Pada kain sunyi terbentang prakāśa,
cahaya mula kehidupan yang lembut,
canting menoreh bagai mantra abadi,
tetes bindu malam menjelma doa bisu.
Setiap garis adalah tapasya jiwa,
panas menempanya jadi keteguhan,
lengkung motif lahir sebagai dhvani,
gema tak kasat mata, namun merasuk.
Dari merah agni berkobar keberanian,
biru ākāśa menyimpan harapan luas,
hijau prithivī menumbuhkan kesuburan,
emas kejayaan memeluk dalam ātma.
Batik bukan sekadar hiasan fana,
ia arsha warisan suci leluhur,
terpatri dalam citta, napas bangsa,
menjadi cinta yang menjelma keabadian.
