Selumbari Bayu memang pulang karena ayahnya meminta. Walau rasanya sedikit berat meninggalkan pekerjaan dan keglamoran kota, tapi Bayu pikir toh hanya sementara. Entah kenapa Bayu merasa dia harus benar-benar pulang kali ini. Rasa cemas seolah menggerogoti jiwanya ditengah rasa senangnya tinggal di kota. Siapa sangka rasa cemas itu benar menyampaikan sebuah pesan yang nyata. Sebuah tadi dijemput sang pencipta. Meninggalkan luka dan lara bagi ia dan ibunya yang masih ada di dunia. Penyakit kronis sang ayah yang telah diderita bertahun-tahun akhirnya membuat sang ayah menyerah, walaupun Bayu telah berusaha mencegahnya, tapi apalah daya. Semua kembali lagi pada sang pencipta.
Jika kesedihan yang Bayu rasakan saja sudah sesakit ini, bagaimana dengan ibunya yang menemani sang ayah selama ini? Sorot matanya yang sarat akan luka dan memintanya untuk membiayai acara tahlilan sang ayah untuk tujuh hari kedepan benar-benar membuatnya terlihat seperti anak durhaka yang tidak peka. Tangan kurus sang ibu yang membelainya dan lisannya yang terus mengatakan maaf membuat Bayu sakit hati. Dengan dirinya sendiri, juga pada orang yang masih teguh pada tradisi ini.
Seharusnya Bayu tahu mereka akan menuntut seperti ini. Seharusnya Bayu sendiri saja yang mengurus pemakaman ayahnya dengan langsung membayar jasa. Gotong royong yang mereka lakukan ini begitu meninggalkan rasa utang Budi kepada keluarganya dan seolah menuntut keluarga Bayu untuk mengadakan tradisi tahlilan selama tujuh hari berturut-turut dan berlanjut untuk hari-hari tertentu berikutnya.
Bukan Bayu tak mau, tapi tradisi yang mereka bicarakan ini sangat menguras isi dompetnya. Bayu bahkan sudah lupa berapa uang yang telah ia keluarkan pagi ini. “Le, beli ini”, “Le, beli itu”, begitulah kira-kira suara yang menyapanya sejak pagi. Bahkan di belakang sana sudah ramai para wanita paruh baya yang asik bergunjing ria dengan tangan memegang senjata memasaknya masing-masing.
Riuh, ramai, begitulah keadaan rumahnya saat ini. Sangat berbeda dengan kota yang sepi dari hal semacam ini, bahkan rasanya telinga Bayu sudah tak sanggup lagi mendengar kebisingan yang dihasilkan di dalam rumahnya sendiri. Pergi ke kamar salah, pergi keluar salah, dia harus terus duduk di ruang tamu menyalami para pelayat dan menerima ucapan belasungkawa yang tak ada habis-habisnya. Sungguh, sebenarnya Bayu ingin sekali duduk sendiri, merenung, dan membiarkan jiwanya istirahat barang sejenak.
Obrolan yang bapak-bapak didepannya bicarakan ini juga hanya bisa ia tanggapi dengan jawaban ia dan tidak. Bayu sudah lama sekali tidak pulang, ia lupa dan sudah tak punya kesan yang bisa dibicarakan untuk saat ini. Bayu tidak bisa sefrekuensi dengan bapak-bapak di depannya ini.
“Padahal dulu kamu ini aktif sekali kalau diajak ngobrol, sekarang begitu sudah di kota, sudah ga kaya dulu lagi.” Begitulah kata mereka seolah memvalidasi pemikiran Bayu sebelumnya. Bayu tak bisa menanggapi dan para bapak-bapak itu terus mengoceh didepannya tanpa henti. Mulai dari pekerjaan Bayu hingga niatan mereka untuk menjodohkan Bayu dengan anak perempuan mereka yang belum menikah. Uh, Bayu rasa pembahasan mereka cukup jauh untuk dibahas di acara duka seperti ini.
“Di kota juga ada tahlilan ga, le?” Tiba-tiba seseorang dari bapak-bapak itu bertanya. Dengan sebatang rokok yang baru saja dinyalakan Bayu menggeleng pelan, Bayu mengatakan bahwa dikota tak ada tradisi semacam itu. Bayu mulai bercerita bahwa kota itu sepi dan tidak ada keramaian semacam ini saat ada kematian. Jika pun ada kematian, maka mereka hanya datang dan pergi begitu mayat sudah diamankan, tidak seperti di sini. Bahkan ungkapan belasungkawa lebih banyak dinyatakan dengan karangan bunga sekalian mengiklankan bisnis mereka.
Para bapak-bapak yang mendengar itu hanya terkekeh ringan, entah karena miris dengan kehidupan desa mereka atau karena menertawakan kehidupan di kota. Mereka saling menyahut bahwa memang kita sangat berbeda dengan kehidupan di desa yang masih kental gotong royongnya. Oh, rupanya mereka menertawakan kehidupan kota, pikir Bayu. “Menurut Bayu sendiri bagaimana? Pean kan sudah lama tinggal di kota.” Sebuah pertanyaan terlontar sekali lagi untuk Bayu. Sebenarnya sedikit merasa tak enak, tapi Bayu berusaha memberanikan diri.
Rokok yang masih setengah itu Bayu matikan terlebih dahulu sebelum berpendapat. “Saya kurang suka dengan tahlilan ini.” Mulai Bayu. Bayu kira dirinya akan dihujat habis-habisan. Tanpa bapak-bapak ini tahu, Bayu juga sudah menyiapkan ancang-ancang untuk berlari begitu nantinya ia berkemungkinan akan dipukuli. Tapi yang Bayu dengar hanya tawa yang lebih parah dari hanya sekedar kekehan ringan di awal. Mereka bahkan bertingkah seolah-olah mendukung kata-kata Bayu yang menentang tradisi yang masih mereka jaga ini.
“Tahlilan sepertinya sudah tidak sejalan dengan kehidupan modern saat ini, ditambah juga sangat menguras biaya,-..” bla bla bla, Bayu mengutarakan pendapatnya dan bapak-bapak itu hanya mengangguk-angguk setuju sambil masih terkekeh ringan. “Benar-benar sebenarnya saya juga setuju” sahut seorang bapak-bapak di sana. Tapi bukannya senang, Bayu malah meragukan keseriusannya yang tiba-tiba sejalan dengannya.
“Bapak jadi ingat saat kamu diajak mendiang bapakmu tahlilan pertama kali.” Raut muka Bayu tiba-tiba melunak. Si bapak bercerita kalau dari pertamakali diajak tahlilan Bayu dengan anteng duduk di sebelah bapaknya dan ikut menirukan puji-pujian meski tak tahu pasti apa bunyinya. Bahkan setelah itu, Bayu terus mengikuti tahlilan bersama sang ayah atau bahkan pergi bersama mendiang kakeknya saking sukanya mengikuti tahlilan. Dulu saat ditanya Bayu selalu menjawab, suka karena bisa makan bareng rame-rame dan ketemu orang banyak.
Bayu yang mendengar terenyuh, sedikit mengingat masa kecilnya yang dulu suka sekali mengikuti tradisi yang sekarang bahkan ia tentang. Bapak-bapak itu juga berkata bahwa memang benar tahlilan sudah tak sejalan dengan kehidupan saat ini bahkan terkesan kuno. Bapak-bapak itu juga tak menyangkal jika tahlilan memang memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi tahlilan ada bukan karena keluarga yang ditinggalkan membalas Budi warga yang membantu. Tapi juga untuk menjalin silaturahmi antara warga.
“Tahlilan itu bukan seminar yang datang duduk dapat ilmu lalu pulang, kalau bukan di tahlilan kami bakal jarang kumpul-kumpul sambil jaduman, sama istri mana dibolehin keluar malam-malam?” Bapak-bapak lainnya menyahut dan tawa kembali hadir. Benar, kata mereka, meski uang yang dikeluarkan banyak, tapi bagi mereka yang masih menjalani tradisi ini, mereka sama sekali tak merasa dirugikan. Kita yang individualis sepertinya telah sepenuhnya menutup pikiran Bayu bahwa manusia itu harusnya tetap menjaga silaturahmi yang hangat tanpa topeng seperti ini.
Malam itu dengan setelan Koko milik mendiang ayahnya Bayu duduk diantara orang tua dan para pemuda desa untuk tahlilan bersama. Dipimpin seorang ustadz mereka melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci. Hingga acara selesai dengan ditutup dengan makan bersama, para warga yang hadir tak sepenuhnya pulang dan justru mengobrol bersama di rumahnya hingga salah seorang dari kelompok bicara itu menyarankan pulang.
Paling ramai adalah ketika hari peringatan 7 hari, karena para bapak-bapak itu membawa anak-anak kecil mereka. Meski terjadi sedikit kerusuhan tahlilan hari ketujuh tetap berjalan lancar. Bayu jadi teringat cerita bapak-bapak waktu itu yang menceritakan masa kecilnya. Ternyata begini ya rasanya melihat hal serupa secara langsung. Sungguh menggemaskan, apalagi ketika seusai itu mereka berlarian di halaman sembari menunggu ayahnya selesai berbincang dengan temannya.
Bayu sadar, modernisasi bisa terjadi. Tapi tradisi lah yang sebenarnya mengantarkan kita menuju modernisasi, jadi kenapa kita harus menghilangkannya hanya karena tidak relevan dengan zaman sekarang? Bukankah negeri ini kaya karena keberagaman tradisi yang dimilikinya? Jadi bukankah lebih baik jika kita melestarikannya daripada harus menghapusnya?
