citra ikut seneng dengarnya. Titip salam untuk Dinda, semoga sukses selalu ya tante.” Citra menjawabnya dengan senyum manis.

“Cit, jadi entrepreneur kamu sekarang? Aku kira kamu kerja jadi pegawai bank, lo.”

“Hehe iya, Fin. Lagi pengen punya usaha sendiri aja,” jawab Citra sambil membuat pesanan milik temannya, Fina yang sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan property ternama di Malang.

Malam semakin larut, jalanan juga sudah mulai lengang. Jam dinding café sudah mulai menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya café tutup. Citra dan kedua temannya, Ical dan Risa mulai membersihkan café kecil mereka, bersiap untuk pulang.

“Cit..” panggil Ical.

“Iya, cal? Udah bersih – bersihnya?

“Udah kok. Aku juga penasaran sih.”

“Tentang?”

“Kenapa kamu nggak kerja di perusahaan aja? Gajinya tentu lebih besar dari penghasilan di café ini. Capeknya luar biasa, untungnya nggak seberapa. Perusahaan juga nggak akan ada yang nolak kamu, Cit.”

“Aku sependapat deh sama Ical, Cit. Kenapa nggak coba ngelamar kerja dulu? Kamu potensial banget lo padahal.”

“Ris, Cal. Sebelumnya aku mau tanya deh. Kalian waktu itu kuliah buat apa sih? Kalian ngejar pendidikan tinggi itu buat apa?”

“Ya buat ngejar gelar lah, Cit. Biar gampang pas cari kerja.”

“Iya, Cit. Lagian jaman sekarang pekerjaan mana yang nggak butuh gelar?”

“Nah, itu persepsi salah dari kebanyakan orang-orang. Pendidikan itu nggak cuma ngejar akademik aja. Nggak cuma ngejar pintar, dapat gelar. Percuma juga kita pintar, berpendidikan tapi ilmunya cuma untuk kita konsumsi sendiri, nggak bermanfaat untuk orang lain. Terus setelah dapat gelar kita dijamin gitu akan dapat pekerjaan yang enak juga? Justru dari gelar itu saingan kita untuk dapat kerjaan juga lebih banyak. Dan tujuanku kuliah waktu itu, bukan untuk mengejar nama, gelar atau jabatan tinggi. Yang terpenting untuk aku adalah bagaimana aku bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dengan pendidikan tinggi yang aku punya ini, dan ini adalah salah satu jalanku mewujudkan tujuanku.”

“Cit, ternyata Lulusan Terbaik untuk kamu bukan cuma dinilai dari IPK-mu. Tapi memang kamu layak dapetin ini. Aku salut sama kamu, Cit. Makasih juga ya, udah bantu aku sama Risa dapat pekerjaan ini. Semoga usaha kamu bisa lancar selalu ya, Cit.”

“Eh? Usaha aku? Usaha kita, Cal. Udah yuk, udah malam. Ayo pulang.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *