Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati

 

Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

Karya: Senda Tiara Putri

 

“Pagi, Arumi!” Bintang menyapa temannya yang baru memasuki ruang kelas.

Hm, pagi.” Balas Arumi sekenanya.

“Lesu banget, deh. Kenapa? Belum sarapan? Atau begadang lagi?”

“Biasalah.”

Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan Arumi. Hal ini bukan pertama kalinya, ia melihat temannya memasuki kelas dengan kondisi seperti saat ini. Lesu, tidak bersemangat, bibir kering, dan jangan lupakan mata memerah sayunya. Sudah hampir menyerupai zombi.

“Kurang-kurangin begadangnya, itu mata udah persis panda.”

“Tugas banyak gimana mau tidur tenang?” Bintang berdecak mendengar jawaban Arumi.

“Ya makanya kalau ada tugas di-kerjain dari jauh-jauh hari. Jangan ditunda-tunda sampai numpuk di akhir! Lagian kamu kalau ada waktu senggang bukannya buat kerjain tugas atau istirahat, malah main game.”

Sejujurnya hampir setiap hari Bintang mengingatkan temannya untuk tidak sering begadang. Namun memang dasar Arumi keras kepala, susah sekali diingatkan. Arumi memang setiap hari begadang, entah untuk mengerjakan tugas ataupun hanya untuk bermain game. Seringkali dia baru mencium bantal selewat subuh.

“Aku main game kan juga buat hiburan. Capek nugas terus.” sahut Arumi

“Tapi porsi main game yang kamu lakukan lebih banyak dibandingkan porsi belajar. Kamu juga kalau udah main game pasti lupa segalanya. Lupa tugas, lupa makan, lupa istirahat.”

“Ck, iya-iya. Besok-besok nggak gitu lagi.” Bintang ber-decih mendengar jawaban Arumi.

“Dari kemarin bilangnya juga begitu, tapi tetap dilakuin. Kamu tuh emang nggak sayang sama badanmu ya? Kasian tau sering diajak begadang, waktu tidur cuma beberapa jam,  sering nggak dikasih sarapan juga, kan? Badan kamu itu udah lemes karena jatah istirahatnya berkurang, jangan ditambahi nggak kamu kasih bahan bakar buat aktivitas seharian.”

Bintang adalah seseorang yang sangat menjunjung tinggi kesehatan, terutama sejak pandemi melanda di hampir seluruh belahan bumi. Ia semakin rajin olahraga, makan  makanan sehat, mengusahakan tidur cukup setiap harinya dan ditambah dengan minum vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bintang tentunya ingin teman kesayangannya itu selalu sehat.

“Kamu sendiri tahu saat ini kita masih dalam masa pandemi, meskipun sudah mulai membaik bahkan kita bisa bersekolah tatap muka seperti sekarang. Namun, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh jadi salah satu hal yang utama saat ini. Kamu juga ingetkan bahwa daya tahan tubuh juga dipengaruhi oleh jam istirahat kita.” Arumi menghela nafas mendengar nasihat teman baiknya itu.

“Aku sudah terbiasa kaya gini, susah mau diubah. Lagian aku merasa sehat-sehat aja, kok. Nggak usah berlebihan, deh.”

Bintang merasa sangat gemas dengan temannya satu ini. Bebal sekali jika diberitahu. Baru saja Bintang akan menimpali Arumi, namun Bu Anita sudah memasuki kelas sehingga dia mengurungkan niatnya dan mempersiapkan diri untuk menerima materi.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Pagi, Bu!”

Pagi ini adalah jadwal pelajaran favorit Bintang, Fisika. Bu Anita mulai menjelaskan mengenai konsep pembentukan bayangan benda pada alat-alat optik. Beliau juga memberikan tanya jawab sederhana terkait materi yang mana apabila ada yang bisa menjawab akan memperoleh poin. Bintang tentu saja bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

“Apakah ada yang bisa menyebutkan alat-alat optik apa saja yang memanfaatkan lensa?” Bintang bergegas mengangkat tangannya.

“Silakan, Bintang.”

“Alat-alat optik yang memanfaatkan lensa dapat berupa kacamata, lup, mikroskop, teropong, dan kamera, Bu.”

“Nah, sudah tepat jawaban dari Bintang. Alat-alat optik tersebut berguna untuk membantu kita menangkap bayangan benda sehingga dapat tertangkap mata,” jelas Bu Anita.

Bu Anita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas menatap anak didiknya satu-persatu. Wajah-wajah antusias, grogi, takut, dan mengantuk. Bu Anita mengernyit mendapati salah seorang siswa yang terlihat berpangku tangan sambil berusaha menjaga matanya tetap terbuka.

“Arumi, silakan diulangi jawaban dari Bintang tadi!”

Arumi tersentak kaget kemudian memandang Bu Anita dan teman-teman sekelasnya dengan pandangan bingung. Jujur saja dia tidak begitu fokus mendengarkan penjelasan Bu Anita karena sangat mengantuk.

“Maaf, Bu, apakah bisa diulangi?”

“Ulangi jawaban Bintang barusan.”

Arumi kebingungan harus menjawab pertanyaan dari Bu Anita. Dia sedikit menoleh pada Bintang, berupaya mendapat bantuan. Namun Bintang juga tidak bisa membantu, hanya menatap temannya dengan bersalah.

“Maaf, saya tidak tahu, Bu.”

Setelah beberapa menit diam, Arumi menjawab pertanyaan Bu Anita dengan suara kecil. Bu Anita hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat  Arumi. Kemudian berjalan mendekati bangku tempat Arumi duduk.

“Kamu tidak mendengarkan penjelasan Ibu dari tadi. Sepertinya mengantuk sekali, tidur jam berapa semalam?”

“Jam 4 subuh, Bu.”

“Jam 4 subuh? Kamu ngapain sampai semaleman nggak tidur? Mengerjakan tugas?” Arumi terdiam.

“Arumi, jangan sering-sering begadang ya! Nggak bagus buat kesehatan kamu. Dampaknya buruk sekali dan salah satunya baru saja terjadi. Kamu mengantuk sehingga kehilangan fokus mengikuti pembelajaran. Nilai kamu akhir-akhir ini juga turun, lo. Belum lagi dampak ke kesehatan. Kamu sering pusing?”

“Iya, Bu.” Arumi mengangguk.

“Pola makan jadi tidak teratur?”

Arumi kembali mengangguk.

“Sering merasa lemas?”

Arumi lagi-lagi menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu beberapa efek ringan akibat kamu sering begadang. Kalau diteruskan, dalam jangka panjang bisa menyebabkan penyakit-penyakit serius seperti strok, serangan jantung, gagal jantung, hipertensi hingga diabetes. Kamu tentunya nggak akan mau kan memiliki salah satu penyakit tersebut?” Arumi menggeleng.

“Jadi usahakan jangan sering-sering begadang ya! Ini berlaku untuk kalian semua, bukan hanya Arumi.”

Bu Anita kembali berjalan ke depan kelas dan menatapi anak-anak didiknya. Melihat bahwa sepertinya Arumi bukan satu-satunya yang sering begadang. Terlihat dari beberapa siswa lain yang memiliki kantong mata tebal dan gelap.

“Saat ini kita masih terus harus waspada terhadap virus karena pandemi ini belum sepenuhnya berakhir. Jangan sampai karena kalian sering begadang sehingga daya tahan tubuh kalian menurun dan memberi celah virus atau bakteri penyakit masuk ke dalam tubuh kalian. Memang biasanya kalian begadang untuk apa?”

“Mengerjakan tugas, Bu.”

“Bermain game, Bu.”

“Menonton film, Bu.”

“Mengobrol dengan teman, Bu.”

Beberapa siswa mengutarakan pendapat mereka termasuk Bintang. Di sini Bintang berharap semoga Arumi dan teman-temannya yang lain dapat lebih memahami tentang pentingnya memperoleh waktu tidur yang baik.

“Apa ada yang bisa menjelaskan mengapa kurang tidur dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun?” Bintang segera mengangkat tangannya.

“Baik Bintang, silakan.”

“Berdasarkan sumber yang saya baca, saat kita tidur tubuh kita memproduksi protein Cytokines yang berfungsi untuk melawan virus dan bakteri penyakit yang masuk ke tubuh. Sehingga apabila kita kurang tidur, tubuh kita tidak dapat memproduksi protein tersebut sehingga menyebabkan turunnya daya tahan tubuh kita.” Bu Anita tersenyum mendengar jawaban Bintang.

“Betul sekali, jawaban dari Bintang sudah sangat jelas. Jadi kalian sekarang mengerti kan mengapa kita harus menjaga jam tidur kita dengan baik?”

“Mengerti, Bu.” sahut para siswa serentak.

“Apa ada yang ingin ditanyakan?” Arumi mengangkat tangannya.

“Silakan, Arumi.”

“Bu, saya mau bertanya. Apabila ada kasus seperti yang saya alami sekarang di mana saya sudah terbiasa untuk begadang atau tidur larut malam, bagaimana cara yang harus saya lakukan untuk memperbaiki jam tidur saya?”

“Pertanyaan yang bagus! Jika ingin memperbaiki jam tidur, maka jangan dilakukan secara mendadak! Tapi pelan-pelan dan bertahap. Semisal Arumi sering tidur jam 4 pagi, maka dimulai dengan mencoba tidur 30 menit lebih awal dari biasanya, jadi tidur jam setengah 4 pagi. Kemudian secara bertahap terus-menerus dilakukan hingga menemukan jam tidur yang tepat. Apakah bisa dipahami?”

“Bisa, Bu.”

“Nah, kemudian untuk meminimalisir efek dari kurang tidur dapat dilakukan dengan memperbanyak minum air putih, meningkatkan konsumsi buah dan sayur dan sering-sering berolahraga.” tambah Bu Anita.

TEEETTT!!!

“Baik, karena bel sudah berbunyi maka pembelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini. Terima kasih dan selamat siang!”

“Siang, Bu!”

Begitu Bu Anita keluar dari kelas, Bintang bergegas menghampiri Arumi. Teman-temannya yang lain juga mulai berhamburan keluar dari kelas menuju kantin untuk mengisi perut. Kini hanya tersisa segelintir siswa yang bertahan di dalam kelas, termasuk di antaranya Arumi dan Bintang.

“Udah dengar sendiri kan dari Bu Anita soal dampak buruknya begadang. Jadi kurang-kurangi ya begadangnya!” ujar Bintang.

“Iya, maaf nggak dengerin kamu dari dulu.”

Bintang tersenyum lebar mendengar penuturan teman baiknya itu.

“Ya sudah, yuk ke kantin! Kamu kan tadi belum sarapan.”

“Ayo, deh. Aku udah laper banget.”

Arumi dan Bintang berjalan keluar meninggalkan kelas. Hari ini Bintang merasa senang karena akhirnya teman baiknya mulai sadar akan pentingnya jam tidur yang baik. Dia juga berharap semoga Arumi benar-benar akan memperbaiki jam tidurnya sesuai dengan arahan Bu Anita tadi.

Di sisi lain, Arumi mulai memikirkan setiap perkataan Bu Anita di kelas tadi. Dalam hati dia berjanji pada dirinya sendiri akan mulai memperbaiki jam tidurnya. Dia tidak ingin jika salah satu penyakit-penyakit kronis yang disebutkan Bu Anita sampai hinggap di tubuhnya. Mengingat ada seorang tetangganya yang mengidap salah satu penyakit kronis tersebut dan seringkali keluar masuk rumah sakit hingga menjalani operasi yang menghabiskan uang berpuluhan juta. Belum lagi obat-obatan yang harus dikonsumsi setiap hari sepanjang sisa umurnya. Membayangkannya saja sudah membuat Arumi bergidik.

Ah, mungkin benar kata orang-orang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, karena mencegah sudah pasti mengobati tetapi mengobati sudah pasti terlambat menghindari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *