UNTUK KITA RENUNGKAN

Oleh: Alfitrah Bachtiar mahasiswa Fakuktas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

200 Tahun yang lalu Thomas Maltus meramalkan pertumbuhan penduduk menyerupai deret ukur sementara produksi pangan dan ketersedian seperti deret hitung. Dampaknya kelaparan dan gizi buruk akan biasa di temui dimanapun. Seiring berkembangnya zaman banyak inovasi di bidang pertanian yang mampu meruntuhkan ramalan Thomas Maltus. Namun ketersediaan pangan yang cukup tidak pernah mencapai setiap orang, tingkat kelaparan Indonesia masih berada di level serius. Hal ini berdasarkan Global Hunger Index (GHI) 2016. Indikator tersebut yaitu kondisi kekurangan gizi seluruh penduduk, berat badan dan tinggi anak di bawah lima tahun, dan angka kematian anak sebelum mencapai usia lima tahun.
Angka GHI Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008. Namun masih dalam tingkat kelaparan yang serius. Lebih dari 19 juta penduduk Indonesia masih kekurangan gizi. Bahkan 2 hingga 3 anak dari setiap 100 anak, meninggal sebelum berusia 5 tahun. hal ini tentu saja tidak bisa kita diamkan sebab republik ini sering di disebut sebagai surga dunia , kayu dan batu jadi tanaman tapi sebagian rakyatnya mati karena kelaparan, dan bila berpijak pada undang undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan yang menyebutkan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap orang, dengan begitu satu saja seorang warga negara mati karena kurang asupan pangan ini sudah merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.
Indonesia adalah negara yang masih berkembang tentunya perkembangan teknologi di indonesia lebih lambat dari negara maju. namun kita memiliki banyak perguruan tinggi negeri yang memiliki jurusan yang bergerak dalam bidang pertanian bahkan ada perguruan tinggi negeri yang fokus dalam sektor pertanian. Yang mengherankan adalah LIPI menyebutkan 10-20 tahun kedepan Indonesia akan mengalami krisis petani, kurang minatnya pemuda (khususnya mahasiswa) untuk bekerja di sektor pertanian adalah satu satu faktor besar terancamnya ketahanan pangan di republik ini. Padahal pendidikan yang tinggi dapat meningkatkan tata kelola sektor pertanian dan menjawab ancaman krisis ketahan pangan. Ini bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah namun kita sebagai agent of change harus peka dan mulai membuka fikiran untuk berkontribusi dan memberikan inovasi di sektor pertanian. Melalui tulisan ini saya mewakili petani di seluruh pelosok negeri mengajak semua pemuda dan teman-teman mahasiswa untuk menghilangkan stigma bahwa profesi petani adalah profesi yang ketinggalan zaman dan tidak menguntungkan,memoderinasi sektor pertanian baik dari segi sumberdaya manusia maupun teknologi pengolahan lahan atau bibit guna meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *