Resensi Film “Merah Putih”

~> Identitas Film 

Judul : Merah Putih

Genre : Action, Drama, Peperangan

Sutradara : Yadi Sugandi

Produser : Conor Allyn, Gary Hayes

Tanggal Rilis : 13 Agustus 2009

Produksi : Margate House Films

Durasi : 1 Jam 48 Menit 

~> Latar Belakang Film

Latar cerita film ini diambil berdasarkan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947 saat terjadinya peristiwa Agresi Militer Belanda I kepada pemerintahan Republik Indonesia di Jawa Tengah. Film Merah Putih menceritakan sekawanan karakter fiktif yang menjalin persahabatan sebagai kadet militer dan selamat dari pembantaian oleh tentara Belanda. Mereka kemudian berperang sebagai tentara gerilya di pedalaman dengan diwarnai konflik karena perbedaan sifat, status sosial, etnis, budaya, dan agama.

~> Sinopsis Film 

Film Merah Putih merupakan sebuah film nasionalisme, persatuan, persahabatan, dan toleransi agama untuk bersama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Kisah dimulai oleh kehidupan para tokoh yakni ada 5 pria di Sekolah Tentara Rakyat, mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Marius (Darius), Thomas (Donny Alamsyah), Soerono (Zumi Zola), dan Dayan (Rifnu Wikana). Tujuan mereka adalah sama-sama ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan belanda yang ingin membangun kekuasaan kembali di tanah air, yang dipimpin oleh Van Mook di salah satu kota Jawa Tengah. 

Hari demi hari pun mereka lalui di sekolah Tentara Rakyat, tiba saatnya mereka lulus dan diperkenankan untuk kembali ke rumah masing-masing. Pada saat yang bersamaan terdapat sebuah acara di sebuah desa. Semula kegiatan berjalan lancar, namun tiba-tiba terjadi penyerangan oleh pihak Belanda pada desa tersebut. Sontak mereka pun langsung membalas serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda, hingga terjadi aksi saling serang dan peperangan tidak dapat terelakkan. Banyak korban berjatuhan dan mati tertembak oleh tentara Belanda termasuk Kepala Pejuang Tentara Indonesia, hingga akhirnya posisi Kepala Pejuang Tentara Indonesia digantikan oleh Amir. Dari sinilah muncul gerakan perang bergerilya yang dilakukan untuk membalas serangan Belanda dan mempertahankan keutuhan Bangsa Indonesia. 

Amir dan para pejuang Indonesia mulai bergerilya dengan bersembunyi di hutan, diam-diam memasuki area pasukan Belanda dan menyerang mereka secara mendadak. Namun pada suatu saat mereka dikejutkan oleh penyerangan oleh Tentara Jepang pada saat mereka bergerilya dan singgah pada suatu desa. Para tentara Belanda membakar rumah penduduk dan menembaki semua warga yang ada disana, beruntung bagi tentara pejuang Indonesia, karena mereka dapat lolos dari kepungan dan serangan tentara Belanda dan kembali bersembunyi di hutan. 

Dari kejadian ini, para tentara tentu sangat marah melihat para penduduk pribumi mati mengenaskan menjadi korban serangan tentara Belanda dan timbul jiwa nasionalisme untuk dapat membalas serta mengusir tentara Belanda dari bumi pertiwi ini. Kemudian dibuatlah sebuah rencana dengan menyerang kembali pasukan Belanda dengan membuat perangkap di sebuah jembatan yang diyakini akan dilewati oleh pasukan bantuan yang dikirimkan oleh pemerintahan Belanda. Mereka mempersiapkan berbagai peralatan persenjataan serta membagi tugas untuk membuat benteng pertahanan. 

Hari yang dinantikan pun tiba, pada siang hari yang sedikit mendung, iringan mobil dan truk yang membawa tentara Belanda pun datang. Amir menyuruh setiap orang yang bertugas untuk berjaga dan bersiap-siap di posisi masing-masing. Pada jembatan yang akan dilewati oleh Tentara Belanda diberi jebakan dengan dipenuhi oleh domba dan beberapa petani, termasuk Thomas yang menyamar menjadi penggembala domba tersebut. Iringan mobil dan truk tentara belanda sampai di jembatan tersebut, karena dihalangi oleh para petani dan domba tersebut, akhirnya mereka tidak berhenti dan mencoba mengusir para petani dan domba tersebut. Pada saat itu, Thomas mencuri kesempatan dengan mendekati sebuah mobil tangki minyak dan menyelipkan beberapa bom di belakangnya, kemudian Thomas terjun ke sungai bersamaan dengan meledaknya tangki minyak yang dibawa oleh tentara Belanda. Kemudian disusul baku tembak yang dilakukan oleh tentara pejuang Indonesia yang dibantu oleh penduduk setempat dengan tentara Belanda. Satu persatu tentara Belanda tumbang, ledakan demi ledakan terus terdengar, tentara Belanda pun mulai kewalahan dan akhirnya menyerah di tangan tentara Pejuang Indonesia. 

~> Kelebihan Film

Film Merah Putih memiliki alur yang cukup kokoh dari awal hingga akhir film. Suasana yang dibuat menegangkan dengan latar belakang film masa penjajahan, terutama pada saat adegan baku tembak dan saling serang. Alur juga semakin menarik dan membangkitkan gairah penonton untuk ikut merasakan rasa kecewa dan marah kepada penjajah yang telah menindas para penduduk pribumi pada film ini. Adegan demi adegan, dari mulai pada saat bergerilya di hutan hingga pada saat melakukan aksi serangan balik yang dilakukan oleh para tentara pejuang Indonesia turut serta memunculkan jiwa Nasionalisme terhadap para penonton yang menyaksikan film ini. 

~> Kekurangan Film

Film Merah Putih tidak bisa mengimbangi gambaran operasi penyerangan dengan alur cerita. Strategi bergerilya dan pembalasan serangan ditampilkan terlalu sering dan lama sehingga memakan durasi. Selain itu, beberapa efek visual pada adegan baku tembak atau pada saat proses penyerangan sedikit terkesan berlebihan. Hal ini membuat beberapa adegan gagal memacu adrenalin penonton.

One thought on “Resensi Film “Merah Putih””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *