Resensi Film Perang Kota

Resensi Film

  • Judul: Perang Kota
  • Tahun rilis: 2025
  • Sutradara: Mouly Surya
  • Produksi: Cinesurya Pictures bekerja sama dengan Epicmedia (Filipina) dan Volya Films (Belanda)
  • Durasi: 118 menit
  • Adaptasi dari: Novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis

Sinopsis

Berlatar tahun 1946 di Jakarta, tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Perang Kota mengikuti kisah Isa, seorang mantan pejuang revolusi yang kini hidup dalam trauma dan ketakutan pasca perang.

Ia bekerja sebagai guru di tengah kondisi kota yang kacau — penuh intrik politik, kekerasan, dan ketidakpastian. Namun, pertemuannya dengan Fatma, seorang janda cantik, serta Hazil, rekan pejuangnya yang masih idealis, kembali mengguncang batinnya dan memaksanya berhadapan dengan masa lalu serta nuraninya sendiri. Dari situ, film ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar manusia bukan selalu di medan perang, tapi juga di dalam dirinya sendiri.

Kelebihan Film

Film ini tidak hanya menampilkan konflik fisik, tetapi juga mengupas sisi kemanusiaan, rasa takut, dan idealisme para tokohnya. Selain itu, meskipun ceritanya diadaptasi dari novel lama, pesan dan temanya masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini, tentang keberanian menghadapi diri sendiri dan arti perjuangan yang sebenarnya.

Kekurangan Film

Namun, film ini juga punya beberapa kekurangan, diantaranya Alur ceritanya berjalan cukup lambat dan lebih fokus pada konflik batin daripada aksi, sehingga bisa terasa berat untuk diikuti. Dialog-dialognya pun banyak yang bersifat filosofis dan simbolik membuat beberapa penonton perlu berpikir lebih dalam untuk memahaminya. Selain itu, meskipun berjudul Perang Kota, film ini tidak menampilkan banyak adegan perang besar. Jadi, bagi penonton yang mengharapkan film dengan banyak aksi atau adegan heroik, mungkin akan merasa sedikit kecewa karena fokus film lebih ke sisi emosional dan psikologis.

Kesimpulan 

Secara keseluruhan, Perang Kota adalah film perang yang berbeda dari kebanyakan film bertema kepahlawanan lainnya. Alih-alih menonjolkan heroisme dan kemenangan, film ini justru memperlihatkan sisi rapuh dari manusia yang pernah berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *