Hari Olahraga Nasional diperingati setiap tanggal 9 September. Dari sisi kesehatan, momentum ini diperingati agar kita selalu mengingat berbagai manfaat penting dari olahraga. Selain dapat meningkatkan kebugaran tubuh, olahraga yang teratur juga dapat menghindarkan kita dari berbagai ancaman Penyakit Tidak Menular, seperti Stroke, Hipertensi, Gagal Jantung, Diabetes, Kanker, dan lain sebagainya.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal, olahraga sebaiknya dilakukan secara rutin setiap hari selama 20–50 menit. Namun begitu, olahraga juga dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, apapun jenis olahraganya, bahkan dengan kostum seadanya. Beberapa jenis olahraga ringan dapat dilakukan di sela-sela waktu kerja. Senam peregangan misalnya. Gerakan-gerakan yang dilakukan selama senam peregangan dapat mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi akibat berada pada posisi yang sama dalam jangka waktu lama, seperti duduk maupun berdiri sepanjang hari. Kekakuan otot dan sendi ini bisa terjadi di berbagai bagian tubuh, mulai dari kaki, tulang belakang, tangan, bahu, hingga leher. Beberapa orang mungkin berfikir bahwa kekakuan otot hanyalah masalah sepele. Namun ternyata kekakuan otot dan sendi yang tidak diatasi dengan baik juga dapat mengakibatkan cedera serius yang dapat mengganggu produktivitas kerja.
Sejarah Hari Olahraga Nasional
Tahukah kamu jika tanggal 9 September diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Penetapan Haornas tersebut berdasarkan tanggal penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Stadion Sriwedari, Solo 9–12 September 1948.
Selepas PON pertama, prestasi Indonesia di bidang olahraga terus meningkat. Itulah yang melatarbelakangi dilahirkannya Keppres No. 67 tahun 1985 tentang Hari Olahraga Nasional.
Mengutip laman resmi Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara, PON pertama diadakan di Kota Surakarta atau kini disebut Solo, Jawa Tengah. PON pertama digelar pada 9–12 September 1948.
Menariknya, pelaksanaan PON pertama tersebut karena politik dan kondisi sosial yang membuat Indonesia tidak mampu mengikuti pergelaran olahraga dunia yakni Olimpiade XIV/1948. Saat itu, Indonesia yang baru merdeka memiliki banyak sekali problematika di tingkat dunia. Misalnya, saat ingin ikut Olimpiade 1948, Inggris yang merupakan tuan rumah bersama banyak negara belum mengakui Indonesia sebagai sebuah negara.
Prestasi anak muda Indonesia di ajang internasional Bidang Olahraga
Ganda putra Indonesia Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menjadi juara Indonesia Masters 2024
6 Atlet Indonesia Lolos ke Olimpiade Paris 2024
Enam atlet Tim Indonesia dari empat cabang olahraga lolos kualifikasi Olimpiade Paris Prancis 2024. Sepanjang keikutsertaannya di ajang Olimpiade, Indonesia sudah mengumpulkan 37 medali. Terakhir, pada Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia kembali meraih emas pada cabang bulutangkis ganda putri.
Dari catatan resmi Komite Olimpiade Indonesia, baru 6 atlet Indonesia yang sudah menggenggam tiket ke Olimpiade Paris 2024, diantaranya:
- Arif Dwi Pangestu (Panahan)
- Diananda Choirunisa (Panahan)
- Rifda Irfanaluthi (Gymnastic)
- Desak Made Rita (Sport climbing)
- Rahmad Adi Mulyono (Sport climbing)
- Fathur Gustafian (Shooting) yang baru saja lolos kualifikasi Olimpiade di Asian Rifle/Pistol Championship.
Kontribusi Universitas Negeri Malang pada Hari Olahraga
Di Universitas Negeri Malang banyak kegiatan yang mengusung tema olahraga dan gak sedikit atlet dari Universitas negeri Malang yang ikut andil di banyak ajang khususnya di bidang keolahragaan.
Universitas Negeri Malang (UM) tampil gemilang di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional XVIII (POMNAS XVIII), raihan prestasi UM lebih cemerlang dibandingkan tahun sebelumnya dengan torehan 6 medali emas, 7 medali perak, dan 9 medali perunggu. Keberhasilan ini mencerminkan dedikasi serta kinerja luar biasa para atlet UM dalam mengharumkan nama perguruan tinggi mereka di kancah olahraga nasional.
