Janji Tahun Baru

Malam bertabur bintang melapisi seluruh wilayah bumi, dengan bulan yang bersinar sangat terang membuat kehidupan di bumi tampak bercahaya. Di sebuah desa yang jauh dari peradaban kota, terdapat sebuah gubuk tua yang dijadikan tempat berteduh dari hawa yang dingin dan hujan lebat yang mengguyur Sebagian wilayah Bandung. Gubuk tua tersebut ditinggali oleh seorang remaja laki laki yang baru saja berusia 20 tahun. Ia memandang bagaimana hujan mengguyur pelataran rumahnya, perlahan tangannya mengambil handphone yang tergeletak di atas meja belajar. Jari panjangnya dengan lihai mengetikkan kata demi kata yang membentuk sebuah kalimat.

‘kalian gak mau pulang?’
Pesan itu sudah terkirim, akan tetapi hanya centang 2 yang ia dapat, bukan balasan dari seseorang yang ia tunggu kehadirannya. Remaja yang dikenal dengan nama Nathanael itu menghela nafas pelan. Nathan sudah terlampau hafal bahwa semua pesan yang ia kirimkan di grup beranggota 4 orang itu tidak akan pernah muncul jawaban.

Ia terkekeh pelan mengingat bagaimana dulu mereka berkumpul di bukit belakang sekolah. Nathan ingat dengan jelas, dulu mereka adalah sahabat yang dekat bukan hanya sekedar teman kelas, tetapi saudara. Mereka berteman sejak usia belia, hidup dan tumbuh besar di sebuah panti asuhan pinggiran Kota Bandung. akan tetapi, setelah lulus sma semua temannya memilih untuk melanjutkan Pendidikan di luar kota. Dari yang tertua marko, ia melanjutkan Pendidikan di salah satu universitas ternama di Jakarta, lalu 2 sahabatnya jeno dan haikal mereka memilih kota dengan hawa dingin di Provinsi Jawa Timur. Nathan sendiri hanya melanjutkan Pendidikan di kota kelahirannya, Bandung. ia mengambil jurusan desain komunikasi visual karena ketertarikannya pada dunia seni.
“Nanti pas liburan semester kita kumpul lagi ya di bukit ini.”

Itu ujuran salah satu temannya dulu, Nathan kira itu bukan hanya bualan semata. Namun, ditahun pertama mereka berpisah tidak ada tanda-tanda bahwa temannya akan datang, padahal Nathan sudah menunggu hingga larut malam dan itu berlanjut sampai sekarang. Terhitung sudah 3 tahun mereka berpisah.
Sekarang Nathan sudah menjadi seorang fotografer handal yang karya-karyanya sering dipajang pada pameran seni. Bahkan bulan desember nanti, Nathan akan membuat pameran foto perdana setelah 2 tahun meluncur di dunia fotografi. Dalam pameran kali ini, Nathan mempersiapkan foto dengan tema “kaleidoskop akhir.” Tema yang belum pernah ia ambil sebelumnya.

Bulan telah berganti, hari ini adalah hari yang special untuk Nathan. Pameran yang sudah lama dinantiakan tampak meriah dibuka di sebuah Gedung yang berada di pusat kota. Nathan tersenyum Bahagia, dalam hati kecilnya ia berharap bahwa ketiga temannya hadir dan ikut memeriahkan pemarannya ini.
Dengan Langkah tegapnya, Nathan berjalan menuju podium yang sudah disediakan. Ia melantunkan kata demi kata untuk menyambut para tamu yang hadir.
Nathan tersenyum melihat bagaimana semua orang menikmati karyanya. Dari sekian banyak foto, ada salah satu foto yang belum Nathan tampilkan. Itu adalah foto special yang akan ia buka saat pergantian tahun nanti.
Tahun baru akan dimulai beberapa menit lagi, semua orang di dalam Gedung pameran menyaksikan sebuah foto special yang masih tertutupi oleh serambu merah.

Teng teng
Lonceng tahun baru telah berbunyi, semua bersorak heboh. Dengan perlahan, tangan Nathan terulur untuk membuka kain yang menutupi karyanya.
Srekk
Semua orang menatap kagum sebuah foto dengan tema “kaleidoskop akhir” yang menggambarkan bagaimana rindunya Nathan dengan teman-temannya. Sebuah foto yang menampilkan seseorang berefleksi dengan cermin, seolah bercerita tentang seorang Nathan yang menunggu kehadiran teman-temannya.
Nathan perlahan berjalan ke belakang, ia melihat bagaimana orang disekitarnya menatap haru pada foto yang ia ambil. Ada seseorang yang mengatakan bahwa foto itu mengingatkan pada sahabatnya yang sudah tiada. Nathan tersenyum sendu, matanya berkaca-kaca siap untuk menumphakan keluh kesahnya selama ini.
Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan kerinduan, tetapi ada banyak orang yang memiliki perasaan sama dengannyaa. Nathan sangat bersyukur karena karyanya diterima baik oleh semua orang.

“Nathan…“
Suara itu. Suara yang amat sangat ia rindukan. Suara yang ia tunggu selama bertahun-tahun. Dengan perlahan Nathan membalikkan tubuhnya, ia tersenyum sendu.
“teman -teman kalian datang..” ujar Nathan dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.
Mereka berpelukan erat membentuk lingkaran, seolah akan ada jarak lagi jika mereka melepas pelukan.
“Nathan maafin kita ya, maaf udah ingkar janji buat ketemu setiap tahun di bukit.” Ucap haikal.
Malam tahun baru ini, keempat sahabat itu menghabiskan malam dengan menanjak ke bukit belakang sekolah. Menikmati kembang api dan keindahan kota bandung dari atas bukit. Mereka berbagi cerita tentang kesibukan, meluapkan rasa rindu yang sudah tidak terbendung.

Nathan tersenyum menatap langit yang dipenuhi oleh kembang api, persahabatan mereka seperti “kaleidoskop akhir”. Meskipun banyak masalah yang datang, persahabatan mereka dapat menghadapi itu semua bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Ia juga percaya bahwa sebesar apapun rasa kerinduan akan terbayarkan dengan indah suatu saat nanti. Mereka saling menggenggam tangan dan siap memmbuat kaleidoskop selanjutnya dalam kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *