kriiiiingggggg
Bel sekolah berbunyi, menandakan berakhirnya jam kelas pada siang itu.
“Anak-anak jangan lupa ya untuk segera konfirmasi ke guru BK, perihal kalian ingin melanjutkan pendidikan kemana,” ujar Bu Heni menutup kelasnya pada siang itu.
“Baik Bu,” balas anak-anak di kelas itu.
Setelah Bu Heni meninggalkan ruang kelas, mereka semua menuju keluar kelas untuk segera pulang. Tapi tidak dengan Nana, gadis itu masih duduk termenung di bangkunya dengan pandangan kosong.
“Nana, ayo pulang, bengong aja kamu, mikirin apa sih?” tegur Sinta, sahabat Nana sejak mereka SMP.
“ehh,” sahut Nana. “Engga kok Sin, cuma lagi galau aja mau nerusin kuliah atau engga,”
“haishh, kirain mikirin apaan Na. Ayo pulang dulu, itu dipikir nanti aja.”
Akhirnya mereka berdua pulang. Nana masih memikirkan tentang masalah tadi. Ia sangat ingin melanjutkan pendidikannya, namun Ia juga tahu kalau keluarganya pasti tidak mampu membiayainya. Mengingat Bapaknya hanya seorang tukang becak dan Ibunya cuma buruh tani ditambah lagi Ia masih memiliki dua adik yang harus menempuh pendidikan membuatnya semakin pusing.
Malam itu di ruang makan keluarga Nana, Bapak bertanya kepada Nana
“nduk, gimana? kamu mau lanjut sekolah dimana?” tanya bapak.
“mboten pak, Nana bingung,” balas Nana.
“Kok bingung toh, nduk? Pendidikan itu penting, lo. Bahkan ada pepatah yang mengatakan kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina, iya to.”
“iya pak, tapi Nana bingung. Darimana kita dapat uang buat biaya Nana kuliah? adek-adek juga masih butuh biaya buat sekolah. Apa nggak sebaiknya Nana kerja aja bantu Bapak dan Ibu?”. tanya Nana.
“Ojo nduk. ojo mengorbankan mimpimu karena keadaan ekonomi kita. Bapak nggak mau kamu nyesel, cuma jadi lulusan SMA kaya Bapak sama Ibuk.” “soal biaya, kamu ga usah khawatir. Bapak sama Ibuk bakalan lebih rajin lagi kerjanya buat biayain kalian.” ujar Bapak.
“Beneran pak?” tanya Nana sambil menunjukkan wajah sumringahnya.
“Iya nduk. Wis ayo segera dihabiskan makanannya, lalu tidur. Kalian kan besok harus sekolah juga.” timpal Ibu.
“Inggih buk” sahut Nana dan kedua adiknya.
Siangnya, saat jam istirahat makan siang, Nana mengajak Sinta untuk pergi ke ruang BK. Nana berinisiatif untuk bertanya kepada guru BK mengenai beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia mendapatkan info itu semalam setelah chattingan dengan Tomi yang juga hendak mendaftar beasiswa tersebut.
Sesampainya di ruang BK, Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Bu Rina.
“Permisi Bu, maksud saya datang kesini untuk bertanya terkait info-info beasiswa untuk lanjut ke perguruan tinggi. Kira-kira apa saja ya bu syarat yang harus dipenuhi?”
Bu Rini pun menjelaskan secara detail dan juga mengarahkan Nana untuk mendaftarkan dirinya dalam beasiswa tersebut.
Hari demi hari berlalu, waktu yang ditunggu-tunggu oleh siswa kelas 3 SMAN 14 Kediri, yakni hari pengumuman kelulusan serta pengumuman perguruan tinggi dan juga pengumuman beasiswa pula. Nana sangat bersemangat dan juga jantungnya berdebar, takut dengan hasil yang akan dia dapatkan.
duarrrrrr
Hatinya gembira, Nana lulus dengan peringkat pertama di sekolahannya, Ia juga lolos seleksi perguruan tinggi yang ia impikan sejak lama. Hebatnya, Ia juga lolos seleksi beasiswa di kampusnya. Betapa beruntungnya Nana kala itu.
Ia pulang dengan wajah yang gembira, tak sabar mengabari seisi rumah dengan pencapaian yang telah ia raih.
“Alhamdulillah nduk, ya Allah. Ibuk bangga banget sama kamu.” ucap Ibunya kala itu.
Waktu demi waktu telah berlalu. Nana telah menjadi mahasiswa di kampus impiannya di luar kota. Nilai akademik Nana selalu bagus sehingga ia tetap bisa mempertahankan beasiswanya. Nana juga merupakan mahasiswi populer dengan segenap prestasi yang berhasil ia raih di kampusnya. Di perantauan, Nana adalah anak yang baik, suka menolong sesama. Hal-hal baik selalu ia terapkan, mengingat pesan dari Bapaknya di kampung. “Nduk, kalo kamu jauh dari rumah, kamu harus berbuat baik ya, apalagi ke orang lain. Insya Allah, nantinya dalam perantauan kamu juga akan selalu dipertemukan dengan hal-hal baik.” pesan Bapak Nana yang selalu Ia tanamkan dalam hati dan pikirannya. Walaupun Nana hanya hidup dengan biaya seadanya, ia selalu bersyukur dan menjalani hari-harinya dengan bahagia.
Tidak terasa sudah empat tahun Nana menempuh pendidikannya di perguruan tinggi. Senangnya, Nana lulus dengan predikat lulusan terbaik dari kampus itu. Ia juga mendapat penghargaan dari kampus karena telah banyak mengikuti lomba-lomba yang membanggakan kampusnya.Orang tuanya bangga, keluarganya bangga. Nana semakin dilirik oleh orang-orang disana, bahkan ia juga diwawancarai sebagai lulusan terbaik di kampus itu.
Semua orang takjub, mengingat Bapaknya hanyalah seorang tukang becak dan ibunya hanya seorang buruh tani bisa menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana yang dibanggakan kampusnya. Kisahnya sangat menginspirasi banyak orang.
“Menjadi sarjana bukan perkara sulit, namun bagaimana caramu berjuang meraih gelar itulah yang akan mengantarmu kuat menjalani betapa kerasnya kehidupan setelah kau menjadi sarjana.”
