Gema Suasana HUT Formadiksi UM

GEMA SUASANA HUT FORMADIKSI UM

Oleh: Khikmatus Shahrin Maghfiroh

Alunan murottal menggema di kedua gendang telinga seorang mahasiswa tua. Gelombang suara dari speaker masjid menghiasi suasana senja yang dipenuhi warna jingga kemerahan. Orang berlalu lalang pulang dan pergi dari perjalanan. Entah yang membawa takjil di keranjang sepedanya, atau yang masih hendak menemui penjual untuk membeli santapan berbuka. Di balik netra mahasiswa yang duduk di teras rumah kala itu, telepon genggam menyala menampilkan nama seorang sahabat lama.

Tangan kekarnya bergerak mengambil handphone dan menggeser tombol hijau ke atas. Terdengar ucapan salam dari seseorang di seberang. “Wa’alaikumussalam Dan. Ada apa kok tumben nelpon?”, jawab mahasiswa tersebut. Tak langsung ada jawaban dari seorang yang disapa Dan itu. Telepon dipenuhi suara gemerisik yang entah berasal dari mana. Tak lama kemudian, suara di seberang kembali tertangkap oleh indra pendengaran. “Halo Zain, maaf ini signal agak susah, lagi di rumah hehe. Tahu kan kalau rumahku di desa.” Terdengar suara kekehan di akhir celoteh orang di seberang. “Iya Dan, aku tahu. Ada apa kok tumben nelpon?” balas mahasiswa tua tadi yang ternyata bernama Zain. “Ini dapat kabar dari pengurus Formadiksi tahun 2022. Sebulan lagi kan HUT ke-11 nih. Jadi, tadi aku diundang untuk datang ke acaranya. Kamu pingin ikut?”.

Zain merasa dirinya kembali ke masa lalu. Merasa dejavu dengan pembicaraan ini. Mengingat dirinya dulu saat masig berkecimpung di organisasi ini. Mulai dirinya yang mengikuti open recruitment tanpa alasan yang jelas. Namun dengan seiringnya waktu, ia tahu apa arti semua kebersamaan dengan tujuan kebermanfaatan. Tak terasa sudah tiga tahun berlalu dari dirinya yang mulai direpotkan membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Yang membuat dirinya akhirnya tahu bagaimana untuk membagi waktu dengan tepat diantara kuliah, organisasi, waktu dirinya beristirahat, atau sejenak refreshing dari berbagai persoalan dunia. Zain menyadari sesuatu sekarang. Mungkin jika ia tidak berada di kepengurusan Formadiksi tiga tahun lalu, pengalaman dan ilmu yang ia dapat sekarang, mungkin saja tak kan berpihak pada tangannya.

“Halo Zain, kok diam aja. Gimana? Kamu pingin ikut?” suara orang di seberang membuyarkan lamunan Zain. Zain sedikit terperanjat dan tersadar bahwa Maghrib telah datang. Suara adzan menggema di seluruh desa. Ia segera menuju dapur untuk mengambil segelas air dan mulai meneguknya. “Halo Dan. Maaf ini baru adzan Maghrib. InsyaAllah aku ikut Dan. Tanggal 29 Mei kan ya?” ucap Zain pada akhirnya. “Iya, tanggal 29 Mei. Oke aku tunggu ya. Kabar-kabar kalo mau berangkat ke Malang.” timpal seorang yang disapa Dan tadi. “Siap. Makasih ya infonya. Aku tutup dulu, mau ke masjid. Assalamu’alaikum Ardan.” tutup Zain di akhir sesi telepon sore itu. Seseorang di seberang yang ternyata bernama Ardan menjawab dengan sedikit gurauan atas pernyataan Zain tadi. “Iya Pak Ustadz. Selamat berbuka. Aku yo mau ke masjid. Wa’alaikumussalam.”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *