Oleh : Dhia Rafifah Thifal
Kamu introvert?
Cakap angin apa lagi yang ingin kamu hambur?
Kamu hanya extrovert yang kehilangan percaya diri, terus berlagak introvert untuk membenarkan sikap pengecutmu!
Sejatinya kamu hanya malu!
Malu terhadap dirimu sendiri yang kamu rasa tak sehebat dulu.
Kamu takut!
Kamu khawatir tentang bagaimana orang melihat sisimu yang banyak salah dan tak sempurna.
Lalu kamu lari, sembunyi, dan menutup diri!
Percuma!
Kamu bukan introvert.
Sendiri pun tak akan menghilangkan lelahmu yang butuh validasi.
Tak jua menjauhkan dirimu dari suara-suara jahat yang katanya dari orang-orang itu, namun nyatanya dari benakmu sendiri!
Empu itu juga sibuk menyalahkan yang lain, mencari pembenaran, melontar makian, ribut sendiri, hanya untuk membuat hatimu lega.
Padahal buntu!
Kamu hanya si kepala batu!
Elaborasi patah hatimu yang lancung itu juga bagian dari rasa rendah diri yang kamu simpan begitu rapat, teredam padat sampai berkarat.
Persetan cinta senyap yang kamu bentangkan lebar bersayap itu!
Palsu!
Kamu hanya tak punya megah untuk menaja harap yang terang.
Lilin percaya yang tersisa sudah kamu buat pukah. Yang sisa hanya reruntuh kehidupan yang ingin kamu simpan sendiri.
Dan kamu tahu apa?
Puisi ini ada bukan untuk membuat kamu merasa salah.
Pun merasa kalah terhadap rasa luka dan air mata yang tak tahu kapan habisnya.
Aku ada untuk kamu bangun. Agar kamu sadar kalau hidupmu bukan hanya sempurna yang orang-orang ponggahkan. kamu ada dan berharga. Dengan atau tanpa luka-luka yang kamu coba sembuhkan.
Tertanda,
Si Introvert Lancung
