Dengan Berani Mencoba, Mengantarkan Arifah Sang Mahasiswa Bidikmisi UNS Menggapai Mimpinya

Dalam rangka mendukung terwujudnya hubungan baik dengan organisasi Bidikmisi di perguruan tinggi lain, Formadiksi UM memiliki program kerja “Bidikmisi Menginspirasi” yang merupakan cerita inspiratif dari Mahasiswa Bidikmisi di perguruan tinggi lain.

Dalam kesempatan kali ini, pihak Formadiksi UM berhasil mewawancarai Arifah Eviyanti salah satu finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat Nasional program Diploma perwakilan dari Universitas Sebelas Maret (UNS).

Mahasiswi jurusan Agribisnis ini mengaku ingin mewujudkan salah satu mimpinya yaitu ingin menjadi finalis Mawapres program Diploma tingkat Nasional, karena perwakilan Mawapres tingkat Nasional dari UNS program Diploma terakhir tampil pada tahun 2014 sehingga ia tertantang untuk membanggakan almamaternya di ajang bergengsi tersebut.

“Awal kuliah saya mulai menuliskan beberapa mimpi-mimpi saya beserta target yang harus saya capai dalam tiap semester. Salah satunya di semester enam saya ingin sekali menjadi finalis Mawapres tingkat Nasional program Diploma,” ucap Arifah.

Ia pun menceritakan perihal proses yang ia alami dalam perjalanannya menjadi Mawapres.

“Seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar banyak dari organisasi, dan seminar apa pun yang saya ikuti. Saya seperti mencari jati diri dengan mengikuti organisasi BEMFA Pertanian, lumayanlah di situ program kerjanya banyak sekali jadi agak susah buat bagi waktu antara organisasi dan target prestasi yang harus saya raih,” jelasnya.

Di sela-sela kesibukannya dalam berorganisasi, Arifah tetap mengikuti berbagai lomba guna menunjang prestasinya. “Awalnya susah buat lolos, kegagalan demi kegagalan saya alami tetapi saya coba terus menerus dan akhirnya alhamdulilah ada yang lolos. Mulai dari situ saya banyak mengikuti lomba-lomba dan menjadi lebih tahu seperti apa persaingan di luar sana,” ungkap Arifah.

Arifah menyampaikan bahwa kita harus bertanggung jawab terhadap komitmen, “Sulit memang bagi waktu antara berorganisasi, lomba, dan perkuliahan, tapi ya udah jadi tanggung jawab kita terhadap komitmen yang udah kita buat.”

Arifah menyatakan bahwa semester tiga berakhir dengan sedikit prestasi. Saat itu juga sudah muncul panduan Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2018, salah satu syaratnya adalah diikuti oleh maksimal mahasiswa semester 4 pada program Diploma. Ia mengaku kaget karena belum ada persiapan apapun untuk mengikuti Pilmapres tersebut.

“Ada sedikit rasa penyesalan kenapa tidak dari dulu saya kejar, tapi mau tidak mau ya saya harus ikut sambil ngejar banyak lomba dan saya juga sadar dengan prestasi saya yang sedikit saya tidak berharap banyak untuk menjadi finalis Mawapres tingkat Nasional.”

Mahasiswi UNS ini mengikuti berbagai seleksi untuk menjadi finalis dalam Pilmapres 2018 dengan mengusulkan ide untuk project yang diajukan dan tentunya melaui tahap yang sangat panjang, 4 kali mengganti judul hingga akhirnya tercetuslah judul “Fungisida Nabati”.

“Awalnya saya tidak yakin akan lolos karena saya merasa teman saya yang juga ikut seleksi memiliki project yang bagus, tetapi ternyata Allah berkehendak lain. Pada saat pengumuman Pilmapres 2018 alhamdulilah saya keluar sebagai juara sekaligus mewakili Universitas Negeri Sebelas Maret dalam pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat Nasional,” Arifah pun menambahkan.

Perjuangan mahasiswa kelahiran Boyolali ini masih berlanjut, seminggu setelah Pilmapres UNS, ia mengalami kecelakaan saat perjalanan ke kampus. Pada saat itu, ia ditugaskan untuk membuat video dan Karya Tulis Ilmiah untuk persiapan Pilmapres tingkat Nasional sekaligus ia juga masih mengikuti beberapa lomba. “Sempat merasa down tapi saya harus melakukannya, pelan-pelan tapi pasti alhamdulilah saya bisa menyelesaikan semuanya”.

Arifah menitipkan pesan kepada seluruh mahasiswa Bidikmisi di seluruh Indonesia bahwa segala sesuatu tidak ada yang mustahil, Allah sudah memberi jalan kepada kita, tinggal kita yang mau membuka jalan itu atau tidak.

“Saya sempat tidak percaya kalau saya mendapatkan predikat juara Mawapres UNS, mapalagi berkesempatan menjadi finalis Pilmapres tingkat Nasional, dari situ saya berfikir bahwa ketidakmungkinan akan menjadi mungkin bila Allah sudah berkehendak, jadi berani mencoba dan jangan menuntut kesempurnaan dalam mengerjakan sesuatu, yang penting selesai. Karena tingkat kesempurnaan setiap orang berbeda-beda, done is better than perfect. Berani coba, lakukan, sisanya serahkan pada yang di atas.” (Dini Kurnia Sari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *