Notifikasi grup WhatsApp angkatan tiba-tiba ramai setelah sekian lama.
“Reuni kecil, yuk. Sabtu ini!”
Arka tersenyum membaca satu per satu pesan teman SMA-nya. Namun, ada satu nama yang tidak muncul sejak awal.
Fajar.
Padahal dulu dialah yang paling sering menghidupkan suasana kelas. Saat reuni berlangsung, Arka akhirnya bertanya, “Fajar ke mana?”
Suasana mendadak hening.
“Dia nggak bisa datang,” jawab Nisa pelan. “Sekarang masih menjalani rehabilitasi.” Arka terdiam. Ia baru tahu bahwa sejak kuliah, Fajar sempat terjerumus narkoba karena tekanan hidup dan lingkungan yang salah. Kini ia sedang berusaha bangkit. Malam harinya, Arka membuka percakapan lama mereka. Pesan terakhir dari Fajar berbunyi,
“Bro, lo lagi sibuk?”
Di bawahnya hanya ada tanda dibaca.
Arka mengingat hari itu. Ia berniat membalas nanti, tetapi kesibukan membuat pesan itu terlupakan. Beberapa hari kemudian, kampus memperingati Hari Anti Narkoba Sedunia. Salah satu pemateri berkata, “Terkadang seseorang tidak sedang mencari jawaban. Ia hanya berharap ada yang mendengar.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arka.
Sepulang seminar, ia memberanikan diri mengirim pesan. “Jar, semoga kamu baik-baik saja. Kalau nanti kamu siap, aku ingin mendengar semua ceritamu.” Tak lama kemudian, balasan muncul.
“Makasih, Ka. Aku lagi belajar memperbaiki semuanya.”
Arka tersenyum tipis.
Hari Anti Narkoba Sedunia membuatnya memahami satu hal. Menjauhi narkoba memang penting, tetapi saling peduli juga tidak kalah penting. Sebab, terkadang satu pesan sederhana dapat menjadi awal seseorang menemukan harapan untuk kembali.
