Pemuda Sebagai Barisan Terdepan dalam Memberantas Hoax

oleh Himmatur Rosyidah

Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Itulah sumpah pemuda yang diikrarkan pada 90 tahun yang lalu. Tersirat keyakinan, kebanggaan, kehormatan kepada bangsa Indonesia. Begitu terasa semangat juang pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Sehingga pada detik-detik kemerdekaan kaum pemuda yang memiliki semangat juang, cinta tanah air dan pemikiran transformatif, menjadikan adanya peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok membuahkan amanat yang dapat dipetik. Amanat tersebut yaitu dimana kaum pemudalah yang menyadarkan kaum tua, agar dapat mengambil keputusan dengan memperhatikan sebab-akibat yang akan terjadi setelahnya. Hingga akhirnya kaum tua menyadari jika bangsa ini harus merdeka diatas kaki ibu pertiwi tanpa dibayang-bayangi atau terpengaruh oleh negara lain. Begitulah rekam jejak perjuangan pemuda pada masa penjajahan.

Saat ini, tugas pemuda adalah mempertahankan kemerdekaan dengan segenap nila-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan hasil dari pemikiran kritis dan reformasional para pahlawan terdahulu. Namun ada yang lebih penting, daripada sekedar mempertahankan kemerdekaan, yaitu dengan melawan penjajahan bangsa sendiri dari kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan. Perkembangan teknologi yang sangat pesat, sungguh tak dapat membendung arus globalisasi yang mengalir begitu cepat. Segala sesuatu kini berubah menjadi serba instan. Jarak jauh bukan lagi suatu hambatan. Tak hanya itu , ilmu pengetahuan dan segala bentuk berita terkini dapat diakses dengan mudah oleh semua orang. Sehingga menjadikan gadget sebagai kebutuhan primer setiap individu, entah dari kalangan pelajar, businessman, hingga ibu rumah tangga.

Persebaran berita dan kemudahan akses dalam mencari ilmu melalui Internet yang mudah dan cepat, menimbulkan dampak psikologis berupa nomophobia, dimana pemuda milenial masa kini akan merasa resah jika gadget mereka tertinggal di rumah atau di tempat lain, bahkan ada beberapa orang yang enggan meninggalkan gadgetnya meskipun ia sedang di kamar mandi. Selain itu gaya hidup yang serba praktis dan instan, mengakibatkan pemuda milenial memiliki kebiasaan yang cenderung tidak ingin ribet dan malas. Hal ini menyebabkan timbulnya beberapa perubahan, salah satu yang meresahkan yaitu timbulnya fenomena hoax yang berupa informasi, kabar atau berita palsu yang dibuat untuk menggiring opini, persepsi dan juga untuk menguji kecermatan generasi milenial dalam menggunakan sosial media.

Sebagai generasi milenial seharusnya, pemudalah yang menjadi barisan terdepan dalam memberantas adanya hoax. Adanya pertumbuhan yang subur akan hoax, sebenarnya merupakan salah satu dampak dari perilaku malas, seperti malas untuk membaca buku, berita, dan informasi-informasi faktual, malas untuk mencari tahu, malas untuk belajar, dan lain-lain. Kemunculan hoax yang didasari oleh pemikiran yang instan, menandakan kondisi pemuda milenial yang memprihatinkan, karena pada dasarnya pemuda adalah tonggak kesuksesan bangsa di masa mendatang.

Maka dari itu kita sebagai pemuda milenial khususnya mahasiswa Bidikmisi perlu untuk mendalami, dan memahami keahlian yang dimiliki masing-masing. Sehingga diharapkan pemuda memiliki karakter cinta tanah air, giat untuk membaca buku, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan performa pengetahan, atau ke arah positif, bukan sekedar meningkatkan eksistensi di media sosial, cerdas dalam mengutarakan pendapat, kritik dan saran yang bertanggung jawab terkait persoalan-persoalan di sekitar kita, sesuai dengan kajian ilmu yang ditekuni melalui sumbangsih berupa tulisan seperti opini, kiritik, saran, atau karya tulis yang inovatif dan solutif, maupun dalam bentuk lisan melalui ajang orasi, debat, dikusi ilmiah, atau berbagi ilmu dengan teman sebaya lainnya. Sehingga diharapkan hal tersebut mampu mengurangi dampak adanya hoax berupa saling mencurigai satu sama lain, saling tuduh-mentuduh hingga saling menggulingkan satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *