Jeru isak tangis, membendung menggema ke seluruh penjuru Bandoeng kala itu. Rintikan rudira tersiksa terbuang dengan sia-sia hidup penuh jejal terus dirasakan oleh rakyat Bandoeng. Satu cambukan mendarat di punggung tua yang sudah tak berwujud suara cambukan itu begitu nyaring untuk didengar oleh telinga. Kalut dengan jeritan-jeritan yang menyayat hati tidak ada perasaan iba dari para KNIL di sana. Mereka hanya menjalankan tugas bagi tentara KNIL tidak ada yang namanya perasaan dalam sebuah penugasan.
Bandoeng malam itu menangis bersama hujan yang mengguyur membasahi bantala. Langit ikut bersedih menyaksikan rakyat Bandoeng yang disiksa tanpa ampun, tanpa jeda, tanpa rasa iba dan peduli. Tubuh kurus kering rakyat pribumi dipenuhi oleh luka sayatan yang jelas, tak terlihat binar mata dari mereka, bahkan suara nafas menggeru tak terdengar oleh sang nabastala. Netra yang bertahan sabar menunggu kehancuran Belanda masih dengan semangat tak ada habisnya.
Bandoeng 1942 kala itu dengan asmaraloka yang indah menghias lampu-lampu yang baswara. Seorang Laraswati dan lantunan kicauan burung-burung pagi itu menari di bentangan nabastala. Laraswati yang menundukkan kepalanya saat bertemu dengan tuannya, kini kepala itu berani tegak kala tak ada tuan yang mengawasinya. Kesehariannya sebagai pelayan keluarga Van Meijer begitu dinikmati oleh Laraswati, walau bentakan dan cacian terdengar nyaring terus dilontarkan kepadanya. Namun, Laraswati tetap setia melayani Sang Tuan dengan tulusnya. Tiada hari untuk istirahat bagi Laraswati banyak pekerjaan yang selalu Nena lemparkan kepadanya. Padahal bukan hanya Laraswati saja yang bekerja disini.
“Lara! Apa yang kamu lakukan dengan bajuku?” Nena datang menghampiri Lara yang baru saja selesai mencuci piring. Nena membawa sebuah dress berwarna putih dengan corak hitam seperti habis terbakar. Raut wajah marahnya sudah tampak jelas menyeramkan. Lara hanya bisa menundukkan kepala seraya berkata.
“Vergeef me” bahasa Belanda yang harus Lara gunakan untuk berbicara kepada majikannya. Kadang kala Lara juga menggunakan bahasa Indonesia tapi hanya beberapa kali saja. Di sela keributan pagi itu mengundang datangnya Tuan Hendrik yang sudah bersiap untuk pergi bekerja. Hendrik menuruni tangga dengan tatapan mengintimidasi ke arah Lara. Hendrik berjalan tak acuh dengan pertengkaran istrinya dan Lara.
Hendrik Van Meijer seorang Jenderal dari pasukan KNIL yang kini tengah sibuk dengan tugasnya di Bandoeng. Mendengar akan datangnya Nippon ke Hindia-Belanda, membuat kesibukan tentara Belanda bertambah. Tak ada waktu bagi Hendrik untuk mengurusi keadaan keluarganya, kali ini Hendrik akan pergi ke Batavia meninggalkan anak dan istrinya lagi. Nena Van Meijer juga tak begitu peduli dengan suaminya yang terus pergi, sibuk mengurusi
pekerjaannya. Nena akan bersikap tenang selama dia memegang uang yang diberikan suaminya. Sibuk dengan urusannya masing-masing mereka lupa bahwa ada seorang Liam Van Meijer yang mendambakan sebuah dama.
Sarayu malam menemani kedua insan yang terpaut oleh duka. Tiada kehangatan yang keduanya rasakan, hanya saling berbagi luka dengan senyuman menghias raut wajah mereka. Lara menatap galaksi dengan binaran cahaya dan Liam yang masih setia menemaninya. Tak ada rasa tenang untuk Lara saat dirinya sedang bersama Liam. Serasa banyak pasang mata yang mengawasi Lara saat ini, rasa takutnya tak pernah bisa berhenti. Mengingat betapa kerasnya larangan Nena kepada Lara untuk tidak dekat dengan Liam. Tuturan kata Nena membuat Lara
sadar bahwa dia dan Liam tak akan menjadi amorfati yang abadi.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Katakan kepadaku.” Liam berhasil membuyarkan lamunan Lara. Manik mata keduanya saling bertatap sendu dengan pikirannya masing-masing. Di satu sisi Lara tidak berani berkata sepatah katapun dan di sisi lain ada Liam yang menahan detak jantungnya saat melihat mata bermanik coklat milik Lara.
“Kosong, hanya rasa takut Liam.” Lara benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari manik mata biru milik Liam. Tetapi, di balik tenggelamnya tatapan Lara, ia teringat betapa sakitnya menyaksikan kenyataan yang harus diterimanya. Mereka adalah dua atma yang tidak akan pernah menjadi satu. Sadar bahwa bentala dan bumantara tak akan menjadi amorfati, mereka aksa dan akan selamanya menjadi enigma.
Lara selalu menyadarkan dirinya bahwa Liam adalah nabastala yang mustahil untuk digapainya. Seorang pribumi tidak punya hak untuk menjadi egois, apalagi sikap egois itu ditujukkan untuk majikannya sendiri. Sudah bisa terbayangkan betapa tidak sopannya Lara saat ini, berdua bersama Liam menatap sang nabastala yang di hiasi oleh gugusan bintang. Jika Nena melihat hal ini, kemarahannya pasti akan meledak membuat riuh pikiran Lara. Itu seperti mimpi buruk yang terus mengejar-ngejar Lara dalam tidurnya. Seperti tidak ada habisnya hukuman untuk Lara, tidak ada tempat untuknya melampiaskan rasa sakitnya. Lara sudah tidak bisa lagi memanggil sang ayah, sudah tidak ada lagi yang berani membelanya di hadapan Nena.
“Ajarkan bahasa Indonesia pada aku lagi. Kosong itu apa?” Liam sangat tertarik untuk belajar bahasa Indonesia. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang menentang keras Liam untuk mempelajari bahasa pribumi. Semua jongos di rumah keluarga Van Meijer harus menggunakan bahasa Netherlands setiap berbicara kepada Nena dan Hendrik. Hal itu agar Liam bisa bahasa Netherlands juga untuk membuat Liam sadar bahwa dirinya berbeda dengan para jongos di rumahnya. Tapi tidak dengan Liam, dia malah menyuruh semua jongosnya untuk berbicara bahasa mereka sendiri, kepribadian Liam sangat berbeda dengan orang tuanya.
“Kosong itu tidak ada isinya. Kenapa kamu sangat ingin belajar bahasa pribumi? Apa kamu tidak takut jika ibumu marah kepadamu lagi?” Lara takut jika dirinya akan dimarahi lagi oleh Nena dan Hendrik seperti dulu.
Pernah sekali Lara dimarahi habis-habisan oleh Nena, saat Nena melihat Lara yang membantu Liam belajar bahasa pribumi. Saat itu Nena hendak pergi keluar untuk bertemu teman-temannya bersama dua jongos yang membuntuti Nena dari belakang. Liam sangat senang melihat Nena pergi, dia berpikir bisa bebas menghabiskan waktu bersama Lara. Namun, sayangnya Nena kembali dengan rasa jengkel dan mendobrak pintu rumah hingga menimbulkan suara yang keras. Mata Nena melotot terkejut melihat kedekatan Lara dan Liam di ruang tamu. Perasaan jengkelnya ia lampiaskan kepada Lara sepertri biasa Nena terus memukuli Lara tanpa henti. Dengan beberapa rangkaian kata-kata celaan dalam bahasa Belanda. Liam tak berani mengucapkan kata-kata pembelaan untuk Lara bahkan saat hendak bernafas saja Nena sudah membentaknya. Beribu kata maaf terus terucap dalam hati Liam. Kericuhan itu terus berlanjut sampai Hendrik pulang dari kerjanya. Begitu mengetahui ceritanya, Hendrik sangat tidak terima dengan perilaku Lara yang dengan lancang mengajari anaknya bahasa pribumi. Mulai dari peristiwa tersebut rasa takut Lara terus mencuat kala dirinya sedang bersama Liam.
“Tidak ada salahnya untuk belajar bahasa orang lain. Aku suka bahasa Indonesia. Aku memang orang Netherlands tapi aku lahir di bumi Hindia-Belanda. Kami ini Netherlands, parasit yang sedang menumpang tinggal di negaramu. ” Liam masih dengan manik mata birunya yang indah, menatap teduh ke arah Lara. Hanya mata Liam yang berhasil membuat rasa takut Lara terus mencuat. Takut akan rasanya kepada Liam yang semakin dalam, dia hanya seorang jongos yang secara tidak sopan jatuh cinta kepada tuan mudanya. Karena Lara juga parasit yang menumpang hidup di keluarga Van Meijer sebagai jongos penerus kedua orang tuanya.
“Terimakasih.” Ucapan Lara terdengar merdu di telinga Liam. Suara lembut yang bahkan tidak pernah Liam dengar dari mulut Nena, hanya Lara yang memiliki suara indah nan menenangkan itu. Jika tidak ada Lara di samping Liam, mungkin Liam hanya akan terus mendengar teriakan Nena seumur hidupnya.
Kericuhan terjadi di Bandoeng kala itu, semua orang berlari berteriak cemas tanpa tujuan. Seperti tidak ada tempat berlindung lagi tidak terbayangkan betapa kalutnya Bandoeng saat Nippon sudah tiba. Para jongos rumah keluarga Van Meijer sudah pergi dan hanya tersisa Lara sendirian disana. Tidak ada yang peduli dengannya, dia merasa bingung akan kalutnya saat mendengar suara teriakan dari luar rumah. Lara sudah tidak tahu lagi harus bersembunyi dimana, dia hanya berdiri diam di tengah ruang tamu. Padahal baru semalam dia tertidur dengan nyenyak dan pagi ini adalah kejutan terbesar yang Lara terima. Dia di tinggal sendirian, tidak ada yang membangunkan dan memberitahunya bahwa Nippon sudah menginjakkan kaki di kota Bandoeng. Isak tangis Lara tak terdengar tatapannya kosong dan air matanya terus menetes deras membasahi kedua pipinya.
Beberapa ketukan mulai terdengar dari arah pintu keluarga Van Meijer. Lara tidak berani melirik pintu yang berderit sejak tadi, tubuhnya terpaku oleh takut akan dirinya saat nanti akan ditemukan oleh Nippon. Pikiran Lara hanya tentang akhir hidupnya yang begitu pedih, dia sudah membayangkan bagaimana pedang tentara Jepang itu akan menyentuh lerehnya atau bagaimana jika peluru tentara Jepang yang menembus tubuhnya. Beberapa saat sudah berlalu, ketukan pintu itu sudah tidak terdengar lagi di telinga Lara. Namun, terdengar derapan langkah kaki yang mengelilingi rumah Van Meijer.
“Aku pikir dia juga menyukaiku.” Ucapan lirih Lara di sela-sela tangisnya. Masih sempat Lara memikirkan Liam saat ini, bagaimana keadaan Liam, dimana dia sembunyi sekarang, apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan kecil tentang Liam terus berputar dalam benak hatinya.
“LARAA!!” suara yang tidak asing itu berhasil membuat Lara terkejut. Lara tidak sadar bahwa pintu rumah itu sudah terbuka lebar, menampilkan sosok Liam yang sedari tadi di pikirnya. Liam yang saat ini berpenampilan lusuh, banyak debu yang menempel menutupi tubuh dan rambut pirangnya. Sejenak perasaan tenang datang mengarungi Lara, di sela-sela tangisnya ia tersenyum tenang melihat Liam yang berdiri di depan pintu rumah, Liam yang mendatanginya saat dirinya sedang gundah. Netra biru itu menatap Lara dengan lega, wajah panik Liam kini sudah tidak terlihat lagi. Liam yang jarang sekali menampilkan senyumnya, kini dia menyunggingkan senyum terindah yang pernah Lara lihat.
Tubuhku semakin terpaku melihat kepala Liam lepas dari tubuhnya. Kakiku lemas, seluruh tubuhku terasa lumpuh melihat kejadian tragis dengan mata kepalaku sendiri. Seluruh lantai rumah Van Meijer dibanjiri oleh darah Liam yang mengucur deras dari potongan lehernya. Air mataku terus mengalir semakin deras, aku sangat ingin berteriak dengan keras saat ini. Di belakang tubuh Liam yang terkapar itu, aku melihat para tentara Jepang dengan jelas. Bagaimana bentuk dan rupa mereka sangat jelas dan rinci. Aku terduduk lemas, menatap netra biru milik Liam yang masih menatapku dengan teduh. Kini Netra itu sudah terpisah dari tubuh sang empunya. Tatapan terakhir Liam membuatku hancur habis dan matilah diriku dengan kesadaran yang tak bisa aku tangkis. Sudah tidak ada lagi Liam dengan netra cantiknya yang akan menatap hangat diriku lagi. Berakhir sudah sang pemilik nayanika terindah dibawah bentangan bumantara ini. Karena nayanika itu kini telah aksa menyisikan mangata bersama renjana yang amerta.
