Sudah hampir satu bulan Aldi tak kunjung muncul di tongkrongan. Ini menggelikan, tapi jujur aku agak khawatir. Pasalnya ini Aldi, teman nongkrong yang biasa aku mintai tebengan. Aku bukannya khawatir karena tidak ada lagi yang memberiku tebengan. Walaupun tanpa Aldi aku jadi harus jalan kaki. Aku hanya merasa janggal, karena dia juga tidak membalas pesan-pesanku.
Sebenarnya aku dan Aldi bukan orang yang cukup sering berbalas pesan. Seringkali kami meninggalkan pesan dalam keadaan terbaca. Lagi pula, kalaupun mengirim pesan entah aku yang minta jemput atau dia yang menawari tebengan, sisanya kami ngobrol di tongkrongan. Meski begitu, kami tidak pernah bermasalah dalam hal komunikasi.
Aku bisa saja menanyakan kabarnya, tapi menurutku itu hal yang cringe. Teman-teman tongkronganku pun juga mempunyai pendapat yang serupa. Kami berpikir, dia mungkin sedang sibuk menyelesaikan proyek tugas akhirnya. Kami sudah paham bagaimana Aldi, mahasiswa deadliner dengan sistem kebut sebulan. Entah bagaimana cara dia menyelesaikan semua proyeknya yang harusnya memerlukan waktu beberapa bulan untuk selesai.
Begitulah kami mencoba memaklumi hilangnya Aldi, sampai suatu ketika Widya datang ke tongkrongan kami dengan wajah kesal. Widya adalah pacar Aldi, mereka saling mengenal lewat mata kuliah wajib. Aldi memang mahasiswa yang cukup bandel urusan kuliah, tapi sebagai pasangan dia orang yang setia.
Sleep call dan berbalas pesan menjadi hal yang wajib bagi Aldi dan Widya. Seringkali Aldi juga menelpon Widya ketika di tongkrongan. Alhasil kami pun terpingkal-pingkal dibuatnya, karena image yang Aldi buat ketika berpacaran berbeda jauh ketika berhadapan dengan kami. Aldi selalu manampakkan image sebagai pacar yang romantis untuk Widya, bukan Aldi yang sangar. Akan tetapi, melihat raut wajah Widya yang seperti gunung meletus sepertinya terjadi sesuatu.
“Ken, Aldi disini?” tanyanya sambil mencoba meredam amarah.
Aku bisa membayangkan, bagaimana jadinya Aldi setelah ini. Pasti dia akan diomeli habis-habisan oleh Widya. Semua bisa ditebak dari mimik wajah Widya yang meredam amarah sampai terlihat seperti orang yang menahan kentut.
“Seperti yang kamu lihat Wid. Dia tidak ada disini,” jawabku. “Dia juga tidak membalas pesan-pesanku, memangnya kamu tidak diberi kabar olehnya?” lanjutku bertanya pada Widya.
“Sama sekali tidak, dia sudah menghilang hampir sebulan. Kalian tidak lagi bohong untuk Aldi, kan?” balas Widya dengan curiga.
“Lah, mana ada Wid. Dia saja tidak pernah kesini,” belaku.
“Masa bodoh kalian bohong atau tidak, tapi sekarang aku cuma khawatir dan mau tau kabarnya saja,” ucap Widya menunduk lesu. “Kabarin ya, kalau Aldi disini,” mohon Widya sambil perlahan beranjak.
Selepas Widya pergi, aku jadi overthinking. Teman-temanku lainnya berpendapat si Aldi sudah bosan dengan pacarnya. Tapi ini Aldi, laki-laki yang biasanya menggaungkan prinsip “ladies first”. Kalaupun dia tidak mengabari Widya, biasanya dialah yang tidak bisa tidur. Entah mengapa, hatiku jadi merasa tidak tenang lagi.
Setelah banyak menimbang-nimbang, akhirnya aku mencoba untuk menelepon Aldi. Akan tetapi, diluar dugaan ternyata nomornya tidak aktif. Aku mulai memikirkan apa yang teman-teman katakan, bahwa mungkin dia sudah bosan dengan Widya. Aku tidak bisa menampiknya, juga tidak bisa mengiyakannya. Aldi belum pernah menghilang seperti ini.
Hari pun berlalu, aku masih terbelenggu dengan pikiran-pikiran burukku. Aku putuskan menemuinya di kos. Demi Aldi kukorbankan selembar ceban di dompetku untuk memesan ojek online. Apa boleh buat, kos Aldi memang cukup jauh dari kampus.
Sesampainya di kos Aldi, aku mengistirahatkan diriku di kursi depan kamar kos. Aku mencoba menghubungi Aldi untuk membukakan pintu, tapi nomornya masih belum juga aktif. Aku pun mengetuk pintu kosnya, sambil memanggilnya.
Tok, tok, tok
“Assalamualaikum, Al bukain pintu, ini Keenan,” panggilku dari luar.
Merasa tidak ada jawaban, aku mencoba memanggilnya sekali lagi, “Al, di dalem?”.
Tok, tok, tok
“Al, buruan buka!” cobaku untuk yang terakhir.
Hening, sepertinya Aldi memang tidak ada di kos. Dugaanku dia mungkin sedang berangkat ke kampus. Tapi biasanya di proyek tugas akhir begini Aldi hampir tidak pernah pergi ke kampus. Mungkin sebaiknya, aku meninggalkan pesan saja dan pulang.
Sebelum sempat aku memesan ojek online, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Tante Diana. Tante Diana tak lain adalah Ibu Aldi. Aku tidak tahu kenapa beliau menelepon. Biasanya beliau menelepon itu karena menanyakan kunci kos Aldi yang kerap dia titipkan kalau sedang tidak berada di kos. Tanpa berpikir panjang aku pun menjawab panggilan dari Tante Diana.
“Assalamualaikum Keenan,” sapa Tante Diana dari telepon.
“Waalaikumussalam tante, ada apa tante tiba-tiba telpon Keenan?,” jawabku sambil menanyakan tujuan Tante Diana menelepon.
“Biasa Ken, tante mau ambil kunci kos. Kamu ada di kosmu?,” tanya Tante Diana.
Aku benar-benar bingung mendengar tujuan Tante Diana menelepon. Jangankan menitipkan kunci kos, bahkan Aldi sama sekali belum menghubungiku selama sebulan terakhir. Saat ini saja, dia sepertinya tidak berada di kos. Aku tidak menyangka kalau Tante Diana juga tidak tahu soal itu.
“Maaf Tante Diana, tapi Aldi belum nitip kunci kos,” jelasku pada Tante Diana. “Ini aku di kos Aldi, tapi orangnya tidak ada,” tambahku.
“Lho, Aldi nggak nitipin kunci kos?”, tanya Tante Diana heran. “Sebentar Ken, boleh tunggu di kosa Aldi dulu?” pintanya.
“Boleh, aku tunggu disini,” jawabku.
Kami menyudahi pembicaraan lewat telepon. Aku menunggu kedatangan Tante Diana. Tak butuh waktu hingga setengah jam, Tante Diana telah sampai di kos Aldi. Aku menyambutnya dengan seramah mungkin, akhirnya aku memutuskan untuk tidak beranjak terlebih dahulu dan menemani Tante Diana.
Kami berbincang cukup lama hingga sampai pada suatu kesimpulan Tante Diana menanyakan sesuatu hal yang membuatku bingung untuk kedua kalinya. Beliau menanyakan kesibukan Aldi selama sebulan terakhir.
“Ken, Aldi itu sebulan terakhir sedang apa? Telepon Tante nggak ada yang diangkat,” tanya Tante Diana.
“Aldi nggak ngabarin Tante?”, timpalku.
“Enggak Ken, justru Tante nanya karena Tante ngira kamu selalu sama dial” jawab Tante Diana.
Perasaanku menjadi campur aduk. Berarti selama ini Aldi memang benar-benar menghilang, bukan karena proyek tugas akhir juga bukan karena menghindari Widya. Aku benar-benar yakin terjadi sesuatu yang dia tidak ceritakan. Dengan berat hati, aku ceritakan semua pada Tante Diana.
“Tan, sebenarnya ini Keenan juga belum begitu yakin. Tapi mendengar pertanyaan tante soal Aldi barusan, aku pikir Tante mungkin emang bener-bener nggak tahu-menahu soal Aldi,” jelasku. “Sepertinya Aldi menghilang Tan, beberapa hari yang lalu aku sama teman-teman diskusi soal hilangnya Aldi, kami kira dia sibuk mengurus kuliah. Sampai akhirnya pacar Aldi menemui kami karena Aldi hilang kabar selama sebulan terakhir dan berakhirlah aku disini tan, aku nggak nyangka tante nanyain hal serupa”, tambahku.
Tante Diana terkejut atas penjelasanku. Aku tahu harusnya tidak membuat beliau panik, tapi mau bagaimana lagi, Aldi memang menghilang. Aku mencoba menenangkan Tante Diana dengan menemaninya menunggu kepulangan Aldi ke kos, meskipun aku sendiri tidak tahu apakah Aldi akan pulang atau tidak. Sambil menunggu Aldi, aku mencoba menghubungi teman-teman yang satu kelas dengannya. Barangkali mereka tahu keberadaan Aldi.
Hari semakin sore, tapi Aldi belum juga menampakkan rupanya. Teman satu kelas Aldi mengatakan bahwa Aldi tidak ke kampus sama sekali. Mendengar kabar itu aku benar-benar panik. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyampaikan berita ini pada Tante Diana.
Prang
Terdengar suatu bunyi dari dalam kos Aldi. Perhatianku dan Tante Diana langsung tertuju pada bunyi tersebut. Kami pun mendekati pintu sambil menggedor pintu kamar kos Aldi. Kami pikir, mungkin Aldi sebenarnya ada di kamar.
Brak, brak, brak
“Al, kamu di dalem?,” panggil Tante Diana
“Al!” panggilku.
Kami tak kunjung mendapat jawaban dari Aldi. Akan tetapi, kami yakin betul bahwa tadi terdengar bunyi dari kamar kos Aldi. Aku pun berinisiatif menghubungi ibu kos Aldi untuk meminjam kunci cadangan.
Setelah beberapa saat, ibu kos Aldi datang dan membukakan pintu. Betapa terkejutnya kami melihat pemandangan di depan mata kami. Kami melihat Aldi terkulai lemas di lantai dengan memegang suntikan di tangan.
“Aldi!” seru kami bertiga yang tengah syok.
Dengan sigap aku pun menelepon ambulans. Aku berusaha untuk menenangkan Tante Diana dan mengimbau supaya tidak ada satupun barang-barang di sekitar Aldi yang tersentuh tangan kami. Ketika ambulans datang, aku dan tante Diana mengantar Aldi ke rumah sakit sedangkan ibu kos tetap berada di TKP sembari melapor pada kepolisian.
Tante Diana dan aku tidak ambil pusing mengenai laporan kepolisian. Bagi kami yang terpenting adalah keselamatan Aldi. Lagi pula, sudah menjadi hak dan kewajiban pemilik kos untuk melaporkan kejadian pada kepolisian. Kami juga perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aldi lewat penyelidikan.
Sesampainya di rumah sakit aku mengabari Widya dan juga teman-teman lainnya. Sedangkan Tante Diana berusaha untuk mengabari ayah Aldi, Om Hadi. Suasana di rumah sakit kemudian berubah menjadi penuh isak tangis. Bagaimana tidak, Aldi yang menghilang karena dikira sibuk menyelesaikan tugas kuliah, tiba-tiba ditemukan dan kini terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan kritis.
Selang beberapa hari berlalu, hasil penyelidikan keluar dan Aldi dinyatakan sebagai pengguna narkotika jenis sabu. Kami semua yang mendengar kabar itu sangat terkejut. Kami benar-benar tidak tahu bagaimana Aldi bisa terjerumus hal yang semacam itu.
Kami sangat berharap Aldi bisa sembuh. Walaupun kami tidak tahu, konsekuensi dan hukuman macam apa yang akan dia hadapi nanti. Akan tetapi, takdir berkata lain, Aldi dinyatakan berpulang tepat sehari setelah hasil penyelidikan dikeluarkan. Tidak ada yang tidak sedih ketika pemakaman Aldi. Banyak sesal yang rasanya ingin kami sampaikan. Akan tetapi, kami tahu itu percuma.
Seusai pemakaman, aku dan teman-teman pergi ke rumah Aldi untuk membantu orang tua Aldi menggelar doa bersama. Banyak kerabat dan tetangga Aldi yang berdatangan. Kami berharap yang terbaik atas kepergiannya.
