Intip Kisah Sang Juara PTQ RRI Kornus X Jawa Timur

Formadiksi UM News – Pekan Tilawatil Quran Radio Republik Indonesia (PTQ RRI) kembali digelar secara dalam jaringan (daring) setelah sempat ditiadakan di tahun 2020. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia setiap bulan Ramadan. Ada tiga cabang yang dilombakan pada PTQ RRI tahun 2021 ini, yakni tahfidz 15 juz, tausiah, dan tilawatil Quran. Pada Rabu (21/4/2021), salah satu mahasiswa penerima Bidikmisi Universitas Negeri Malang (UM), Jurusan Sastra Arab angkatan 2017, Irma Nur Fiani, menjadi perwakilan RRI Surabaya pada PTQ RRI Kornus X Jawa Timur. Bersaing dengan beberapa perwakilan dari RRI Malang, RRI Madiun, RRI Jember, dan RRI Sumenep, Irma berhasil menyabet juara 1 di bidang tausiah.

Kepada Reporter Formadiksi UM News, Irma mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya setelah berhasil meraih juara 1 sekaligus menjadi perwakilan RRI Jawa Timur untuk tingkat nasional yang akan dilaksanakan di Palembang awal Mei mendatang. Dalam sesi wawancara bersama Reporter Formadiksi UM News pada Sabtu (24/4/2021), Irma membagikan cerita perjuangan dan pengalamannya mengikuti PTQ RRI 2021. Simak kisahnya dalam liputan berikut ini!

Kali ketiga mengikuti PTQ RRI bidang tausiah

Tahun ini merupakan tahun ketiga saya mengikuti PTQ RRI ini. Pertama di tahun 2018, saya mengikuti PTQ RRI Malang dan berhasil meraih juara 2 bidang tausiah. Kedua, di tahun 2019 saya ikut lagi di PTQ RRI Malang, tetapi sayangnya tidak berhasil mendapatkan juara. Di tahun 2020, PTQ RRI ditiadakan karena pandemi. Tahun ini kembali diadakan secara daring, tetapi saya memutuskan untuk berpindah delegasi dan mengikuti audisi di PTQ RRI Surabaya untuk mengobati kekecewaan saya. Selain itu, karena banyak adik-adik mahasiswa UM khususnya pembinaan Syarhil Quran yang ikut audisi di PTQ RRI Malang, sehingga saya tidak enak jika harus melawan adik-adik saya sendiri. Jadi, sebelum akhirnya berhasil meraih Juara I bidang Tausiah PTQ RRI Kornus X Jawa Timur, saya gagal dulu di tahun 2019.

Berkecimpung di bidang tausiah sejak kelas 3 MI

Ketika saya kecil dulu, ketika kelas 3 madrasah ibtidaiyah (MI) saya sudah sering ikut lomba-lomba Pilihan Dai Cilik (Pildacil), pidato bahasa Indonesia, dan sejenisnya. Kemudian berlanjut di madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA). Nah, di MA ini saya mulai mengenal yang namanya Syarhil Quran dan berkelanjutan hingga ke universitas.

Memilih bidang tausiah karena ingin berprestasi di bidang lain

Pada tahun 2018, saya mewakili UM di ajang Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Regional (MTQMR) di Jember pada bidang Musabaqah Syarhil Quran (MSQ) dan mendapat juara 1. Ketika MSQ ini saya mendapat bagian sebagai pensyarah (pembicara). Di 2019 juga berkesempatan mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) di Aceh pada cabang MSQ dan mendapat juara 1. Pada bidang MSQ di ajang MTQMN saya sudah mendapat juara 1, berarti saya harus berprestasi lagi dengan potensi yang saya miliki di bidang yang lain. Saya kangen, rindu dengan yang namanya tausiah. Kemarin, akhir tahun 2020, saya ikut lomba Pilihan Dai Muda se-Indonesia yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin dan alhamdulillah mendapat juara 1. Kemudian tahun ini saya ikut PTQ RRI meski dilaksanakan secara daring.

Pernah mencicipi berbagai kegagalan dan kekecewaan

Pada tahun 2019, kali kedua saya mengikuti PTQ RRI Malang tetapi tidak menjadi juara. Ketika saya gagal di tahun 2019 ini, saya langsung punya krentek (keinginan) untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pernah juga saya mengikuti lomba mewakili Kabupaten Blitar (daerah asal saya) di Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) MTs se-Jawa Timur dan nilai saya menempati urutan ke-31 dari total peserta 33.

Keluarga menjadi faktor pendukung utama

Waktu gagal itu saya langsung down. Kemudian dibujuklah saya oleh kakak saya, bapak saya, dan orang-orang di rumah. Mereka bilang pelan-pelan, “Nak, ayo, Nak. Kamu bisa, harus bisa bangkit dari kegagalan ini.”. Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah cabang, saya ingin belajar tilawah. Orang tua saya selalu mendukung apa yang saya lakukan selama itu tidak menentang ajaran agama Islam. Kemudian oleh bapak diajak untuk les privat ke saudara saya. Namun, itu hanya bertahan satu bulan karena saya merasa itu bukan passion saya.

Kehilangan salah satu trofi ketika perjalanan pulang

Ketika saya pulang, saya membawa dua trofi, yakni Juara I PTQ RRI Surabaya dan Juara I PTQ RRI Kornus X Jawa Timur. Saya letakkan di dua tas, satu tas berisi buku dan trofi, satu tas lagi berisi jaket dan trofi. Ketika sampai di Stasiun Gubeng, ternyata tas yang berisi trofi dan jaket untuk seragam ke Palembang itu hilang diambil orang, tetapi saya tidak sadar. Alhamdulillahnya uang pembinaan dan seragam batik untuk final ke Palembang masih aman. Nah, itu yang tidak akan pernah saya lupakan selama perjalanan kisah saya.

Tips tausiah masa kini

Seperti yang sudah pernah saya praktikkan, ketika menyampaikan pesan berjam-jam, misalnya di Tablig Akbar, nih. Biasanya minimal satu jam itu saya selingi selawat dan nyanyian. Selawat dan nyanyian yang kita bawakan bentuknya menyesuaikan tema sehingga dapat dimengerti banyak orang.

Wejangan sang juara

Jangan pernah menuntut dirimu sama dengan yang lainnya. Setiap orang punya potensi unggul di bidang yang berbeda-beda. Pahami potensi diri yang jarang dimiliki orang lain dan olah sebaik mungkin agar ia terarah. Libatkan Allah dalam setiap langkah kita, jangan berhenti berjalan sebelum sampai tujuan, dan jangan pernah lelah mengulang doa baik yang kita panjatkan.

Bidikmisi! Berprestasi Tiada Henti!

Reporter          : Della Fitriani

Editor              : Mufid Zahir Hilmy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *