Di Balik Tinta Hitam

Rumor buruk yang melibatkan konglomerat Cipto Sudarso, pemilik pabrik kopi Gunung Sindoro menjadi topik panas dalam masyarakat. Namun, siapa sangka ada rahasia lain di balik semua itu. Seorang jurnalis muda yang mencoba menguak fakta sebenarnya malah tewas. Mengubur fakta itu bersamanya. Tidak ada yang tahu penyebab gadis ini hilang, ia lenyap begitu saja. Aku tahu semua itu. Namun, bagaimana caraku mengungkapkannya?
Akhirnya, cerita ini terkubur beberapa tahun hingga pabrik itu diwariskan. Ada seorang jurnalis yang bertekad mencari kebenaran atas semuanya. Ia tak terima, gadis yang dicintainya menghilang tanpa jejak.

Sore itu, Sukma mengunjungi kedai Mbah Marsono seperti biasa. Sebuah kedai kecil di ujung Kota Temanggung. Letaknya persis di samping lahan kopi yang cukup luas. Walaupun kedai usang, orang dari berbagai kota rela jauh-jauh mendatangi kedai itu. Menurut mereka, secangkir kafein Mbah Marsono tak ada tandingannya.
Dua black panther terparkir di sana. Sukma mencoba masuk. Namun, langkahnya terhenti. Terlihat lelaki sekitar setengah abad mengintimidasi Mbah Marsono. Pria tua itu terduduk tak berdaya, dua orang tinggi kekar mengapitnya.
Seperempat jam berlalu, orang-orang itu melangkah pergi. Meninggalkan amplop coklat di atas meja. Sukma lekas masuk, ia amat khawatir dengan pria baya yang seperti kakeknya sendiri. Dibukanya amplop coklat itu, nama pabrik kopi Gunung Sindoro terpampang pada kop surat.

Jemarinya fokus pada mesin tik. Namun, tidak dengan isi kepalanya. Otaknya melalang buana. Ia bergumam, mengapa konglomerat pabrik kopi itu mengusik Mbah Marsono. Penghasilan kedai kopi mbah saja tidak ada sejumput dibanding pabriknya. Bagaimana mungkin menjadi saingan? Jika memang anggapan mereka seperti itu.
Belum usai dengan pikirannya, Galih teriak dari ujung ruang. Ia berkata, Mbah Marsono hilang. Secepat kilat, Sukma lari mengambil sepeda. Ia kayuh macam orang kesetanan.
Benar, pria tua itu hilang. Ia tak ada di sana. Beberapa pelanggan berkata, kedai terbuka selama dua hari. Namun, tak ada siapa pun. Sukma mengernyit, ia buru-buru masuk mengobrak-abrik isi kedai. Entah, apa yang dicarinya. Embusan nafas kasar seakan memberi isyarat, Sukma tak menemukannya.

Sukma berdiri di depan bangunan panjang. Semerbak biji kopi menguar. Amarah terlihat jelas pada sorot matanya. Ia melangkah dengan pasti. Baru satu meter dari gerbang, orang berseragam meneriakinya. Ia tak diizinkan masuk. Di sela ia berontak, manik matanya menangkap black panther yang bergerak keluar. Segera ia teriak, tapi tak dihiraukan.
“Mbah Marsono. Di mana bapak sembunyikan!”
Mendadak berhenti, mobil itu mundur. Terbukalah kaca gelap bagian belakang. Lelaki yang ternyata pemilik pabrik kopi Gunung Sindoro, menatap tajam pada Sukma. Ia memberi perintah untuk membawa gadis gila ini ke polisi jika tak mau diusir. Sukma melangkah pergi, sesaat setelah mobil itu tak terlihat lagi.
Dengan amarah menggebu-gebu, jemarinya mencoba menyamai kecepatan otaknya. Alunan mesin tik bertabrakan tak seirama. Berlembar-lembar kertas telah penuh. Ia menyambar kertas itu, melangkah pergi dengan dengusan.
Gempar sudah, rumor tak mengenakan telah bertebaran di surat kabar. Pabrik kopi itu benar-benar dibuat tak berdaya oleh Sukma. Meskipun jurnalis sebelah mata, kata-kata yang keluar dari ketikan jemarinya begitu tajam. Rumor itu terus bergulir hingga sepekan.

Sorot mata tajam menatap dengan penuh siasat. Gadis yang ditatap pun tanpa ragu melempar tatapan tak kalah tajam. Tidak ada yang berani melawan sosok Cipto Sudarso selama ini. Konglomerat pabrik kopi yang mampu menyumpal mulut siapa pun demi citranya. Bisa-bisanya, citra yang ia pertahankan diobrak-abrik oleh gadis bau kencur. Kini pabriknya dicap penipu oleh masyarakat. Bahkan, mereka gencar akan melakukan boikot produk kopinya. Penjualan pabrik menurun drastis. Berita tentang penculikan Mbah Marsono, pencurian resep racikan kopi, serta
pengambilan paksa lahan kopi, benar-benar dipercaya masyarakat. Pabrik Kopi Gunung Sindoro menjadi pelakunya.
“Saya menyerah.”
“Apa mau kamu? Akan saya kabulkan, asal kamu perbaiki citra pabrik saya.” Cipto berkata dengan beranjak dari duduknya. “Kamu mau pekerjaan mapan? Atau saya naikkan karier kamu agar…”
“Saya hanya mau Mbah Marsono kembali, begitu juga dengan haknya!” Cipto benar-benar tak habis pikir, dari mana tekad anak ini. Sebuah surat ia layangan di hadapan Sukma. Gadis itu hanya tersenyum miring. Ia menatap lelaki itu sebelum beranjak pergi.

Citra pabrik itu kembali baik. Namun, di mana Mbah Marsono? Mengapa tak kunjung kembali. Apakah mereka menipu Sukma? Tidak, mereka membuat
perjanjian resmi waktu itu. Ada notaris di sana. Bahkan, akta lahan kopi telah mereka serahkan pada Sukma. Apa ini? Perasaanku tak enak.
Langit telah gelap, Sukma mondar-mandir tak henti. Beberapa kali ia melongok ke pintu. Tak sabar, ia menyambar blazer coklat tuanya. Menempatkanku di kantungnya.
“Bapak menipu saya?” amarahnya tak terkendali.
Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis. Matanya menatap orang-orang di sekitarnya, seakan memberi isyarat perintah. Benar, dengan cepat mereka mencengkeram Sukma.
“Hilangkan jejaknya!”

Dalam gelap, bayangannya menyusuri lorong bangunan tua tak berujung. Dengan nafas memburu, serta kaki yang tak mampu berjalan lurus. Sukma berusaha keluar dari cengkeraman orang-orang bertubuh kekar. Tangannya yang gemetar merayap pada dinding putih kusam. Meninggalkan bercak saga di sana.
Naas, hari itu memang akhir baginya. Kulihat mereka mencabik-cabik Sukma. Tangan mereka dipenuhi segala jenis sajam. Tak lupa pula, seutas tali putih mendarat di tubuh gadis itu hingga biru menjalar. Mereka juga melakukan hal terkutuk hingga gadis itu tak bernyawa. Aku terlempar bersama blazer coklat tua. Kupandangi mayat gadis itu diseret entah ke mana. Meninggalkanku di atas jalan becek nan gelap. Aku juga tak berdaya.
Beberapa hari berlalu, aku hanya menunggu. Berharap tanpa ada harapan. Namun, dia datang! Galih menjemputku. Secercah harapan mulai tampak. Aku ingin teriak. Aku ingin bicara. Inginku ceritakan segalanya. Namun, inilah aku yang tampak mati dan tak berdaya. Entah bagaimana galih sampai di tempat ini. Ia pasti mencari Sukma. Aku yakin Galih bisa menemukan gadis itu, walau sudah tak bernyawa. Nihil, Galih tidak menemukannya. Jejaknya pun tak ada.

Begitulah, bertahun-tahun Galih tak kunjung menemukan Sukma. Sampai pertengahan tahun 2018 ditemukan kerangka manusia. Lokasinya tak jauh dari gudang terbengkalai, tempat terkutuk itu. Galih melakukan berbagai cara untuk mengidentifikasi kerangka. Akhirnya, terbukti kerangka manusia itu tak lain adalah Sukma. Gadis malang yang tragis. Galih sangat hancur, ia terpuruk. Ia menghabiskan waktu selama lima belas tahun. Namun, kenyataan pahit yang ia dapat. Setelah terungkap, kasus kelam itu tersorot kembali. Berbagai media memberitakan kasus ini. Anak Cipto Sudarso yang menjadi pewaris pabrik menanggung semuanya, mereka mendapat hukuman atas semuanya. Walaupun tak setimpal, karena Cipto sudah meninggal kala itu. Setidaknya, Sukma sudah mendapat keadilan.

Selesai dengan Sukma, bagaimana dengan Galih? Ia mengurung diri. Bahkan, mencoba melenyapkan dirinya sendiri. Ia hampir gila, atau mungkin memang sudah. Aku hanya mampu melihatnya dari pojok meja. ***
Ada satu hari, di mana tirai besar itu akhirnya terbuka. Galih mengakhiri masa terpuruknya. Tiga tahun, ia macam raga tak bernyawa. Ia berjanji tak akan memalingkan hatinya, hanya untuk gadisnya seorang. Ia hanya akan menjalani hidup untuk menunggu sang waktu tiba. Waktu ia akhirnya dijemput. Maka, tiap ulang tahun sang gadis. Ia akan membawa mawar putih untuknya. Bersimpuh, memandang gundukan tanah. Seolah gadisnya ada disana.
TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *