Berangkat dari keluarga sederhana anak kecil itu dilahirkan sebagai sosok perempuan pertama yang dimiliki oleh orang tuanya. Ia bernama Aura. Semasa kecil, Aura selalu ditemani oleh Ayah dan Ibunya ketika bermain dan belajar. Aura menyadari hal itu sudah cukup membuatnya bahagia, selalu bersama-sama dengan kedua orang tuanya. ditengah kehidupan yang sederhana. Aura diajarkan arti dari hidup hemat, mandiri, dan selalu bekerja keras ketika menginginkan sesuatu. Kepribadian masa kecil itu selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. semaksimal mungkin Aura selalu menabung ketika ada hal yang dia inginkan untuk dibeli, hidup hemat, dan merasa cukup atas apa yang telah ia miliki. semakin Aura bertambah usia semakin banyak hal dan pengalaman yang telah Aura lewati. beragam jenis manusia yang telah Aura temui.
Di sudut ruangan Aura mulai merenung memikirkan segala pertanyaan yang muncul dari dalam diri dan entah mengapa serta harus bertanya kepada siapa untuk ku menemukan jawabannya. Sampai kapan aku harus bekerja keras dan menahan segala keinginan yang tak bisa ku capai, sedangkan teman-teman di sana sudah melangkah jauh dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan? apakah keterbatasanku ini membuat ku jadi sulit dalam mengejar mimpi di masa depan?
ditengah taman yang indah Aura sedang berdiam diri dan mencoba terus berbicara dengan pikirannya sendiri. Tibalah sahabat Aura yang mencoba untuk mendekati.
Mentari : “Ra, Aura.” (sambil melambaikan tangan didepan wajah Aura yang masih terlihat melamun).
Berapa panggilan lembut tetap saja tak membuatnya sadar dengan lamunan yang kian asik menjiwai pikirannya. Akhirnya Mentari memberikan lontaran kata yang sedikit mengagetkan dan menepuk pundak Aura dengan sedikit tenaga hingga Aura tersadar.
Aura tersadar dan langsung menengok ke samping kanan sumber dari tepukan kecil yang mengagetkan itu.
Aura : “Mentari, kamu kok ngagetin aja sih?”
Mentari hanya tersenyum kecil dan berkata, “lihat deh ruangan ini itu udah sepi. waktunya kita pulang bukan malah enak-enakan ngelamun. Ih kesamber nanti.”
Aura : “Ih nakut nakutin mulu kamu tuh ya…
(sambil memukul kecil pundak mentari yang membuat Aura sedikit kesal padanya)
Mentari : “Ayo kita pulang bareng, mainnya hari ini udah selesai.”
Aura dengan bergegas bergerak merapikan barang barang sambil menganggukkan kepala menandakan ia setuju.
Setengah perjalanan pun berlalu, mereka berdua berjalan beriringan dengan ditemani suara keramaian kendaraan lalu lintas. Ditengah perjalanan Aura masih ingat betul apa yang tadi sedang membuat nya ia gelisah. sehingga Aura mencoba untuk bercerita kepada sahabatnya, mentari.
Aura : “Mentari, apa kamu pernah sedih memikirkan keadaan keluarga yang mungkin tidak sesuai ekspektasi kita saat kecil dulu?”
Mentari : “Pernah, karena aku memiliki seorang adik yang sekarang perhatian kedua orang tua ku teralihkan ke adik. tapi ya sudahlah walaupun begitu ibu terkadang masih menemani ku dan menghiburku dikala adik sedang tidur. kenapa emang nya?”
Aura : “Aku sedikit bingung dengan keluarga ku yang selalu melontarkan kata-kata kalau aku harus jadi anak yg hebat, kuat, mandiri, bekerja keras. tapi sampai kapan aku harus begitu, terkadang aku lelah untuk bisa mendapatkan apa yg aku inginkan aku harus berjuang terlebih dahulu. mau sampai kapan aku begini?”
Mentari : “Ra, mana ada sih orang tua yang mendoakan tidak baik ke anak-anaknya. mana ada sih orang tua yang membiarkan anaknya mandiri berdiri sendiri? kita sejatinya gak pernah bisa berdiri sendiri ra, walaupun orang tua tidak serta merta hadir dalam usaha kita. tapi doa orang tua itu yang selalu mengikuti kita dimanapun kita berada.”
Aura : “Jadi orang tua ga pernah menjauh dari kita ya ri?”
Mentari : “Ya iyalah.. “
Mendengar ungkapan mentari yang cukup melegakan sedikit menjawab hal-hal yang menjadi pertanyaan di benak Aura. Tak terasa Aura dan Mentari sudah sampai pada rumahnya masing-masing. kebetulan ayah dan ibu sedang pergi membeli perlengkapan dan bahan makanan untuk keseharian yang sudah habis.
Aura memainkan ponselnya untuk menemani kesendirian dalam rumah. ketika Aura sedang asik scrol media sosial terlintas berita media sosial yang kurang mengenakkan.
“Telah Resmi Keluarga Celebrity Terkenal ini Cerai, mau tak mau kedua anaknya harus memilih mengikuti sang Ayah atau Ibundanya.”
Kasihan sekali keluarga mereka harus berpisah, seharusnya aku lebih bersyukur masih memiliki orang tua lengkap. Ayah yang hebat serta ibu yang kuat.
Meskipun Ibu Aura tidak seperti ibu karir pada umumnya, Aura baru menyadari bahwa Ibu Aura adalah ibu yang spesial, dikala Ayah harus bekerja, masih ada Ibu yang selalu menemani Aura di rumah, mempersiapkan makan untuk keluarga, bangun lebih awal untuk beres-beres rumah. Bahkan segala keperluan Aura selalu Ibu bantu untuk memenuhinya. Aura tidak pernah melihat Ibu sedih dan menyesal memiliki Aura. tapi kenapa Aura sempat berpikiran untuk meragukan orang tua Aura ya? (Aura sempat bingung dengan apa yang ia rasakan).
Ketika Ayah dan Ibu Aura sudah pulang tak lama kemudian Aura menghampiri Ibu yang terlihat sedang sibuk di dapur menaruh beragam perlengkapan dan mempersiapkan makan malam untuk nanti. Aura mengintip dari kejauhan dengan waktu yang cukup lama akhirnya Aura memberanikan diri untuk menghampiri ibunya.
Aura pun mulai membuka interaksi dengan Ibunya.
Aura : “Ibu, Aura mau disini, apakah ibu terganggu?”
Ibu : “Tentu saja tidak, ada apa anakku? sepertinya kau tak membawa pikiran kosong untuk menemui ibu?”
(Ibu sembari tersenyum melihat tingkah anak satu-satunya itu)
Aura : “Ibu, ada yg ingin Aura tanyakan ke Ibu. Apakah ibu tidak bosan selalu saja memenuhi apa yang kami butuhkan? menyiapkan makanan, menemani ku belajarbelajar, bangun lebih pagi.”
Ibu : “Sayangku Aura kamu ternyata sudah dewasa ya (ibu tersenyum bahagia menatap Aura dengan sangat dalam dan hangat) Setiap orang memiliki peran hidupnya masing-masing sayang. Ayah bekerja untuk kita, Ibu menyiapkan segala hal itu untuk kita juga, dan tugas kamu Aura, adalah belajar dan berbakti kepada orang tua. Ibu ga pernah capek dan bosan menjalankan ini, karena ini sudah tugas utama dari seorang ibu. Ibu sangat bangga juga memiliki Aura yang sudah tumbuh dengan hebat ini. tak perlu resah sayang, Ibu ada di sini untuk Aura. kalau Aura butuh apa-apa sampaikan saja pada ibu.”
Aura : (Tanpa berkata-kata panjang Aura langsung memeluk ibunya dengan erat) Kalau begitu Aura akan menjadi hebat seperti yang ibu inginkan.
Sejak saat itu Aura paham betul mengapa Ibu sangat mudah untuk melakukan hal-hal berat karena semua itu demi keluarga. Aura tak perlu iri dengan pencapaian orang lain, bisa jadi ada banyak hal yang lebih baik untuk Aura daripada hal itu. Kian hari umur kian bertambah. Dewasa, mengajarkan Aura makna perjuangan Ibu sesungguhnya. terkadang kita hanya berekspektasi sampai melupakan realita yang terjadi. Selalu melihat keatas bahwa ada kehidupan indah yang tak bisa dicapai dengan keterbatasan yang kita miliki, namun lupa masih ada luasnya langit yang selalu memberikan harapan luas dari jalan yang berbeda. Ditengah jalan yang rumit ada suatu tempat tujuan indah yang ingin kita temui. Standar bahagia setiap manusia akan terus berubah jika ia tak mulai mensyukuri apa yang ia punya. Mungkin kita hanya lelah dengan kehidupan ini, namun tidak untuk menyerah. Semangat Aura bangkit kembali untuk mengejar mimpi dan mencapai prestasi agar orang tua bangga. Meskipun ada keterbatasan, tak kan lagi membuat Aura mundur untuk bergerak. Aura akan mengingat-ingat betul apa yang telah Ibu katakan. Kita semua pasti bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan segala usaha baik. Ibu adalah semangatku. Terima kasih Ibu.
