Kringgg.. kringgg…
Suara alarm hpku berbunyi. Kala itu, di bulan puasa, aku sedang tidur siang dan sedang menanti pengumuman SNBP. Sudah aku rencanakan memasang alarm di jam 3 sore untuk melihat pengumuman SNBP. Aku langsung terbangun, segera mematikan alarm. Tepat jam 3 sore aku membuka web untuk melihat pengumuman itu. Dengan posisi muka masih sayu dan belum sepenuhnya nyawaku terkumpul, aku berusaha untuk memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahirku. Ternyata web itu mengalami masalah karena banyak yang mengakses. Aku terus berusaha mencari jalan keluar agar aku bisa segera mengakses web itu.
Akhirnya setelah banyak percobaan pada pukul 15.15 tepat aku berhasil untuk mengakses web pengumuman itu. Dan…..
BUMMM….
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LOLOS SELEKSI SNBP!
Tubuhku terguncang hebat, tanganku bergetar seperti masih tidak percaya. Aku memastikan beberapa kali untuk lebih meyakinkan dan yaa benar aku lolos masuk universitas impianku melalui jalur SNBP. Tanpa aku sadari air mataku jatuh, air mata ini adalah air mata kebahagiaan. Aku langsung berlari ke kamar Ibuku.
“IBUU IBUU, AKU LOLOSS IBUUU!” Teriakku.
“Lolos apa anak, ucapkan yang benar lolos apa?” Jawab Ibuku dengan kebingungan.
Dengan air mata yang bercucuran aku memeluk Ibuku dan berkata “Aku lolos SNBP di jurusan PGSD Ibu.”
Mendengar jawabanku Ibuku langsung memelukku dengan erat. “Alhamdulillah Ya Allah.” Ibuku meneteskan air mata bahagianya.
“Bapakmu sudah tahu anak?” Tambah Ibu.
“Belum bu, aku tadi langsung menemuimu belum bertemu dengan Bapak.”
Tiba – tiba laki – laki paruh baya dengan tubuh yang kekar itu masuk ke kamar dengan muka kebingungan. “ Ada apa ini kok nangis – nangisan ?”
“Pak anak perempuanmu ini lolos masuk kuliah tanpa tes pak.” Ucap Ibuku penuh haru.
“Alhamdulillah Ya Allah, selamat yaa anakku, selamatt, jangan lupa bersyukur sama Allah ya!” Pada momen itulah aku melihat untuk pertama kalinya laki – laki paruh baya yang selalu bekerja keras, yang selalu terlihat tegar dan tegas itu meneteskan air matanya karena beliau sangat bahagia.
Senang rasanya melihat Bapak dan Ibu begitu bahagia saat mendengar kabar anak perempuannya bisa lolos masuk kuliah. “Sudah kabari kakakmu?” Tanya Ibuku.
“Eh iya belum aku chat dulu.” Jawabku. Aku punya kakak tapi kakakku sudah menikah dan dia bekerja di luar kota.
“Mbak… lihat – lihatt tadaaa… adekmu mau jadi calon Guru!” – Inara.
“Hehhh seriuss, Ya Allah Alhamdulillah selamattt Adikkuuu, kerenn poll kamu!” – Mbak Rani.
“Terimakasih ya sudah mewujudkan mimpi Bapak untuk mempunyai anak seorang Guru, dulu waktu Mbak mau kuliah Bapak kekeh ingin Mbak ambil jurusan Guru, tapi hati Mbak tidak ada di jurusan itu. Mbak maunya di kesehatan dan itu juga mimpi Ibu yang ingin anaknya masuk kesehatan dan ya Mbak bisa masuk kuliah kesehatan dengan lancar. Sekarang mimpi Bapak kamu yang lakuin, selamat dan selalu semangat ya, jangan kecewakan Bapak sama Ibu ya!” – Mbak Rani.
Nangis? Bangett pliss, ternyata ini adalah satu alasan dari Bapak yang selalu mendukungku untuk masuk ke jurusan Guru. Aku sangat ingat sekali saat aku sudah pesimis untuk bisa masuk kuliah jurusan PGSD lewat jalur SNBP ini, Bapak dengan tenang berkata. “Tidak papa kalau tidak lolos jalur ini, masih banyak jalur lain yang bisa kamu tempuh untuk menggapai jurusanmu, nanti walaupun harus masuk dengan mendaftar lewat jalur mandiri tidak papa, ayok Bapak dukung.”
Benar – benar jalur langit, tidak berhenti aku bersyukur untuk nikmat yang Allah berikan padaku. Kalau dikata aku hebat tidak juga, semua ini bisa terjadi karena doa kedua orang tuaku yang berhasil menembus langit. Aku memegang satu prinsip “selagi orang tuaku meridhoi maka jalanku pasti akan dipermudah oleh Allah” dan aku sudah membuktikannya.
“Kok pada nangissih? Aku gatau apa – apa lo.” Ucap Rara, Adikku. Aku dan orang tuaku hanya tersenyum melihat muka Rara yang masih kebingungan.
“Ihh kok diam. Ada apaloo, Rara baru pulang ngaji ini.” Ucapnya dengan kesal. “Ihh anak kecil gaboleh kepoo!” Ucapku dengan jahill.
“Ibuu lihat Mbak ini!” Rara semakin kesal, tapi lucu muka dia saat kesal seperti itu.
“Udahh jangan marah – marah, inilo ada kabar baik Mbak Inara lolos masuk kuliah.” Ucap Ibuku menjelaskan pada Rara.
“Yeyy asyik habis ini Mbak bakal gatinggal di rumah ini, aku jadi anak tunggal deh.” Ucapnya dengan polos. Kita hanya bisa tertawa melihat tingkah polos dari Adik kecilku itu.
Kebahagiaan yang tidak akan pernah aku lupakan. Bapak dengan bangga menceritakan kepada orang – orang bahwa anaknya sudah berhasil lolos masuk kuliah. Senang rasanya sangat senang bisa menjadi bagian dari cerita Bapak. Melihatnya selalu bersemangat untuk menjawab dan menceritakan tentang kebahagiaannya itu sangat membuat hatiku tersentuh.
Tiba saat pengumuman penetapan UKT dan…. BUMM angka 7 terlihat sangat jelas di layar hp. 700 ribu? Ohh tentu tidakk, 7 jt kawan. Betapa hancurnya hatiku saat melihat UKT ku 7 jt. Berat sekali rasanya aku mau memberi tahu orang tuaku. Akhirnya aku memberanikan diri berbicara saat kumpul keluarga.
“Bapak, Ibu maaf UKT ku setiap semester 7 jt.” Aku memberitahunya dengan sedikit ragu dan kecewa. Tidak terdengar jawaban apapun dari orang tuaku. Hanya ekspresi terlihat sedih, kecewa dan kaget yang tergambar di wajah mereka.
“Tidak papalah, sandar itu sekarang saja sudah tahun berapa? Kalau dibandingkan sama zaman kuliahku memang lebih mahal milik Inara, tapi ya itu 14 tahun yang lalu, sudah tidak apa Inara juga sudah tidak membayar IPI.” Suara Mbak Rani memecah keheningan.
“Bener itu, sudah tenang saya Bapak ada simpanan kok, 7 jt mah okeelah penting nanti lulus jadi Guru, kamu kuliah juga yang benar ya.” Jawab Bapak seperti sedang menghiburku.
“Maaf ya, sekali lagi maaf, Inara bakal cari beasiswa kok agar UKT Inara dapat keringanan.” Jawabku.
“Iya sayang tidak apa, Inara pasti bisa kok, terus bedoa minta pertolongan Allah Ibu yakin Inara bisa kok.” Ucap Ibuku yang berusaha memberi aku semangat.
“Nahh betul tuhh nanti kalau sudah aktif kuliah pasti banyak kok beasiswa yang bisa kamu daftar.” Ucap Mbak Rani.
Masih sangat berat rasanya hatiku menerima kenyataan aku ditetapkan biaya UKT sebesar 7 jt. Sudah sangat merasa menjadi beban keluarga. Berhari – hari aku nangis gara – gara UKT itu. Hingga aku sudah mulai bangkit mulai mencari informasi beasiswa. Aku menemukan satu beasiswa yang membangkitkan semangatku untuk mendaftar Beasiswa Unggulan. Tapi sayangnya aku gagal dalam seleksi awal. Sudah di situ aku mulai menyerah lagi.
Tapi aku sadar, aku tidak boleh terus – terusan seperti ini. Aku harus terus bersemangat untuk menjalani hari – hariku. Tiba saat pekan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru). 2 hari sebelum PKKMB dimulai, aku sudah memutuskan untuk berangkat ke asrama kampus. Pada hari itu Bapak masih berada di tempat kerjanya. Bapakku adalah seorang buruh tani yang bekerja hanya saat musim tebang tebu tiba. Saat itu Bapak rela pulang dari tempat kerjanya untuk menemuiku sebelum aku berangkat ke asrama. Aku melihat Bapak dan Ibu sudah duduk di ruang tamu dan siam untuk menantiku berpamitan.
Aku menjabat tangan Bapak Ibu dan juga aku memeluk mereka. Air mataku sudah tak tertahankan, aku menangis di pelukan mereka berdua, sangatt berat rasanya untuk pergi meninggalkan rumah ini dan pergi jauh dari kedua orang tuaku.
“Sudah jangan menangis, tetap semangat, belajar yang rajin ya, nanti kalau sudah ada waktu luang kamu pulang ya Bapak jemput.” Mendengar ucapan Bapak air mataku tidak berhenti mengalir. Di sisi lain Ibu hanya bisa menangis saat melihatku menangis.
Mulai saat itu tekatku sangat kuat, aku harus belajar sungguh – sungguh untuk membuat mereka berdua bangga. Untuk mewujudkan mimpi Bapak yang ingin sekali anaknya menjadi Guru. Aku harus bisa agar usaha dan kerja keras Bapak dan Ibu untuk membiayaiku kuliah tidak sia – sia. Itu adalah tekat dan tujuan yang selalu aku pegang agar saat aku lelah, aku capek menghadapi perkuliahan yang masih awal ini, aku bisa terus bertahan dan berjuang.
Tak terasa aku sudah menjalani perkuliahan sampai pada 1 bulan menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Saat pulang ke rumah aku mendengar Ibuku berkata.
“Sudah bulan Oktober saatnya menyiapkan uang buat bayar UKT Inara semester 2.” Sakit sangat sakit mendengar ucapan Ibuku itu. Aku sangat merasa menjadi beban dalam keluarga ini. Aku hanya bisa terus berdoa semoga ada keajaiban sehingga UKT ku bisa berkurang. Aku juga tidak berhenti mencari informasi terkait beasiswa.
Beberapa hari setelah itu, aku mendapat informasi dari kampus, jika ada pendaftaran beasiswa KIP-K susulan. Dengan penuh semangat aku mendaftar beasiswa itu dan langsung mengurus segala persyaratan yang diperlukan. Pada hari itu juga aku pulang ke rumah untuk mengurus beberapa data yang dokumennya memang berada di rumah. Aku dengan bangga bilang ke Bapak dan Ibu.
“Pak, bu, doakan aku ya, aku mau daftar beasiswa KIP-K, ini beasiswa dari pemerintah, kalau ini lulus InsyaAllah UKT ku bisa gratis dan aku mendapatkan bantuan biaya hidup.” Ucapku.
“Tentu kami akan selalu mendoakanmu, semoga dikabulkan Ya Allah, berikan yang terbaik.” Mendengar ucapan Bapak dengan wajahnya yang penuh dengan haru, rasanya hatiku seperti diremas dan dihantam oleh benda tajam. Aku hanya bisa berkata dalam hati.
“Ya Allah tolong kali ini, jika bukan untuk aku tolong ini untuk kedua orang tuaku, tolong jangan hancurkan harapan besar orang tuaku.”
Satu minggu kemudian, aku membuka web KIP-K itu dan TADA… Tulisan di atas sendiri terpampang “PENETAPAN PENERIMA KIP-K” Bahagiaa sangatt bahagia. Aku langsung mengambil gambar layar itu dan mengirimkannya ke grup keluargaku. Jawaban – jawaban dari orang tua dan kakakku sangat membuatku terharu. Sekali lagi, ini adalah bukti kekuasaan dari Allah dan yang pasti ini adalah jawaban dari doa – doa orang tuaku. Tidak hanya itu yang membuatku dan keluarga bahagia. Tapi juga, pengumuman dari kampus yang menyatakan bahwa, penerima beasiswa susulan dapat menarik kembali uang UKT yang sudah dibayarkan.
Sungguh Allah sangat baik sekali kepadaku dan juga keluargaku. Tidak berhenti – henti segala kebahagiaan Allah berikan kepadaku dan keluargaku. Saat itu ibuku mengirim foto Bapak sedang menangis terharu, dengan terpampang keterangan di sana.
“Alhamdulillah, anak perempuanku disekolahkan Allah.” – Ibu.
Pecah tangisku seketika membaca pesan itu.
“Alhamdulillah, sekarang tugasmu hanya harus kuliah dan belajar dengan sungguh – sungguh, jangan kecewakan kami dan juga Allah yang telah memberikan ini semua ya, semangat Adikku sayang.” – Mbak Rani.
Tidak ada yang bisa membuatku sebahagia ini, kecuali melihat keluargaku bahagia. Apapun akan aku lakukan untuk terus bisa membuat mereka bahagia. Tunggu aku sampai lulus ya Bapak, Ibu. Anak perempuanmu ini akan membuktikan bahwa anak seorang buruh tani akan bisa lulus menjadi sarjana. Bapak aku janji akan mewujudkan mimpimu untuk memiliki anak seorang Guru. Semua usahaku untuk kebahagiaan kalian semua.

Melegakan sekali, namun sungguh luar biasa perjuangan seorang mahasiswa yang ingin menggapai ilmu. Diluar itu sering kali kurangnya bersyukur. Hingga kini semoga harapan teman-teman kita semua bisa tercapai. Jangan suka melihat diri ini paling tidak bercermin lah yang baik.