Metode Self Healing sebagai Upaya Penurunan Kecemasan pada Somatic Symptom Disorder Di Tengah Pandemi Covid-19

Metode Self Healing sebagai Upaya Penurunan Kecemasan pada Somatic Symptom Disorder Di Tengah Pandemi Covid-19

 

Coronavirus disease (Covid-19) yang sekarang telah dinisbatkan sebagai bencana non-alam oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI), yang mana juga telah menggemparkan dunia dengan merebaknya virus baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. (Dan) sekarang dikenal dengan istilah yang begitu mencuat dengan sebutan pandemi Covid-19 yang dihadapi hampir di seluruh lapisan negara belahan dunia, termasuk juga di Indonesia. (Yang) mana sampai saat ini berdasarkan data yang ada telah mencapai angka 13.112 per tanggal 8/5/2020 pasien yang dinyatakan positif Covid-19 di Indonesia. Di samping itu dampak negatif dari pandemi ini juga dapat memengaruhi masyarakat yang terdampak dalam berbagai bidang yaitu dalam bidang ekonomi, sosial, fisik, dan juga kesehatan. (Sehingga) dari pandemi Covid-19 ini diperlukan adanya inovasi sekaligus kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat untuk dapat memutus rantai penyebaran Covid-19 dan memulihkan kembali di berbagai bidang yang terdampak.

Untuk saat ini pemerintah dan tenaga medis yang berjuang sudah turun tangan dalam mengambil sikap maupun tindakan yaitu pemerintah mengeluarkan himbauan untuk melakukan social distancing maupun PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai upaya pencegahan atau pemutusan rantai penyebaran Covid-19. (Sehingga) banyak sekolah-sekolah yang mengalihkan kegiatan pembelajaran ke dalam sistem dalam jaringan (daring) atau secara online, tidak terkecuali juga perguruan tinggi. Namun, hal ini justru menjadi penyebab atau bahkan menimbulkan permasalahan dari segi psikologis mental, maupun tingkat kecemasan yang dihadapi oleh seluruh peserta didik dalam belajar dengan sistem daring. (Yang) mana dari fakta lapangan mayoritas pendidik hanya memberikan tugas saja kepada peserta didik.

Dari hal tersebut, kita dapat menggali lebih dalam lagi dampak dari pandemi Covid-19 ini dari segi kesehatan dan juga psikologi mental yang tengah dihadapi oleh peserta didik di berbagai jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. (Sehingga) akibat kecemasan dari pandemi ini dapat diminimalisasi dengan adanya solusi menggunakan “Metode Self Healing sebagai Upaya Penurunan Kecemasan pada Somatic Symptom Disorder di Tengah Pandemi Covid-19”.

Di sini, Somatic Symptom Disorder atau dalam istilah dunia  psikologis juga dikenal dengan istilah psikosomatis yang mana berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche yang artinya jiwa, dan kata soma yang artinya badan. Somatic Symptom Disorder adalah penyakit yang melibatkan psikis dan tubuh, di mana psikis atau mental memengaruhi tubuh sehingga penyakit muncul dan menjadi bertambah parah. Istilah gangguan psikosomatis digunakan untuk menyatakan keluhan fisik yang disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti stres dan juga rasa cemas. Somatic Symptom Disorder merupakan kondisi disfungsi atau kerusakan struktural pada organ tubuh melalui aktivasi yang tidak tepat dari sistem saraf otonom (saraf yang tidak dapat dikendalikan atau tidak sadar) dan kelenjar sekresi internal (kelenjar hormon). Gejala psikosomatik muncul sebagai penyerta fisiologis dari keadaan emosional seseorang. Dalam keadaan marah, misalnya, hormon stres akan muncul dan menyebabkan tekanan darah orang yang marah cenderung meningkat dan denyut nadi serta pernapasannya menjadi cepat. Ketika kemarahan berlalu, proses fisiologis yang meningkat biasanya mereda. Namun, jika orang tersebut memiliki agresi terhambat yang terus menerus (kemarahan kronis), yang tidak dapat ia ungkapkan secara terbuka, keadaan emosi tetap tidak berubah, meskipun tidak diungkapkan dalam perilaku, dan gejala fisiologis yang terkait dengan keadaan marah tetap ada. Seiring berjalannya waktu, orang tersebut menjadi sadar akan disfungsi fisiologis. Sangat sering ia mengembangkan kekhawatiran atas tanda-tanda dan gejala fisik yang dihasilkan, tetapi ia tetap menyangkal atau tidak menyadari emosi yang telah membangkitkan gejala.

Lantas, mengapa pandemi Covid-19 dapat memicu Somatic Symptom Disorder? Pandemi Covid-19 merupakan suatu hal yang bagi sebagian besar menimbulkan ketakutan, mengancam keselamatan, dan mengubah rutinitas kehidupan. Bagi banyak orang, ketidakpastian akibat pandemi virus Corona adalah hal yang paling sulit untuk ditangani. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi kita. (Dan) hal tersebut menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan kepanikan hingga berpengaruh terhadap fisik. Sebenarnya, kecemasan merupakan hal yang normal ketika kita menghadapi ancaman. Kecemasan merupakan suatu sinyal dari tubuh, bahwa kita harus waspada karena kita menghadapi hal yang mengancam keselamatan atau kesejahteraan diri kita. Tetapi, kecemasan yang terlalu intens dapat menjadi counterproductive dan malah membuat kita stres, panik, hingga menimbulkan Somatic Symptom Disorder.

Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi stres dan kecemasan di tengah merebaknya pandemi Covid-19 dengan menggunakan metode Self Healing pada Somatic Symptom Disorder?

1. Mencari informasi, namun tidak secara obsesif atau terus menerus.

Dalam kondisi saat ini, kita memang harus tahu informasi terbaru, khususnya apa yang terjadi di sekitar kita, sehingga kita dapat mengikuti anjuran pemerintah mengenai kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Kita juga dapat ikut serta dalam memperlambat penyebaran virus. Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa banyak juga informasi yang beredar adalah informasi yang tidak benar atau hoaks, yang membuat kita menjadi takut. Oleh karena itu, kita perlu menyeleksi  apa yang kita baca dan tonton. Hanya membaca atau mencari informasi dari sumber yang terpercaya, seperti Wold Health Organization (WHO), informasi dari pemerintah, otoritas kesehatan, dan lain-lain.

2. Fokus dengan apa yang dapat Anda kontrol dan hindari memikirkan hal-hal yang out of control.

Ada banyak hal di luar kontrol kita, misalnya berapa lama pandemi ini akan terjadi, kapan pandemi ini berakhir, bagaimana orang-orang berperilaku, dan apa yang akan terjadi di lingkungan sekitar kita. Tentu berat untuk menerimanya. Banyak dari kita kemudian menghabiskan waktu untuk mengakses internet demi mencari jawaban dari pertanyaan dan kegelisahan kita, selanjutnya memikirkan berbagai skenario yang akan terjadi. Akan tetapi, fokus pada pertanyaan yang tidak ada jawabannya dan fokus pada hal-hal di luar kontrol personal kita malah akan membuat kita merasa kelelahan dan semakin cemas. Ketika Anda merasa ketakutan dengan apa yang akan terjadi, cobalah untuk mengubah fokus Anda pada hal-hal yang dapat Anda kontrol. Contohnya, Anda tidak dapat mengontrol seberapa banyak orang yang terinfeksi virus Corona di kota Anda, tetapi Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko pada diri sendiri dan juga risiko orang lain tertular dari Anda, misalnya: sering mencuci tangan (selama 20 detik)  dengan sabun dan air atau menggunakan hand sanitizer, menghindari untuk menyentuh wajah (khususnya daerah mata, hidung, dan mulut), sedapat mungkin tetap di rumah,  bahkan jika Anda tidak merasa sakit, tetap menjaga pola tidur yang cukup, sehingga membantu sistem imun Anda bekerja dengan baik sekaligus mengikuti protokol pemerintahan.

3.  Buatlah list hal-hal yang dapat dilakukan dengan prinsip mindfulness (pemaknaan dalam setiap aktivitas).

Hal yang wajar untuk mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tempat Anda bekerja tutup, anak-anak harus belajar dari rumah, atau Anda atau orang yang Anda sayangi sakit sehingga harus melakukan isolasi mandiri. Ketika segala kemungkinan dapat menjadi hal yang menakutkan untuk dipikirkan, cobalah untuk menjadi proaktif dengan melakukan hal-hal mengurangi kecemasan.

4.  Hindari memikirkan sebab atau konsekuensi dari pandemi yang berkepanjangan ini.

Jika Anda merasa diri Anda mulai masuk ke pikiran-pikiran yang membuat pesimis bahkan menjadi panik, mulailah untuk mendorong diri Anda sendiri untuk masuk ke momen saat ini. Menghentikan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan, lalu mengizinkan pikiran rasional yang memegang kendali. Dengan lembut bawalah kembali pikiran Anda pada tubuh dan napas Anda setiap kali pikiran mulai beralih. Lakukanlah hingga Anda merasa tenang.

5. Tetaplah terhubung dengan orang lain, meskipun secara fisik terisolasi.

Bukti menunjukkan bahwa banyak orang yang terkena virus Corona, khususnya yang masih muda, tampaknya sehat, tidak menunjukkan gejala tetapi tetap dapat menularkan virus. Itulah mengapa hal yang paling penting untuk dilakukan saat ini adalah melakukan social distancing. Di sisi lain, social distancing memiliki risiko. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga butuh bersosialisasi. Isolasi dan kesendirian dapat memicu kecemasan dan depresi. Hal dapat Anda lakukan antara lain: prioritaskan untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga Anda, buatlah jadwal untuk menelepon, chat, atau video call secara teratur untuk melawan kecenderungan tersebut, pilihlah percakapan yang santai, lucu, serta tetap fokuslah kepada hal-hal lain dalam kehidupan Anda.

6.  Luangkan waktu untuk melakukan berbagai hal yang positif seperti berolahraga, berjemur, dan mengevaluasi diri.

Anda perlu mengaplikasikan strategi manajemen stres, seperti makan makanan yang sehat, tidur yang cukup, dan refreshing. Di sini jangan lupa untuk selalu fokus kepada self care dan hindari juga panic buying. Serta juga dapat mempraktikkan teknik relaksasi. Ketika kecemasan terasa sangat kuat hingga memengaruhi Anda secara fisik, lakukan teknik relaksasi seperti napas dalam, meditasi, dan yoga untuk mengembalikan keseimbangan tubuh dan pikiran Anda. Praktik relaksasi secara teratur akan membuat Anda dapat mengenali sinyal dari tubuh Anda saat Anda mulai merasa cemas, sehingga Anda dapat dengan lebih mudah mempraktikkan relaksasi dan menurunkan kecemasan sebelum intensitasnya bertambah kuat. Dengan merilekskan badan, Anda akan dapat melepaskan pikiran-pikiran dan perasaan yang membuat cemas.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecemasan dapat terjadi pada setiap orang dan besar-kecilnya kecemasan tergantung pada bagaimana kemampuan seseorang dalam mengatasi suatu konflik dan sejauh mana pemahamannya terhadap berbagai solusi yang dapat digunakan dalam mengobati kecemasannya. Dengan demikian, kondisi objektif dari lingkungan memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap individu. Namun, kontrol yang dilakukan individu melalui proses psikologis yang bersifat internal memiliki peran yang lebih besar dibandingkan kejadian hidup itu sendiri (Emmons & Diener, 1985). (Serta) setidaknya kita sebagai individu juga dapat mengetahui akar permasalahan dari pembahasan, sehingga setidaknya dapat meminimalisir dengan dampak dengan Metode Self Healing sebagai Upaya Penurunan Kecemasan pada Somatic Symptom Disorder di Tengah Pandemi Covid-19. (Yang) mana bukan hanya dampak di atas saja penyebab somatic symptom disorder, akan lebih banyak menimbulkan penyakit–penyakit yang lebih dalam lagi. Untuk itu semua berawal dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Sudah sepatutnya pula menjaga dan menerapkan aturan pemerintah untuk staying physically distancing dan jangan lupa keep your mentally healthy!

 

REFERENSI

  1. Hanafi, P.S, Dewi K.S & Setyawan Imam. ‘Symptoms of Somatization Disorder Self Regulated Learning Under Graduated Student Thesis in Psychological Faculty Diponegoro University: A oleration Study’.
  2. Heninningsen , P. 2018. ‘Management of Somatic Symptom Disorder’. Dialogues Clin Neurosci. 2018, 20: 23 –
  3. 2020. ‘Corona virus Diseases (Covid-19); Sebuah Tinjauan Literatur’. Volume 2, Nomor 1, Februari 2020, p. 187 – 192.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *