Mimpiku Bersama Ayah Hebatku

Di bawah sinar rembulan yang temaram, melalui jendela di dalam kamarnya dan menatap jalan setapak di depan rumah. Angin malam berhembus lembut, tetapi hati Flora dipenuhi oleh badai kecemasan. Semakin bertambahnya umur, Flora merasa tanggung jawabnya terasa semakin berat setiap harinya. Anak pertama dengan sejuta keinginan untuk mewujudkan mimpi keluarganya. Terkadang terbesit di pikirannya untuk berhenti melangkah menggapai mimpi itu. Namun, Flora teringat akan sosok ayah hebat nya yang selalu mengusahakan apapun untuk dirinya dan sang adik. Flora pun tersenyum dan keluar kamar menemui ayahnya.

Flora duduk disamping ayahnya, bergabung dengan sang Ayah bersama segelas kopi dan kacang rebus. “Ayah, belum tidur?”, tanya Flora. Ayah pun menjawab, “Belum, Flora belum tidur? Gak ngejar deadline tugas lagi?”. Flora tersenyum sembari mengupas kacang rebusnya, “Istirahat dulu yah, capek ngejar tugas terus. Minta dikejar terus.” Ayah tertawa mendengar balasan Flora, “Gimana kuliahnya? Lancar?”. “Lancar, ayah. Ya mungkin sedikit ada kesulitan, tapi Flora yakin pasti bisa menuntaskan sampai akhir nanti” jawab Flora tersenyum berusaha menguatkan dirinya sendiri. “Kuliah yang semangat dan rajin ya, ayo dituntaskan,” balas ayah. “Iya siap ayah, pokoknya saat Freya pakai baju toga nanti Ayah juga harus ikut pakai toganya, ya.” Freya tersenyum penuh harap. “Iya anak ayah, kita foto bareng dan makan es krim coklat,” balas ayah. “Udah tidur sana lanjut besok lagi aja nugasnya,” tambah ayah. “Iya yah, ayah juga istirahat ya.” Flora pun berpamitan ke ayahnya dan kembali ke kamar.

Keesokan harinya, seperti biasa Flora sudah siap dengan masakan sarapan andalannya, sayur sop dan tahu untuk Ayah, dirinya dan Dila. Selama makan suasana cukup hening, sebab semuanya menikmati makanan masing-masing. Sampai setelah makan, ayah memulai obrolan, “Nduk, ayah nanti pulang malem ya. Habis kerja ayah mau ke tempat Pak Tono bersihin rumahnya, semalam beliau menelefon ayah”. “Ayah jangan terlalu maksa badannya, ayah kerja dari pagi terus lanjut lagi kerjaan yang lain sampai malam. Dila khawatir sama kesehatan ayah” balas Dila. “Betul kata Dila, ayah harus banyak istirahat jangan dipaksakan ya, yah,” tambah Flora. Ayah tersenyum mendengar kedua anaknya, “Iya, ayah jaga kesehatan kok. Makasih ya Nduk, ayah berangkat kerja dulu ya. Kalian hati-hati di jalan dan semangat sekolahnya”. “Siap ayah, ayah hati-hati ya” jawab Flora dan Dila kompak sembari mencium tangan ayahnya. Ayah mengelus kepala kedua anaknya.

Semakin hari ayah bekerja keras, bahkan bukan hanya pulang sampai malam. Tak jarang ayah kerja dari pagi pulang pagi, bahkan pernah ayah melewatkan harinya di rumah. Hal itu tentu membuat kedua anaknya khawatir terhadap kesehatan sang ayah. Ditambah, kesibukan Flora sebagai mahasiswa semester akhir yang sering ke kampus untuk bimbingan ke dosen dan jarang pulang juga ke rumah membuat suasana rumah terasa berbeda.

Suatu hari, saat di kampus Flora mendapat telfon dari ayahnya, “Halo nduk, gimana kabarnya?”. Flora tersenyum mendengarnya, “Halo, ayah. Kabar Flora baik ayah, ayah gimana kabarnya?”. “Kabar ayah pun baik nduk, bimbingannya lancar? Mau cerita sama ayah, ini lagi istirahat makan siang” balas ayah. “Ayah, jujur Flora rasanya hampir menyerah. Banyak banget tantangannya yah, apa Flora pantes dapetin gelar itu Ayah?” curhat Flora. “Siapa bilang Flora gak pantes dapetinnya?, Flora semangat dan jalanin semuanya dengan ikhlas ya. Nanti pulang kan? Ayah tunggu di rumah ya, ayah mau lanjut kerja dulu. Ayah rindu kalian” ucap Ayah. Flora berkaca-kaca dan tersenyum, “Iya ayah, siap”

Di perjalanan pulang, perasaan Flora tidak enak. Sebelum pulang, Flora menelfon dan mengirimkan pesan ke Ayah dan adiknya, tidak ada satupun yang membalas. Sesampainya dirumah, Flora terkejut karena rumahnya sangat ramai orang. Flora memasuki halaman rumah dengan perasaan yang campur aduk, di ruang tamu terlihat adiknya yang menangis dipelukkan neneknya. Di tengah ruang tamu terlihat sosok cinta pertamanya yang terbaring terbujur kaku dengan kain putih yang menutupinya. Flora menangis sejadi-jadinya, tidak percaya apa yang ditakutkannya terjadi. Ayah pergi menjemput wanita yang dicintainya, pergi untuk selamanya.

Selama berbulan-bulan keadaan rumah benar-benar sepi, Flora masih melanjutkan bimbingan skripsinya dengan keadaan mental yang tidak baik-baik saja. Namun, perjuangan Flora membuahkan hasil. Hingga hari ini, berdiri tegap dengan toga dan selempang cumlaude yang diraihnya, “Flora Anindya, S.Pd.”. Flora tersenyum menatap langit, menggandeng tangan sang adik seraya mengucapkan, “Ayah, Flora berhasil nepatin janji menuntaskan sampai akhir. Ibu sudah bertemu ayah? Ayah katanya mau foto bareng pakai baju toga sambil makan es krim coklat? Ayah, Flora udah gak suka es krim coklat. Ayah, kami rindu”

Sulit memang melupakan dan belajar mengikhlaskan apa yang pergi dari kita, sosok ayah menjadi penguat dan sekaligus cinta pertama bagi anak perempuannya. Ayah Flora dan Dila menjadi kepala keluarga sekaligus kepala rumah tangga, dua peran yang diemban. Ayah hebat, jangan bosan berbakti kepadanya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *