Mampukah Aku?

Ruangan yang biasanya lenggang entah mengapa pada siang hari ini rasanya sangat sesak, kipas tornado berputar sangat kencang namun anginnya bukan membuat udara semakin sejuk, tetapi membuatku semakin tidak bisa bernapas. Di ruangan itu hanya potongan kalimat ini saja yang terdengar.

“Walah, Nduk, manut Budhe aja lo, ngapain, sih, kamu itu aneh-aneh. Surabaya itu sudah kota besar, kenapa kamu repot-repot cari sekolah ke China?” kata budhe, “mau makan apa kamu di sana nanti?” 

Semua orang hanya bisa diam mendengarkan ucapan budhe bahkan bapak dan ibuku tidak membantah sepatah kata pun seolah-olah mereka setuju dengan apa yang sudah budhe sampaikan tadi. Secarik kertas dan amplop berwarna coklat yang kubawa seakan-akan hanya hiasan semata, tidak ada maknanya, dan tidak dipedulikan. Satu per satu air mataku gugur membasahi tiap kata yang ada pada kertas itu, tetapi aku tidak mau diam seperti yang lain aku tidak mau air mataku jatuh begitu saja kuberanikan diri untuk membela diriku dan membela masa depanku.

“Iya, budhe, Surabaya itu kota besar dan luas, tetapi untuk masuk ke perguruan tinggi itu tidak mudah, Aya sudah mendaftar ke delapan perguruan tinggi tetapi tidak ada yang lolos,” isak tangisku semakin pecah. 

“Ya, belajarmu, Nduk, yang kurang, Siti anak Bu Dirma saja bisa diterima di kampus negeri masa kamu ga bisa,” bantah budheku. 

“Apa bedanya to Budhe, Aya dengan Siti? Siti rezekinya diterima di kampus negeri dan Aya dapat rezeki diterima di kampus luar negeri,” kataku, “Aya juga dapat beasiswa, Budhe, jadi Aya nda membebani bapak dan ibu di rumah,” ucapku.

Perdebatanku dengan budhe semakin panas. Budhe merupakan kakak tertua dari bapakku, kami tinggal satu atap bersama cucunya yang masih duduk di bangku SMP. Keluarga kami tergolong menengah ke bawah dan biaya untuk segala kebutuhan kami hanya dari bapak saja, untuk makan enam orang sehari-hari cukup, namun untuk kebutuhan yang besar seperti biaya pendidikan bapak harus memutar otak agar kedua anaknya bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang yang tinggi. Ibuku mengelus pundakku sebagai tanda aku harus mengalah dan mengakhiri perdebatanku dengan budhe, aku tidak punya pilihan lain selain menyimpan kembali surat pengumumanku lolos diterima di Guilin Normal University, kampus terbaik di China dengan beasiswa full funded. Aku kembali ke kamar dan hanya bisa memeluk surat itu dengan suara tangisanku yang semakin kencang.

Aku Aya, perempuan biasa yang memiliki cita-cita tinggi sebagai ahli bahasa. Sejak SMA, aku menekuni kemampuanku dalam berbahasa asing, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Karena rasa ingin menggapai cita-citaku, setelah lulus SMA aku ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi jurusan bahasa. Aku mengumpulkan semangatku dan tekun belajar, aku mendaftar di delapan perguruan tinggi terbaik di Indonesia khususnya wilayah Surabaya, namun semuanya harus aku terima dengan pahit bahwa aku tidak lolos di delapan perguruan tinggi yang kudaftarkan. Namun, aku tidak menyerah begitu saja, aku menggali sebanyak mungkin informasi perguruan tinggi lain sesuai dengan jurusan yang kuminati yaitu bahasa. Pada suatu hari, ponselku berdering, kulihat siapa pagi-pagi buta menelponku, kubaca di layar ponsel tertera nama Bu Indah segera kuangkat dan kudengarkan dengan saksama apa yang akan disampaikan oleh Bu Indah. Bu Indah merupakan guru sastra Inggris sekaligus wali kelasku di SMA selama 3 tahun.

“Assalamualaikum Aya, maaf ya Bu Indah nelpon kamu pagi-pagi buta. Bu Indah mau informasi ke kamu Aya. Alhamdulillah kamu lolos diterima di Guilin Normal University dengan beasiswa penuh, suratnya bisa kamu ambil besok, ya, di ruangan saya. Bu Indah tutup, ya, telponnya, wassalamualaikum.” 

Hanya pesan itu saja yang kudengar dari Bu Indah tanpa ada basa-basi dan segera ditutup telponnya, aku masih tidak menyangka itu, tapi Guilin? Tempat apa itu? Aku mencoba mengingat-ingat, setelah beberapa menit aku mencoba mencari tahu bagaimana bisa aku lolos seleksi di Guilin Normal University, kemudian aku tersadar bahwa 2 bulan yang lalu sebelum aku mendaftar di PTN, Bu Indah memberikan saran agar aku mendaftar di China karena sesuai dengan kemampuan berbahasa yang kumiliki dan Bu Indah memberikan informasi bahwa ada beasiswa penuh kuliah di China, aku sangat tergiur dan menyetujui tawarannya tanpa berpikir panjang lebar dan meminta persetujuan orang tuaku. Semua proses pendaftaran Bu Indah yang membantuku namun pengumuman kelulusan yang cukup lama sehingga membuatku lupa dan fokus pada pendaftaran perguruan tinggi yang lain.

Tok….tok….tok

“Nduk, Ibu masuk kamar Aya, ya,” suara ibuku. 

“Masuk saja, Buk, pintunya nda Aya kunci,” jawabku sembari menahan tangisku.

“Gimana, nduk? Sudah tenang? Ibu boleh ngobrol sama Aya?” lembut sekali suara ibuku. 

“Boleh, Buk, mau ngobrol apa? Mau marahin Aya, ya?” sahutku. 

“Kata siapa? Ga boleh berpikir negatif gitu, ya, anak Ibu yang cantik,” kata Ibu, “Aya tahu kan kalau bapak dan ibu sayang sama Aya, bapak ibu juga selalu mendukung keputusan Aya jika itu baik untuk Aya,” ibuku menghela napas sebentar, “tapi nduk, China itu jauh sekali, bapak ibu nda melarang, kok, kalau Aya mau sekolah ke China, tapi pertanyaan ibu apa Aya sanggup di China selama beberapa tahun?” tanya ibuku.

Aku hanya bisa terdiam dan kembali meneteskan air mataku dan kembali melihat surat itu. 

“Ibu setuju dengan Budhe, ya?” tanyaku, “kalau Aya nda kuliah di China Aya harus kemana, Buk? Aya sudah ditolak berkali-kali di kampus negeri,” tangisku semakin pecah. 

Nduk, kena iwake aja nganti buthek banyune,” lanjut ibu, “Aya sekarang tenangkan diri Aya dulu, Aya pikirkan keputusan Aya matang-matang, jangan gegabah, jangan sampai Aya ingin mengejar cita-cita tapi itu akan menjerumuskan Aya sendiri,” nasehat ibuku.

Aku hanya bisa terdiam dan merenungi apa yang sudah ibuku sampaikan. Hari sudah sore, aku izin ke ibu keluar sebentar untuk mencari angin segar dengan mengendarai sepeda kayuhku dan tentu selalu kubawa surat itu, aku menyusuri jalanan tanpa kusadari ada lubang yang sangat besar kemudian aku terjatuh.

Gubrak….

Kemudian aku terbangun dan ibuku meneriakiku sambil mematikan alarmku, “Aya sudah jam berapa ini? Kamu ada kelas pagi, mau berangkat jam berapa kamu?” teriak ibuku.

“Jam berapa sih, Bu?” tanyaku.

“Jam 7, Aya!” bentak ibuku.

“Ha? Jam 7, Buk, Aya ada kelas jam setengah 8,” kataku.

Bergegas aku ke kamar mandi, mencuci muka dan siap-siap berangkat ke kampus. 

“Haduh! Aya kebanyakan mimpi sih, kamu,” gumamku. 

Mimpiku yang terasa seperti nyata namun nyatanya sekarang aku adalah mahasiswi semester 4 jurusan bahasa di kampus terbaik di Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *