Selawat Badar

Selawat Badar

Oleh: Dani Nur Irawan

Kereta yang kutumpangi melaju kencang meninggalkan kota yang indah ini. Ketika matahari sudah berada tepat mencapai pucuk cakrawala, hembusan angin yang kencang membuat panas matahari tidak terasa, ditambah dengan alunan musik yang menghiasi telinga membuatku semakin halu dengan suasana. Untungnya saat ini kereta tidak terlalu penuh dengan penumpang, hal ini membuatku mampu untuk selonjoran ke sana dan ke sini dengan bebasnya. Aku sangat berharap, perjalanan ini tidak mendapati masalah sedikit pun.

            Namun, dalam kereta itu tercium bau rokok elektrik dari seorang pemuda. Asapnya sangat menggangguku yang sedang ingin bersantai ini. Hal yang lebih mengesalkan lagi adalah adanya rambu-rambu dilarang merokok di kereta tetapi tak dipatuhinya. Dengan rasa malasku untuk bergerak, aku tetap di tempat dan berteriak.

      “Mas! Matikan rokoknya! Di sini dilarang merokok,” ucapku.

            “Lah, bilang aja pengen, nih,” ucap pemuda itu sambil menyodorkan rokoknya.

            “Masnya ini buta ya? Itu lihat rambu-rambunya! Apa perlu saya bacakan?” Ucapku.

            “Peraturan dibuat untuk dilanggar,” ucap pemuda itu.

            Aku dibuat kesal olehnya. Kereta pun berhenti, nampaknya sudah sampai di stasiun selanjutnya. Kota tujuanku masih jauh, mungkin melewati dua sampai tiga stasiun lagi. Puluhan penumpang berdatangan memenuhi kereta. Aku tak lagi bebas seperti tadi, tapi setidaknya perjalanannya masih aman.

Kurasakan suasananya semakin gerah karena ada banyak penumpang di dalam gerbong kereta, sangat berisik. Aku tidak berdaya dengan kondisi ini, sehingga aku hanya bisa menunggu kereta segera dikemudikan agar angin sejuk bisa berembus padaku. Namun, masinis yang menjadi harapanku itu malah terlihat asik dengan kesibukannya sendiri. Masinis itu malah mengobrol dan bergurau dengan rekan kerjanya di luar kereta. Sementara aku semakin jengkel dengan suasana yang ada saat ini, aku mencoba bersikap tenang. Sebenarnya perjalanan seperti ini sudah sering kualami, tapi entah mengapa aku sangat gelisah di perjalanan kali ini. Pengalaman ketidaknyamanan seperti ini seharusnya sudah bisa kumaklumi dan tidak perlu lagi dikeluhkan karena ini adalah hal yang biasa terjadi dalam setiap perjalanan. Oleh karena itu, aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan agar aku tetap merasa tenang dan santai. 

Setelah sekian lama menunggu, kereta pun akhirnya berjalan menuju stasiun berikutnya. Seketika perasaanku terasa lega, seperti seseorang yang tersesat di padang pasir dan menemukan sumber mata air, sungguh melegakan. Sembari menunggu kereta ini sampai ke stasiun selanjutnya, aku membaca sebuah cerpen karangan Ahmad Tohari yang berjudul “Pengemis dan Shalawat Badar”. Isi cerpen itu menceritakan tokoh ‘aku’ yang mengalami kecelakaan bus, tetapi anehnya ada pula seorang pengemis yang melantunkan Selawat Badar saat mengemis di bus itu. Pengemis itu tetap sehat dan tidak mengalami luka sedikit pun seperti yang dialami oleh penumpang lainnya. Memang aneh menurutku, bagaimana bisa seseorang bisa selamat dari kecelakaan itu, sedangkan penumpang yang lainnya terluka sampai tidak bisa bergerak karena rasa sakit yang luar biasa. Menurutku, itu suatu hal yang dapat dipertanyakan.

Lama waktu berlalu, jam demi jam sudah berjalan dan akhirnya tibalah kereta di stasiun selanjutnya. Mungkin sekarang sudah sore hari, karena kulihat matahari telah memancarkan cahaya oranyenya dari langit. Terlihat banyak sekali penumpang yang berhamburan keluar. Ternyata, tanpa aku sadari sepertinya para penumpang ini juga sama sepertiku, meninggalkan kota sebelumnya dan memulai hidup baru di kota yang mereka tuju. Tetapi, mungkin saja mereka memang memiliki keluarga di kota itu, sehingga tidak perlu repot-repot untuk mencari rumah yang akan mereka tinggali. Barang bawaan mereka juga bervariasi. Ada yang hanya membawa sebuah koper besar, ada yang membawa banyak kardus yang sepertinya terisi oleh barang-barangnya, bahkan ada yang membawa karung besar untuk mewadahi barang-barang yang mereka bawa. Aku menikmati pemandangan ini, ternyata ada yang memiliki tujuan yang sama sepertiku. Tetapi aku meninggalkan kota ini karena aku sudah tidak memiliki pekerjaan lagi. Sebelumnya, aku sudah dipecat oleh atasanku di perusahaan. Tanpa kusadari ternyata air mata menetes dari mataku, sungguh menurutku para penumpang lain sangat beruntung. Mungkin saja mereka pergi dari kota ini memang karena mendapatkan cuti dari pekerjaannya, mungkin saja mereka mendapatkan pekerjaan baru di kota yang dituju, mungkin saja mereka pergi karena rindu dengan keluarganya, mungkin saja mereka pergi karena ingin berlibur. Tidak sepertiku yang pulang membawa segudang masalah, menambah beban keluarga, dan mengecewakan mereka.

Para penumpang yang berada di luar sudah mulai berdatangan. Aku pun juga mulai mengantuk sehingga lama-lama suara bising yang dihasilkan oleh para penumpang lambat laun menghilang. Sepertinya aku sudah berada di alam mimpi dan di sana kulihat para penumpang sudah berada di tempatnya masing-masing. Tetapi, kulihat semuanya diam membisu, tidak seperti tadi yang mengoceh tentang segala hal yang mereka alami dan yang diperbuat. Saat aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kali ini aku melihat sosok yang sama seperti di cerpen yang kubaca tadi, seorang pengemis yang menggunakan celana, baju agak lusuh dan berkopiah hitam. Dia hanya diam mematung di depan para penumpang, dan saat itu juga semua penumpang menoleh ke arahnya.

“Ini ada apa?” Ucapku dalam hati.

Tiba-tiba saja kereta yang kutempati ini oleng ke kanan dan ke kiri, seperti ingin jatuh. Saat itu pula sosok seseorang mengucapkan sesuatu dengan berteriak.

Shalatullah, salamullah, ‘ala taha rasulillah!” ucap sosok itu dengan berteriak.

Tiba-tiba seluruh penumpang yang berada di sini bersama-sama mengikuti lantunan kalimat selawat yang diucapkan oleh pengemis itu, dan mulutku pun dengan spontan mengikuti apa yang mereka ucapkan. Ketika olengan yang terjadi semakin terasa, semakin keras pula kita semua melantunkan Selawat Badar itu, sampai akhirnya semuanya berhenti termasuk olengan yang terjadi pada kereta ini.

“Syukurlah, terimakasih Ya Allah,” ucapku dalam hati.

Embusan nafas lega mengiringi saat mengucapkan kalimat itu dalam hati. Namun, tiba-tiba sosok pengemis itu melantunkan Selawat Badar lagi.

Shalatullah, salamullah, ‘ala taha rasulillah.” ucap sosok pengemis itu.

Seketika itu juga, tubuhku menjadi berat dan tidak bisa digerakkan. Orang-orang yang berada di sana pun menatapku dengan tatapan yang tajam. Semakin lama mereka juga melangkah mendekatiku dan aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku semakin panik dan kebingungan dengan apa yang terjadi, aku pun menjerit dan berteriak.

“Tolong…tolong…tolong,” teriakku.

Tetapi suara teriakanku kalah dengan lantunan selawat yang dinyanyikan oleh sosok pengemis itu. Lantunan itu semakin lama semakin keras dan suaranya memenuhi telingaku, bahkan suaraku sendiri tidak bisa kudengarkan. Keadaan semakin meresahkanku, aku semakin panik ketika seluruh wajah dari penumpang-penumpang ini semakin dekat dengan wajahku. Semakin dekat, semakin dekat, dan akhirnya…

Allahuakbar, allahuakbar….” Suara azan mulai terdengar.  

Tiba-tiba suara azan berkumandang dan membangunkanku. Tubuhku dipenuhi keringat yang membuat pakaian yang kukenakan menjadi sedikit basah.

“Sial, ternyata hanya mimpi. Hampir saja jantungku copot tadi,” ucapku.

Sepertinya sudah waktunya salat Asar, mungkin mimpiku tadi mengingatkanku untuk segera menunaikan salat terlebih dahulu sebelum berangkat ke stasiun selanjutnya. Kupikir ada benarnya juga, aku pun langsung keluar dari gerbong kereta ini dan pergi menuju masinis yang sudah berada di luar. Aku pun berkata padanya.

“Pak, tunggu ya. Saya mau salat asar dulu,” ucapku.

“Jangan lama-lama ya kalau kamu tidak ingin tertinggal nantinya,” ucap masinis.

“Iya, Pak, sambil menunggu penumpang juga kan?” ucapku.

“Iya sudah sana,” ucap masinis.

“Iya, Pak,” ucapku.

Segera aku menuju musala yang ada di stasiun itu dan menunaikan salat. Setelah menunaikan salat, aku kembali memberitahu masinisnya yang saat itu juga masih berada di luar.

“Pak, sudah Pak,” ucapku.

“Oh sudah? Ya sudah masuk, ini menunggumu,” ucap masinis.

“Iya Pak, maaf,” ucapku.

Setelah memberitahu masinis, aku pun segera masuk ke gerbong kereta dan duduk di tempatku semula. Saat aku sudah duduk, kulihat dari jendela ada kereta dari arah lain yang juga ingin berhenti di stasiun ini. Lalu, kuperhatikan dengan saksama dan sungguh mengagetkan, ternyata ada sosok seseorang yang sama persis dalam mimpiku tepat berada di gerbong kereta sebelah. Dia pun juga menatapku dengan senyuman tipisnya. Jantungku berdetak kencang, kereta yang kunaiki pun berjalan meninggalkan stasiun ini dan meninggalkan kebingungan terhadapku.

Cerpen ini terinpirasi dari karya Ahmad Tohari yang berjudul “Pengemis dan Shalawat Badar”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *