Bersama, di Hari Fitri yang Bermakna

Bersama, di Hari Fitri yang Bermakna

Oleh: Ayu Anggraeni Wulansari

Duk, duk, duk. Bunyi beduk surau sudah berbunyi, menandakan matahari sudah mulai pergi sejenak untuk menyiapkan esok hari. Kala itu, suara burung bergantian terbang kembali menuju ranting pohonnya. Daun-daun di jalanan menyingkir diterpa angin senja yang dingin.

Aku pun bergegas, membawa buku kecilku untuk melanjutkan catatan kisah setiap waktu senjaku. Di tempat tenang ini aku pasti akan menuliskan satu kalimat kisah atau pintaku, sebelum aku mengambil air wudu untuk menapakkan kakiku menuju surau kecil di tengah desaku.

“Nak, ayo segera ambil wudu dan batalkan dulu puasamu!” Ibu menghampiriku.

“Baik, Ibu,” aku pun menjawab.

Seperti biasa, Ibu sudah membuatkan beberapa gelas minuman hangat di meja sebelah bakul yang berisikan nasi. Aku berjalan menuju tempat tersebut. Pasti hal pertama yang aku lakukan adalah melihat dan menghitung ada berapa gelas minuman di meja itu.

“Satu, dua, tiga, empat,” aku bergumam.

“Ayo Nak, sudah membatalkan puasanya? Ibu berangkat dulu ya. Nanti Fina nyusul sama Kak Faiza,” Ibu memanggil dari depan.

Aku segera mengambil segelas teh hangat dan meminum beberapa tegukkan untuk membatalkan puasaku hari ini. Segeralah aku bergegas mengambil wudu dan memakai mukenaku.

Bruk, bluk….

“Ada apa, Fin?” Kakak datang dan membuka pintu depan.

“Kak Faiza, sudah pulang? Tidak apa-apa Kak, buku Fina jatuh,” aku menjawab sembari aku mengambil buku yang jatuh tersebut.

“Oke Fina. Lain kali hati-hati ya. Aku mau minum dan ambil wudu dulu, Fina duluan saja ke suraunya,” Kak Faiza berkata sambil mengelus kepalaku.

“Iya Kak. Fina berangkat dahulu,” menatap Kak Faiza sambil tersenyum.

Aku adalah Fina, anak yang berusia 10 tahun. Aku terbiasa hidup bersama ibuku dan kakak perempuanku. Tinggal di sebuah desa yang damai nan asri. Tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam hidupku selama 10 tahun ini. Entah kenapa setiap Bulan Ramadan, ada hal yang berbeda. Ayah, beliau adalah sosok yang dinantikan saat bulan Ramadan ini hadir. Kita tinggal dalam ruang yang berbeda.

Esok hari adalah hari terakhir di Bulan Suci Ramadan tahun ini. Sepertinya buku kecilku sudah penuh tergoreskan catatan kisah dan pintaku dalam bulan Ramadan tahun ini. Pagi itu kita bertiga berada di rumah semuanya. Ibu seperti biasa, dengan kesibukannya menjahit baju. Kakakku hari ini libur kerja, sedangkan aku libur sekolah.

“Fina?” Kakak memanggil di depan kelambu.

“Iya Kak Faiza, ada apa?” aku menoleh ke arah Kak Faiza.

“Kemarilah, aku tunjukkan sesuatu untukmu,” menjawab Fina.

Aku pun beranjak dari kursi rotan yang berada di samping rak televisi di rumahku.

“Lihatlah pohon jambu itu. Kamu suka buah jambu itu kan?” tanya Kak Faiza.

“Iya Kak. Jambu itu kan manis. Manis sekali, tetapi ketika aku mau makan aku suka pilih-pilih,” jawab aku.

“Nah, pilih-pilih. Biar bijinya tidak kemakan kan ya, Fin?” sahut Kak Faiza.

“Iya Kak, benar,” aku menjawab sembari membuka-buka buku kecilku.

“Fin, Kak Faiza boleh tanya?”

“Apa, Kak? Boleh,”

“Apa saja yang kamu tulis di buku ini, Fin?”

“Hmm,” sambil mengehela napas dan membuka cepat buku kecilku.

“Ayo, apa Fin?” Kak Faiza bertanya sambil menghadap ke arahku.

“Banyak, Kak Faiza. Aku suka menulis satu kalimat dari pengalamanku hari ini ataupun satu pintaku hari ini,” dengan tersenyum aku menjawab.

“Kiranya nampak sudah banyak kamu menulis di buku kecilmu itu, Fin,” Kak Faiza berusaha mengambil buku kecilku.

“Jangan, Kak. Ada rahasianya. Sustt, nanti ketahuan Ibu,” dengan suara pelan aku mengelak memberikan buku kecilku.

“Fina Fina, sudah main rahaisa sama Kakak dan Ibu ya,” melihatku sembari tersenyum.

“Oiya, Kak. Ada satu pintaku yang benar-benar aku inginkan,”

Bruk… Bruk…

Ada suara dari pintu belakang. Kakakku menoleh ke belakang dan seketika aku berhenti berbincang-bincang bersama kakakku. Ibuku yang sedang menjahit baju di ruangannya pun juga beranjak keluar.

“Mendengar suara kah, Nak?” Ibu menoleh ke arah kita.

“Iya, Bu. Seperti dari pintu belakang,” Kak Faiza menjawab.

            Ibu berjalan ke belakang untuk mengecek suara apa yang muncul. Setelah Ibu buka, ternyata tidak ada seorang yang berada di sana. Bahkan si Meow namanya, kucing kesayangan Kak Faiza yang biasa bermain di pintu belakang, tidak ada.

“Tidak ada apa-apa kok, Nak. Lanjutkan percakan kalian. Ibu ke ruang jahit dulu ya,” Ibu berkata sambil berjalan dari arah belakang.

“Baik, Bu. Syukurlah,” Kak Faiza menjawab.

“Ayo Fin, kita duduk di kursi itu,” sembari menggandeng tanganku.

“Oke, Kak,” aku membalikkan badanku.

Tok, tok, tok…

            Baru saja kita berdua duduk di kursi. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari arah depan. Aku dan kakakku seketika melihat ke arah pintu. Kakakku beranjak dari tempat duduknya dan lekas membukakan pintu.

“Ayah?” sontak Kak Faiza berkata dengan keras sambil membuka pintu itu.

            Ibu mendengar suara Kak Faiza, lalu menghampiriku yang duduk di kursi.

“Ada siapa, Nak?” Ibu bertanya kepadaku.

“Tidak tahu, Bu,” dengan polos aku menjawab.

“Ayah, pulang, Bu.” Kak Faiza berkata sambil memeluk sosok yang ada di depannya.

“Ayo, Nak,” Ibu menggandengku untuk berjalan ke pintu depan.

“Assalamualaikum?” dengan wajah tersenyum sosok gagah itu mengucapkan salam.

“Waalaikumsalam,” kami menjawab, Ibu dengan mata yang berkaca-kaca, kakak masih dalam pelukannya, sedangkan aku sembari diam dan berpikir.

“Kalian sehat-sehat, kan? Nak Fina sudah besar,” tanya Ayah.

“Ayah?” aku berkata dengan polosnya.

“Ayo masuk ke dalam.” Ibu mengajak dengan tersenyum.

            Fina dan ayahnya sama sekali belum pernah bertemu. Selama 10 tahun Ayah tidak pernah pulang ke rumahnya, karena tuntutan pekerjaan yang harus dijalani dengan kontrak 10 tahun. Fina hanya melihat foto sosok ayahnya setiap pagi di ruang keluarga. Jadi, pantas jika Fina yang berusia 10 tahun, masih canggung ketika bertemu ayahnya. Satu pinta yang selalu ia tuliskan dan titujukan kepada-Nya adalah bertemu dengan ayahnya serta dapat merasakan indahnya kebersamaan bersama orang terkasihnya, Ayah, Ibu, dan Kak Faiza. Akhirnya, mereka saling bertukar kata satu sama lain. Tepat esok adalah Hari Raya Idul Fitri, hari di mana kebersamaan akan dinantikan. Ternyata ada sebuah makna yang telah ditemukan. Kebersamaan yang dahulu pernah terasingkan. Kini, hadirlah kebersamaan yang telah dirindukan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Selamat merayakan hari lebaran, hari yang penuh makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *