Lentera

Entah mengapa hari ini rasa malasku kambuh untuk keluar rumah, tapi mau bagaimana lagi hari ini adalah jadwal untuk mengambil ijazah di SMA. Entah karena terik yang begitu menyengat atau karena hal lain, yang jelas perasaanku merasa tidak enak untuk pergi.

“Bu, nanti siang saya izin mau mengambil ijazah”, sembari aku menatap Ibu dan seolah mengatakan bahwa sebenarnya aku tak ingin pergi.

Ibu tiba-tiba mengelus rambutku, yang mana aku merasakan kasih sayang mengalir dari tangannya menuju rambutku

“Iya nak, hati-hati ya. Bukannya nanti juga pendataan siapa saja yang sudah diterima di perguruan tinggi ?”

“Iya Bu, Astungkara ya Sari sudah diterima dengan jalur SBMPTN.”

“Iya Sar kita harus bersyukur, tetapi jangan lupa di depan nanti masih banyak yang akan kamu lewati.”

“Nggih Bu, siap,” aku dan Ibu larut dalam tawa bersama.

***

“Bu…Sari berangkat dulu ya, nanti kalau Bapak sudah pulang ngrumput sampaikan bahwa Sari pergi ya” tanganku tak lupa menjabat tangan Ibu serta mencium manis kening beliau.

“Iya nak hati-hati, nanti kalau sudah selesai cepat pulang ya,” Ibu membalas kecupan manisku dengan mendaratkan bibirnya pada keningku.

Mulai ku nyalakan motor matic ini dengan melepas perlahan rem ditangan dan menarik sedikit demi sedikit gasnya sembari melantunkan doa kepada-Nya. Perasaanku merasa begitu kacau seperti ada yang berbisik di telinga “Jangan teruskan perjalananmu, berhentilah!”. Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja, ku teruskan perjalananku dengan kecepatan sedang. Ketika aku hendak belok ke kanan dengan lampu sen yang sudah ku nyalakan, tiba-tiba ada suara motor yang keras. Suara itu seperti suara motor yang ada di film-film yang body-nya sudah dimodifikasi, biasanya dikendarai oleh orang ugal-ugalan.

“Broooookkkkkkk,” suara motorku yang terjatuh setelah tertabrak orang yang tidak dikenal tadi. Aku tak sempat melihat siapa yang telah menabrakku, saat itu mataku semakin terpejam dengan rasa sakit di perut yang tak tertahankan. Aku hanya mendengar suara motor tadi semakin menjauh dan setelah itu aku tak ingat lagi.

***

“Ya ampun Sari kamu kenapa? Bangunlah nak, Ibu tak sanggup melihat kamu terbaring tak berdaya seperti ini,” aku mendengar suara Ibu yang menangis di sebelahku, tangisan yang menggambarkan bahwa ada rasa takut untuk kehilangan yang amat besar. Aku hanya dapat terbaring lemas dan masih dengan rasa yang begitu sakit di perut, rasa sakit ini adalah rasa tersakit yang pernah aku rasakan selama ini.

Ku pandangi juga Bapak yang ada tepat disebelah Ibu, beliau hanya dapat terdiam dan sesekali mengusap air mata yang berusaha keluar dari indra penglihatannnya meskipun sudah ditahan dengan sekuat tenaga. Sungguh aku benci situasi ini, aku sangat takut. Bukannya aku takut meninggalkan dunia ini, aku hanya takut kehilangan mereka sebagai hartaku yang paling berharga.

“Anak Bapak dan Ibu memang tidak ada luka luar yang berat, namun sepertinya ada luka dalam karena Sari merasakan kesakitan di sekitar perut. Kondisinya juga kritis, dia membutuhkan donor darah meskipun tidak ada luka luar. Apakah Bapak dan Ibu setuju jika kami melakukan tindakan rontgen, agar dapat dipastikan ada tidaknya luka dalam,” suara dokter yang samar terdengar ketika aku mau di masukkan kedalam ruangan.

“Iya Dokter, silahkan lakukan yang terbaik untuk anak kami,” Ibu langsung saja menjawab tanpa bertanya kepada Bapak.

Aku lewati dinginnya malam ini di rumah sakit, dengan rasa sakit yang tak kunjung membaik hanya sedikit tersamarkan ketika infusku disutik semacam cairan, mungkin itu obat penenang. Malam yang begitu mencekam tanpa ditemani Ibu maupun Bapak karena aku ditempatkan di ruang intensif. Sesekali aku hanya dapat melihat Ibu ketika waktunya aku makan, itu saja hanya dengan waktu yang terbatas. Memang ruangan ini telah dikondisikan agar tidak terganggu oleh hiruk pikuk dan keramaian luar, ruangan yang memang digunakan untuk orang-orang yang cukup kritis.

“Tuhan…. jika engkau masih memberikan hamba kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, hamba tak akan sia-siakan kesempatan itu. Namun jika memang takdir hamba hanya sampai disini, ampunilah semua dosa yang pernah hamba lakukan terutama dosa kepada kedua orang tua hamba,” dalam hati aku terus berdoa dengan linangan air mata membasahi pipi.

Ternyata kondisi yang kritis mengarahkanku terhadap pikiran antara hidup atau mati, penyesalan-penyesalan atas apa yang pernah terjadi, dan yang paling menjadikan hati terasa ngilu adalah perasaan tidak berguna karena belum bisa membahagiakan kedua orang tua.

Hampir satu bulan aku dirawat di rumah sakit, karena memang memulihkan perut yang mengalami memar atau luka dalam tidak mudah. Setelah membaik akupun dibolehkan pulang oleh dokter. Aku masih bersyukur karena hasil rontgen hanya menunjukkan bahwa perutku saja yang luka dan tidak ada patah pada tulang atau yang lainnya. Tapi meskipun begitu aku tahu jika biaya rumah sakitku menghabiskan uang yang tidak sedikit, bahkan Bapak dan Ibu sampai menjual beberapa sapinya. Apalagi orang yang menabrakku kabur begitu saja tanpa meninggalkan tanggung jawab.

***

Beberapa minggu kemudian terlintas dibenakku, “Bagaimana dengan biaya kuliahnya ya, Bapak dan Ibu kan sudah mengeluarkan uang banyak untuk membiayai rumah sakit kemarin”.

“Bu… apa aku tidak usah kuliah saja, kita kan sedang mengalami krisis keuangan?”

“Kamu harus tetap kuliah nak, jangan pikirkan biaya. Pasti ada jalan, Bapak dan Ibu tidak memiliki harta untuk kami berikan hanya ilmu yang akan menjadi bekalmu nanti.”

“Oh iya, aku kan sudah daftar Bidikmisi Bu, semoga diterima dan dapat meringakan beban kita ya. Lusa sudah ada pengumumannya Bu,” aku memeluk tubuh kurus Ibu sembari menangis dipelukannya.

***

Hari ini adalah pengumuman penerima bidikmisi secara online, bergegas aku membuka ponsel yang jarang aku sentuh itu jika tidak ada perlunya.

“Ibu… Bapak…. aku diterima bidikmisi”, teriakku mengabarkan rasa bahagia yang tiada tara.

“Mana nak, Ibu lihat…”. “Bapak juga….”

“Selamat sayang, ini memang jalan yang diberikan Tuhan kepadamu, gapai mimpimu hingga menjadi kenyataan. Doa Ibu dan Bapak selalu menyertai disetiap langkahmu.”

Sejak saat itu aku percaya bahwa kekuatan doa memang benar adanya, terutama doa orang tua. Aku telah melewati satu situasi yang mana seakan duniaku begitu gelap, semua cahaya padam namun aku tak menyerah, aku cari lentera untuk menerangi langkahku, aku ambil lentera itu dan tak akan aku sia-siakan. Selama kuliah aku bekerja sampingan sebagai guru les dan mengasah kemampuanku dalam mengajar. Aku akan menuntut ilmu dan mengamalkannya kembali.

Rina Sari

FIP/PGSD 2017

(Juara 3 Lomba Cipta Cerpen Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *