Gerimis di sore hari menjadi suasana yang syahdu menjadi pengiring tahun yang akan segera berganti. Pada saat itu tiga orang yang tengah asyik berbincang di sebuah cafe untuk menikmati waktu liburan akhir tahun mereka, tiga orang itu adalah Fino, Nolan, dan Karina.
“Nanti malem mau pada kemana nih?” Ucap Fino yang memulai perbincangan saat itu.
“Yah paling tidur, lagian ga ada yang ngajakin main juga” Ucap Nolan sembari menyeruput secangkir kopi yang dipesannya.
“Hadeh nih bocah tidur mulu kerjaannya, kalo lo ada agenda apa Kar?” tanya Fino.
“Gue juga masih belum ada agenda sih” jawab Karina.
Karena semua masih belum ada agenda buat tahun baru, maka mereka merencanakan untuk pergi ke pesta kembang api di taman kota, dan akhirnya mereka sepakat untuk berangkat bersama-sama.
“Eh gue mau ke toilet bentar ya, nitip tas jagain” ucap Fino.
Tinggallah Nolan dan Karina di meja itu, Nolan sudah memendam rasa kepada Karina sejak lama namun dia tidak berani mengutarakan perasaannya itu karena takut akan menimbulkan rasa yang kurang nyaman kepada Karina ketika ia mengungkapkannya. Namun pada saat itu, terbesit dalam pikiran Nolan untuk mengutarakan perasaannya saat pesta kembang api nanti dan mungkin inilah waktu yang sesuai. Nolan tidak berkedip sedikitpun saat melihat Karina dan sedikit tersenyum karena terpesona oleh kecantikan Karina.
“Lan, lo ngapain senyum-senyum?” Tanya Karina kebingungan.
Pertanyaan itu membuat fokus Nolan menjadi buyar, “Eh gapapa kok, mana ada gue senyum”
“Ye jangan lama-lama liatin gue, ntar lo suka lagi” ucap Karina sambil tertawa.
“Emang” Ucap Nolan yang keceplosan. Namun ia segera mencari alasan untuk menutupi ucapannya tadi, kebetulan diseberang meja ada anak kecil yang sedang bermain dengan orang tuanya. Lalu Nolan langsung berkata “Emang gue lagi liatin lo? Orang gue lagi liatin anak yang main sama bapaknya tuh. Pede banget dah” nada Nolan sambil bercanda.
Setelah itu Fino sudah selesai dari toilet dan mereka pun menyambung obrolannya sembari menanyakan pekerjaan masing-masing.
Tak terasa sudah cukup lama mereka berbincang dan waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Saatnya menuju taman kota untuk melihat pesta kembang api dalam menyambut tahun baru.
“Udah jam segini nih, berangkat yuk tempatnya lumayan jauh takut ga kebagian tempat yang enak” ajak Nolan dengan semangat. Dan kedua temannya pun langsung mengiyakan untuk berangkat. Setelah 1 jam perjalanan, sampailah mereka di taman kota. Suasana saat itu memang sudah ramai pengunjung yang datang untuk memeriahkan acara tersebut, mulai dari anak kecil hingga orang tua ada disana. Setelah memarkirkan mobil, mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk menikmati suasana akhir tahun ini.
“Nah disini aja enak agak luas dikit” ajak Karina.
“Eh kita belum ada kembang api nih, bentar gue beli dulu” ucap Nolan
“Ikut dong, gue juga mau beli. Kar lo tunggu sini bentar ya, jagain tempatnya” kata Fino
Akhirnya Fino dan Nolan pun pergi mencari kembang api, sedangkan Karina menjaga tempat dan barang.
Ditengah perjalanan mencari kembang api Fino curhat kepada temannya, Nolan. Bahwa pada pergantian tahun baru nanti ia akan mengutarakan perasaannya kepada wanita yang dicintainya.
“Eh bro nanti tengah malem pas pergantian tahun gue mau nyatain perasaan gue ke seseorang” kata Fino
“Oh ya sama dong gue juga mau nyatain perasaan gue ke seseorang” jawab Nolan
“Wih beneran? Yaudah nanti kita nyatain bareng gimana.” Ajak Fino
“Ya liat nanti aja deh haha, emang siapa cewek yang lo suka?” Tanya Nolan
“Emm itu, Karina sebenernya gue udah lama suka sama dia tapi kayaknya ini waktu yang cocok buat nyatain perasaan gue ke dia.” Jawab Fino
Mendengar jawaban Fino bagaikan sebuah peluru yang menembus jantung Nolan. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, lemas dan sesak yang mungkin Nolan rasakan saat ini karena mengetahui bahwa dia mencintai orang yang sama dengan sahabatnya sendiri.
“Kenapa Lan kok diem” Tanya Fino membuyarkan lamunan Nolan
“Em eh anu, ini dompet gue ketinggalan di tas” jawab Nolan yang beralasan
“Yaelah santai aja kan ada gue, pilih aja ntar gue yang bayarin. Sekali-sekali traktir lo kan haha.” Ucap Fino sambil tertawa
“Iyaudah deh nanti gue ambil yang banyak biar lo bangkrut haha” balas Nolan yang menutupi kesedihannya.
Setelah selesai membeli beberapa kembang api, mereka pun segera kembali ke tempat Karina berada. Setelah kejadian tadi, sikap Nolan kepada Karina menjadi berbeda. Nolan bersikap seolah menjauh dari Karina agar menjaga perasaan sahabatnya itu. Senyum yang biasanya Nolan berikan kepada Karina, kini berubah menjadi sebuah kesakitan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Pergantian tahun hanya menunggu hitungan beberapa menit lagi, menyadari bahwa Fino akan mengutarakan perasaannya kepada Karina, Nolan pun mencari alasan untuk meninggalkan mereka berdua
“Eh gue ke toilet dulu ya, ntar kalo udah waktunya nyalain kembang api, nyalain duluan aja jangan nunggu gue.” Pamit Nolan
“Lah lo juga jangan lama-lama biar bisa nyalain bareng” jawab Karina
Nolan hanya tersenyum, lalu berbisik kepada Fino “semoga berhasil ya Fin”. Fino pun tersenyum dan paham. Lalu Nolan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kar, kenapa langitnya ga ada bintang”
“Iya ya kok ga ada, kenapa tuh”
“Karena bintangnya ada disini”
“Yee bisa aja lo”
“Gue mah semua juga bisa, cuma satu yang gue ga bisa”
“Apa?”
“Ngemilikin lo”
“Yaelah bisa aja bercandanya haha”
“Gue mau ngomong serius Kar, sebenernya gue udah lama punya perasaan sama lo dan mungkin hari ini adalah waktu yang tepat dimana gue menyatakan perasaan gue selama ini sama lo. Gue suka sama lo dan gue harap lo bisa Nerima perasaan gue.
Karina masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia alami, namun karena Fino terus meyakinkan perasaannya kepada dia, dia pun luluh dan akhirnya menerima Fino
“Iya Fin, gue terima perasaan lo. Tolong jaga kepercayaan yang gue kasih ya”
“Akhirnya, makasih Kar gue akan selalu jaga kepercayaan lo” ucap Fino.
Suasana saat itu semakin meriah karena ternyata sudah saatnya pergantian tahun baru, namun mereka belum melihat adanya tanda-tanda Nolan. Mengingat pesan Nolan tadi, mereka berdua pun menyalakan kembang api bersama-sama dengan penuh sukacita.
Dari kejauhan tampak Nolan sedang bergelut dengan perasaannya sendiri, entah senang, sedih, sakit, kecewa menjadi satu saat itu juga. Disatu sisi dia senang melihat temannya bahagia, namun disisi lain dia juga sedih harus merelakan orang yang dicintainya menjadi milik sahabatnya. Namun suara ledakan kembang api dan alunan terompet pada malam itu seakan menjadi api semangat bagi Nolan untuk mengikhlaskan yang telah lalu dan fokus kepada hal yang akan datang di tahun yang baru ini.
Ikhlas yang sejati bukanlah dari yang terpaksa lalu terbiasa, namun yang sudah bisa menerima sedari awal. Karena mencintai tidak harus memiliki.
