Di sebuah kampung yang asri dikelilingi sawah hijau dan pegunungan tinggi, tinggallah seorang anak laki-laki bernama Bintang dengan ibunya di sebuah gubuk tua peninggalan almarhum bapaknya. Bintang adalah seorang anak SMP yang mandiri dan penuh semangat. Dia selalu membantu ibunya berladang sepulang sekolah. Sedangkan ibunya adalah seorang penggarap ladang sayur milik Pak RT. Mereka merupakan keluarga sederhana yang upahnya hanya cukup untuk menjalani hidup sehari-hari. Namun begitu, mereka merupakan warga yang disegani di desa karena keramah tamahannya kepada warga dan suka membantu warga kampung yang kesusahan.
Sore itu tanggal 22 Juli setelah sepulang sekolah Bintang langsung membantu ibunya di ladang, ia membantu memanen wortel dan kubis yang sudah siap panen di ladang milik Pak RT. Sore itu Pak RT datang untuk melihat hasil panen kebun miliknya, “begitu banyak dan tampak segar semua” gumamnya dalam hati sambil tersenyum manis melihat hasil kerja keras Bintang dan ibunya.
Setiap panen Pak RT selalu memanggilkan pengepul sayur untuk dianggkutkan sayurnya menuju pasar di desa seberang, karena di sana harga sayur bisa lebih mahal dari biasanya. Dengan badannya yang kecil dan usianya yang masih tergolong muda. Bintang membantu pengepul sayur menganggkutkan sayur dari ladang ke mobil pick up semampunya. Sedangkan ibunya sibuk memanen sayur dan membersihkannya dari tanah. Panen hari ini cukup membuat kaki dan pundak Bintang kelelahan, untungnya upah yang diterima Bintang dan ibunya lumanyan besar, cukup untuk membuat semangat Bintang pulih kembali.
Malam itu ketika Bintang sedang memijati tangan ibunya, Arya teman Bintang datang kerumah untuk membuat tugas sekolah. Hampir saja Bintang lupa akan tugas itu. Dalam tugas sekolah tersebut, Binang dan Arya diminta untuk meliput kegiatan desa dalam rangka hari anak nasional yang akan dilaksanakan besok. Saat itu juga mereka langsung menyiapkan segala keperluan untuk liputan besok, termasuk mengelist beberapa pertanyaan yang akan diajukan dan juga kamera untuk dokumentasi lokasi kegiatan.
“Bu, apakah ibu ada kamera? Aku butuh kamera untuk wawancara besok bu,” Tanya Bintang pada ibunya dengan ragu-ragu.
“Sepertinya ada nak, sebentar ibu carikan,” Jawab ibu sembari beranjak dari tempat duduknya. Jawaban ibu kali ini cukup melegakan hati Bintang.
“Ini nak. Ini kamera milik bapak dulu, walaupun sedah berdebu tapi masih bisa dipakai dengan baik kok. Setelah besar nanti belilah yang lebih bagus ya,” Pesan ibu dengan menyodorkan kamera yang sudah tampak usang itu.
Bintang tanpak berkaca-kada dengan pemberian kamera milik bapaknya dulu. Dia bangga dengan ibunya, walauuan hidup serba apa adanya tapi tetap bisa menjadi ibu yang kuat dan selalu ada untuk Bintang.
Keesokan harinya, Bintang dan Arya menuju lapangan balai desa yang digunakan tempat perayaan hari anak nasional. Di sana Bintang dan Arya membantu mempersiapkan acara, memulai dekorasi ruangan dan menyiapkan segala properti yang diperlukan. Ada beberapa perlombaan yang akan dilaksanakan seperti melukis, menyanyi, menari, cerdas cermat, dan banyak perlombaan yang lainnya. Semua perlombaan bertemakan hari anak nasioanal dan hanya dikhususkan untuk anak TK dan SD. Bintang dan Arya mengikuti semua rangkaian perlombaan, mendokumentasikannya dan mewawancarai beberapa peserta dan panitia lomba. Selesainya semua rangkaian lomba yang mereka ikuti, Bintang merasa isi dengan kehidupan anak-anak yang tampak sangat menyenangkan tanpa beban. Sedangkan dirinya, harus bekerja untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama ibunya.
Di malam harinya, Bintang dan Arya duduk halaman rumah Bintang untuk menyelesaikan laporan wawancara hari ini. Mereka duduk di atas tikar sembari memandangi langit malam yang penuh dengan bintang. Bintang menunjuk ke arah langit dan berkata, “Lihatlah Arya, bintang-bintang itu seperti kita. Mereka kecil dan bercahaya, tapi mereka bisa menerangi langit malam yang gelap.” Arya mengangguk setuju. Arya terinspirasi oleh kata-kata Bintang. Walaupun Bintang berasal dari keluarga yang sederhana tapi semangat Bintang untuk bisa sukses sangatlah besar.
Malam itu, Bintang dan Arya berjanji untuk selalu bersama dan saling mendukung. Mereka ingin menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. Mereka ingin membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik untuk semua anak-anak.
Bintang dan Arya menatap langit malam dengan penuh harapan. Mereka yakin bahwa mimpi mereka akan menjadi kenyataan. Bintang-bintang kecil di langit malam menjadi saksi bisu tekad mereka untuk membangun masa depan yang lebih cerah bagi Indonesia.
