Milad untuk Mengingat: Evaluasi-Refleksi Berorganisasi di Tengah Maulid Nabi

Dua belas Rabiul Awali Tahun Fil atau 571 Masehi

Hari Senin dilahirkan Nabi, lahir yatim sesudah ‘nam tahun bunda mati

Muhammad penutup nabi, utusan Tuhanku yang memberkahi

‘Slamat Maulid Nabi, dirayakan orang sedunia

Begitulah potongan lagu yang diajarkan oleh Guru Sekolah Dasar (SD) penulis sekitar 13 tahun yang lalu, tepatnya ketika mendekati peringatan Maulid Nabi. Alhamdulillah, Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Dua belas Rabiul Awal kembali kita temui di tengah hiruk pikuk duniawi. Allah Subhanahu wa ta’ala (Swt.) masih memberikan sehat lahir batin kepada kita semua, sehingga bertemulah kita di majelis penuh barokah ini. Majelis ilmu non tatap muka yang semoga senantiasa dikaruniai Allah. banyak jendela cakrawala di dalamnya.

Kaitannya dengan peringatan Maulid Nabi, penulis berpikir bahwa cara terbaik, teraplikatif, dan pasti bisa dilakukan secara suistanable untuk memperingati Maulid Nabi ini ialah dengan merefleksi keteladanan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Sebab, sependek pengetahuan penulis, hal teristimewa itu terasa apabila kita suka dan hal tersebut dapat bertahan dalam tempo waktu yang tidak sekejap saja. Oleh karenanya, melalui tulisan sederhana di tengah peringatan Maulid Nabi ini, mari kita bersama memuhasabahkan diri atas teladan dari Nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, teladan apa yang harus kita refleksikan?

Begitu banyak teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dimulai dari manapun insyaallah akan menjadi suatu kebaikan, terlebih jika kita ikhlas dan istiqomah dalam menjalaninya. Dari begitu banyak teladan Nabi, penulis akan membahas hal yang dekat dengan kita, yakni yang berkaitan dengan organisasi. Tidak dipungkiri bahwa organisasi telah menjadi teman sehari-hari kita. Tidak terbatas pada organisasi yang memiliki nama, menilik definisi organisasi sendiri, maka kegiatan kita dalam kelas ketika menuntut ilmu sesungguhnya ialah kegiatan berorganisasi dalam bentuk-bentuk yang tertentu.

Kaitannya dengan organisasi bahwa Nabi Muhammad SAW. senantiasa memiliki 4 sifat kepemimpinan, yakni amanah, fathonah, shiddiq, dan tabligh. Tidak perlu khawatir, sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. tidak hanya diteladankan untuk para pemimpin organisasi, ketua, presiden, dan lain-lain. Arti pemimpin di sini adalah sosok yang memimpin hal apapun, bahkan dari lini terkecil, misal diri sendiri. Dalam artikel ini akan difokuskan pembahasan yang berkaitan dengan sifat seseorang yang harus disiapkan dalam berorganisasi. Nantinya kita juga tidak perlu khawatir pula akan tertinggal perkembangan zaman yang begitu pesat. Keempat sifat ini dapat kita kembangkan, sesuaikan, dan organisasikan dalam keadaan atau situasi zaman yang bagaimanapun. Akan tetapi, perlu adanya suatu perencanaan terlebih dahulu sebelum benar-benar menerapkan keempatnya.

Perencanaan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan termasuk dalam merencanakan aktualisasi kerja suatu organisasi. Oleh karenanya, seorang organisator harus memiliki rencana strategis tersendiri selama berproses dalam organisasinya. Adapun rencana strategis telah diterapkan di dalam pemerintahan, instansi-instansi, lembaga-lembaga di Indonesia, bahkan organisasi tertentu. Dengan menyiapkan rencana strategis sematang mungkin di setiap pranala ranah kerja yang berdasar sifat Nabi, insyaAllah akan mencapai peluang aktualisasi kerja seoptimal mungkin.

Adapun secara singkat dijelaskan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pertanggungjawaban perlu didasari sifat wajib Nabi Muhammad. Fathonah, cerdas dalam merencanakan visi misi diri dalam berorganisasi maupun membangun organisasi. Secara sadar, baik akal maupun mental dapat melaksanakan perencanaan hingga pelaporan sesuai tujuan awal. Tabligh, menyampaikan hal-hal yang diketahui yang berkenaan dengan komponen organisasinya sejak awal hingga akhir menjalankan amanah. Dalam hal ini, komunikasi dan koordinasi. Kemudian shiddiq, benar dalam berbicara maupun bersikap. Sebab berorganisasi berarti menyentuh elemen sosial. Selain itu, dalam hal ini berarti juga benar dalam memosisikan tujuan berorganisasi dan tidak menunggangi kepentingan pribadi atau kelompok lain di dalamnya. Hal tersebut akan beririsan dengan amanah di mana ada unsur kepercayaan yang diberikan organisasi kepada organnya yang mengemban kepengurusan. Satu lagi yang terkait dengan amanah ialah makna amanah itu sendiri di atas pundak kita. Apakah telah benar menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan?

Demikianlah yang sedikit dan pendek pengetahuan dari penulis. Dengan segala kerendahan hati dan mengharap ridho Allah Swt., penulis berharap semoga apa yang sedikit ini tetap ada secuil yang bermanfaat. Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Milad tidak hanya untuk diperingat tapi juga untuk mengingat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *