Meresap Sendu

Cahaya terik sang mentari memasuki celah-celah gorden jendela yang sengaja dibuka hanya setengah. Aku kembali membasuh mukaku yang sembab perkara semalam. Baju sekolahku sudah rapi, tinggal menyusun ambisi agar memiliki selera belajar nantinya. 

“Gadisku yang cantik, anak manisnya Ayah. Kamu pasti lapar ya nak? ayo ke teras, Ayah sudah siapkan sarapan.” suara lembut dari cinta pertamaku, Ayah. 

“Sebentar Ayah, lagi ambil sepatu.” ucapku dengan girang.

Kini aku duduk di samping kursi Ayah dan berniat melahap habis tahu telur favoritku. Masakan Ayah tak seenak buatan Bunda, namun aku sangat takjub bahwa Ayah mau belajar memasak setelah kami ditinggalkan Bunda untuk selamanya. Ah, aku jadi rindu Bunda. Setiap hari aku berdoa agar Bunda tenang di tempatnya yang baru. 

“Anakku, mata kamu masih sembab ya? Maafkan Ayah ya? Nggak seharusnya kamu mendengar hinaan seperti itu kemarin. Kamu anak Ayah, jangan masukin hati ya? omongan dia salah, yang benar itu kalau Maysa Swara anak yang berguna dan membanggakan Ayah. Maaf karena Ayah punya hutang, hingga harus menjual TV dan kalung emas milikmu serta barang berharga lainnya. Ayah janji, kalau gaji Ayah 3 bulan kedepan sudah cair akan langsung mengganti kalung emas Maysa yang baru. Sabar ya nak?” seluruh aksara yang keluar dari mulut Ayah tak pernah gagal membuat aku terharu dan merasa bersalah karena belum bisa membantu Ayah.

“Ayah jangan begitu, Maysa sangat ikhlas. Kalung itu biarlah saja, yang terpenting sekarang kita terbebas dari hutang.” tak sadar mataku berembun, tapi aku harus tetap terlihat tegar agar Ayah tau aku selalu bahagia hidup bersama Ayah. 

Setelah selesai sarapan, aku berpamitan dan berlari kecil untuk menunggu angkot di pasar. Kenapa di pasar? karena disitu banyak sekali angkot berjejeran. Apesnya, angkot hari ini dipenuhi para pekerja kebun yang akan pergi ke lokasi beda arah dengan sekolahku. Kalau aku ikut mereka, aku akan terlambat karena letak kebun raya sangat jauh. Kenapa tak minta diantar Ayah? hei, bahkan sepeda kami juga telah dijual untuk melunasi hutang kemarin. 

Jantungku berdegup kencang, aku takut telat karena hari ini bertepatan dengan mata pelajaran guru killer! Aku memutuskan untuk sedikit berlari tak peduli akan berkeringat dan rambut berantakan. Setelah 7 menit berlari aku merasa lelah, lalu berhenti sebentar dan duduk di kursi taman kota untuk meminum mineral dari botol pink kesayanganku.

“Santai banget jadi orang? ga liat jam berapa sekarang?” aku menoleh ketika seseorang yang memakai seragam sama sepertiku tiba-tiba berada di depanku.

“Gausah bingung segala, cepet naik! udah mau ditutup gerbangnya.” mau tak mau aku menuruti permintaannya karena keadaan genting, jujur dia asing.

Untung gerbang belum ditutup rapat, setelah berada di parkiran sekolah hawanya menjadi canggung. Belum sempat aku mengucap terima kasih tapi dia langsung berlari meninggalkanku. Tapi aku sempat membaca nama di seragamnya, Pandu S-? S nya siapa ya tadi? 

Pada saat jam istirahat, aku beranjak pergi ke perpustakaan bersama kedua sahabatku, Kaluna dan Zarine. 

“Eh kalian duluan aja deh, aku mau ke toilet dulu.” pintaku sembari melepas rangkulan kedua sahabatku.

Setelah selesai di toilet, aku tak sengaja melihat laki-laki yang telah memberikan tumpangan tadi pagi. Aku berlari menyusulnya di koridor sekolah.

“Tunggu, aku mau ngomong sesuatu.” ucapku tergesa-gesa. Dia balik badan dan menatapku aneh. 

“Makasi ya tadi pagi udah bantuin, jadinya aku ga telat sampe di sekolah.” ucapku sembari mengulurkan tangan yang tak ada tanda-tanda disambut hangat dengan lawan bicara.

“Lah aneh, siapa lu? gajelas banget jadi cewe. Udahlah minggir gue buru-buru.” nada dia sedikit sinis dan pergi begitu saja dari hadapanku.

Yes! ide terlintas dengan kilat. Aku membuntutinya hingga tau kalau dia ternyata anak kelas 12 IPS 2. Aku berencana memberikannya sedikit jajan sebagai balas budi.

Esok harinya aku berangkat sekolah lebih awal. Semalam aku membongkar tabunganku untuk tambahan membeli jajan. Bukan hanya itu, alasan lainnya karena memang ada buku pelajaran yang harus dibeli. Senyumku mengembang pagi ini, harapannya dia suka dengan pemberianku. Sebelum pergi ke kelasnya, aku menaruh tasku di kelas terlebih dulu. 

“Ciee, mau ngasih hadiah siapa nich. Gebetan ya?” goda Kaluna sambil menyenggol bahuku. Kelas masih sepi, Kaluna selalu jadi murid pertama yang hadir di kelas dan tak pernah sama sekali telat. 

“Apa ih Kaluna, mulai deh.” jawabku malas. Aku segera pergi dari kelas sebelum Kaluna menanyakan banyak pertanyaan lagi.

Sebelum sampai ke kelas 12 IPS 2, aku lebih dulu menemukan dia sedang duduk di aula sendirian sambil bersenandung gembira. Entah mendengarkan musik apa. Jantungku berdetak lebih kencang, pelan-pelan aku menghampirinya. Saat aku sampai di depannya, sontak dia langsung berdiri.

“Lo lagi lo lagi, mau apasih?” aku terkejut saat dia langsung menghamburkan nada-nada tinggi yang otomatis membuat aku takut. Gimana tidak? Ayahku saja tak pernah sama sekali memberi nada tinggi dalam berucap padaku.

“A-aku cuma mau ngasih ini.” ucapku lirih sambil menunduk.

Jajanan rapi yang sudah aku packing di plastik dijatuhkan begitu saja. Hatiku remuk, tanganku gemetar. Padahal aku hanya ingin mengucap terima kasih saja, tapi kenapa begini?

“Woi lo ngapain?” suara laki-laki yang menghampiri kami membuat aku bingung. 

Aku memandang dua laki-laki di hadapanku, mereka kembar? Aku membaca nama di seragam laki-laki sebelah kiri, Pandu Sanjana. Lantas beralih ke laki-laki yang telah membentakku, Pandu Sadewa. Bingung. Aku langsung berlari dengan sekuat tenaga sambil mencerna apa yang terjadi.

“Lo ngapain sih? ikut-ikutan segala? kepo bener.” Sadewa menantang kembarannya yang dibalas dengan lirikan tajam. Sanjana berjongkok sembari mengambil plastik berisi jajan yang telah berhamburan.

“Lo mulung? kaya dia penting aja.” 

“Bisa diem? gue naksir dia dari awal masuk SMA kalo lo belum tau.” 

“HAHAHAHA, lo suka modelan kaya dia? tapi emang dia cantik sih, mukanya ga pasaran.” Sadewa tersenyum miring.

“Gausah aneh-aneh ya lo, punya gue itu.” teriak Sanjana.

“Gaya bener, dia kenal lo aja kagak. Malah dia dari kemarin gangguin gue tuh.” Sadewa tak mau kalah telak.

“Terserah, gue cabut dulu.” Sanjana sudah habis tenaga untuk mengubris kembarannya yang memang sifatnya sombong dan angkuh itu.

Bel masuk masih belum berbunyi, Sanjana sengaja ingin berkeliling sekolah dulu mencari udara segar. Saat asik bersiul, pandangan mata Sanjana berhenti mengenai sebuah objek yang sangat indah.

“Hai? kenapa belum masuk kelas?” tanyanya ragu-ragu dan langsung mengambil duduk di sebelahku. Aku tak langsung menjawab, takut di bentak lagi.

“Aku Sanjana, yang kemarin nebengin kamu. Maaf ya kalo kembaranku tadi jatuhin barang kamu, ini aku kembaliin.” ucapnya dengan lembut seraya menyalurkan beberapa jajan yang telah aku siapkan.

“Eh engga, itu emang buat kamu. Aku salah orang, aku gatau kalo kalian kembar. Mohon terima ya, aku ucapin terima kasih banyak karena udah bantuin aku kemarin.” ucapku tersipu malu. Dua laki-laki kembar yang sangat berbeda sifat, aneh. Perbedaan fisik mereka tipis sekali, sama-sama berotot dan tinggi. Dari muka juga ganteng, eh? kenapa aku jadi mikir sampe sini.”

“Gapapa sans, lain kali nebeng aku aja. Lagian rumah kita searah loh.” senyumna tulus sekali, netra indah miliknya memiliki kunci yang kuat agar tetap bertahan menatapnya. 

“Eh jangan deh, ngerepotin jadinya. Aman kok, di pasar banyak angkot hehehe. Kita kan juga belum terlalu kenal.” rasanya canggung sekali, entah mengapa seperti ada kupu-kupu dalam perutku yang baru kali ini aku rasakan.

“Kamu Maysa Swara kan? kalo gitu gimana kalo kita kenalan lebih dalam?” 

Semenjak kejadian itu, selama hampir 3 bulan aku selalu berinteraksi dengan Sanjana. Dia orang yang baik, bijak, humoris, dan pelaku yang gemar membuat pipiku memerah.

“May, yakin nih gamau main dulu sebelum pulang?” suara Sanjana memulai pembicaraan saat kami berada di parkiran sekolah.

“Gamau, aku pengen langsung pulang. Tugasku numpuk tau, mana harus dikumpulin besok.” jawabku cemberut.

“Dasar anak rajin, itu gausa cemberut gitu. Jelek tau.” goda Sanjana.

“Udah ih ayo cepetan keburu macet nanti.” pintaku sambil memakai helm.

Kami selalu menikmati perjalanan pulang, berbincang, bercanda tawa, bermain teka-teki, hingga mengulas kembali pelajaran di kelas.

“Eh May, ada apaan tuh di depan kok rame banget.” tunjuk Sanjana seraya menghentikan motor dan mengajakku menghampiri kerumunan di tengah jalan.

Aku terlonjak kaget, pemandangan yang tak pernah aku bayangkan. Aku melihat Ayah terbaring lemas di jalan dengan darah yang mengucur di kepala hingga lengan tangan.

“AYAHHHH, bagaimana ini bisa terjadi. Ayah, tunggu sebentar ya orang-orang di seberang sana lagi menghubungi ambulance. Ayah, bertahan ya?” tangis yang tertahan akhirnya pecah juga, aku tak tahan melihat situasi seperti ini. 

Bugh Bugh Bugh

Aku menoleh mencari suara itu, ternyata Sanjana sedang memukuli kembarannya. 

“Maksud lo apa Sadewa? udah gue tekanin berulang kali kalo jangan kebut-kebutan di jalanan! Batu ya lo!” Sanjana tak berhenti memukuli kembarannya hingga dileraikan oleh warga sekitar.

Setelah beberapa menit, ambulance pun datang.

“Ayah tolong bertahan ya? habis ini kita sampe rumah sakit.” ucapku sambil mengenggam dan mencium berulang kali tangan Ayah. 

“Nak, ini kalung emas yang Ayah beli tadi. Modelnya lebih indah dari yang sebelumnya. Janji Ayah sudah selesai, tolong jaga diri baik-baik ya! Kalau kesepian, pergilah ke rumah Tante Kanya. Ayah sayang Maysa.” pinta Ayah sambil menahan rasa sakit yang menjulur di sekujur tubuhnya.

“Maysa kan selalu bersama Ayah, kenapa Maysa harus kesepian? sabar sebentar Ayah, tahan ya? Maysa juga selalu sayang sama Ayah.” aku merengek sembari mengelus pipi Ayah.

Kabar buruk sebelum sampai di rumah sakit, Ayah telah mengembuskan napas terakhirnya.

Tiga hari setelah kepergian Ayahku tercinta, badanku tak kunjung pulih dari sendu. Kehilangan kedua orang yang paling aku sayang membuat semangat hidupku menurun drastis. Rumahku sepi, tapi Tante Kanya janji akan selalu menjengukku seminggu sekali dan rutin mengirimiku uang bulanan. Sekuat apapun aku memaksa, dia masih tetap ingin memberiku uang bulanan. Bersyukur karena masih ada yang peduli dengan keberadaanku. Beberapa bulan lagi aku lulus. Setelah ijazah keluar, aku akan langsung mencari pekerjaan dan merancang biaya kehidupanku dengan hasil keringatku sendiri tanpa merepotkan orang lain.

Kalung emas pemberian Ayah sangat cantik, aku kembali larut dalam sedih yang tak tau kapan akan selesai. Sanjana setiap hari datang ke rumahku, dia selalu khawatir dengan keadaanku. Sekarang dia tengah membuatkanku makan malam karena dia tau pasti aku tak selera makan, oleh karena itu dia berinisiatif membujukku. Begitu pun dengan kedua sahabatku, Kaluna dan Zarine setiap pulang sekolah mampir ke rumahku dengan alasan tak ingin melihatku sendirian.

Tok tok tok.

Aku membuka pintu depan dan alangkah terkejut bukan main. Sadewa datang, traumaku sangat memuncak.

“Mau apa datang kesini?” ucapku ketus dan tak menyambut kedatangannya.

“May, maaf gue baru berani kesini. Setiap malam gue gabisa tidur mikirin ini. Gue merasa bersalah dan-“

“Ya emang salah, mau ngelak gimana lagi?” potongku.

“May, gue ga sengaja May. Gue juga gatau tiba-tiba rem gue ga berfungsi. Terus apesnya pas gue ngehindarin truk, gue banting setir ke kanan dan gue gatau kalau ada orang disana May. Gue tau ini sebuah kesalahan besar May, tapi tolong maafin gue dan kesalahan yang pernah gue lakuin dulu. Gue harus lakuin apa biar lo mau maafin gue May.” 

“Mau ape lo dateng kesini?.” teriak Sanjana setelah tau kedatangan kembarannya.

“Gue cuma mau minta maaf.” balas Sadewa dengan menunduk pasrah.

“Pulang, jangan pernah menginjakkan kaki kesini lagi.” pintaku sembari menutup pintu keras.

Aku berlari dan langsung memeluk erat Sanjana. Tangisku semakin berat, hatiku kacau. Sanjana mengelus pundakku dan menenangkanku.

“Maysa Swara, keluarin semua kesakitanmu ya. Aku tau ini berat, tapi aku yakin kamu bisa laluin ini semua. Hanya perlu waktu saja kamu akan kembali pulih. Ada aku disini May, aku gatega melihat wanita cantik di depanku ini menangis. Maafin kembaranku ya, aku liat dia semenjak hari itu jadi semakin pendiam. Dia juga ngerasa bersalah May. Izinkan aku buat nebus kesalahan dia, aku janji bakal jagain kamu seumur hidup. Setelah lulus nanti, kamu tenang saja. Aku akan menyiapkan pernikahan kita. Aku gamau kamu aktivitas berat May, biar aku saja yang kerja. Tapi kalo kamu pengen lanjut perguruan tinggi juga gapapa, biar aku yang tanggung.” 

“Sanjana? maksudnya gimana? aku bisa kok nyari kerja sendiri. aku gamau merepotkan kamu.” balasku masih dengan sesenggukan.

“Cantik, aku belum bilang kamu kalo aku suka kamu semenjak awal masuk SMA. Aku mau selalu jagain kamu. Nanti aku mau kita di jenjang yang lebih serius. Aku cinta kamu May, hidup sama aku ya?” 

“Sanjana aku nangis nih, kamu bisa romantis ya ternyata. Jujur aku juga cinta sama kamu. Aku mau Sanjana.”

Kami saling bergandengan tangan dan berkomitmen akan hidup bahagia. Memang ya, hidup tak bisa ditebak. Tapi apapun lika-likunya, selama kita dapat bersyukur dan tabah menerima apa yang ada dalam hidup maka akan terasa lebih ringan. Pasti ada hal baik setelah hal buruk menimpa. Percayalah, Tuhan pasti akan selalu membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *