Pagi itu, hari sudah mulai cerah. Sinar matahari yang hangat mulai menyelimuti bumi. Suara azan berkumandang dari masjid-masjid di sekitar desa. Hari ini adalah hari yang istimewa, hari raya Iduladha. Di sebuah rumah sederhana di desa itu, seorang anak perempuan bernama Zahra sedang bersiap-siap untuk salat Iduladha. Zahra sudah beranjak remaja, tapi dia masih senang merayakan Iduladha bersama keluarganya. Semua keluarga dan tetangga, berkumpul dan berangkat bersama-sama ke surau masjid terdekat untuk melaksanakan salat Iduladha. Setelah salat, Zahra dan keluarganya sangat antusias untuk menggiring hewan kurban yang akan disembelih, Zahra berdoa agar dia selalu dilimpahkan rahmat dan kasih sayang dari Allah Swt. Mereka sudah menyiapkan hewan kurban, seekor sapi yang gemuk dan sehat.
Zahra : “Wah, semoga kamu berkah, ya, sapi, berkah dagingnya, berkah juga nanti dapat ditunggangi pada hari akhirat.”
Zahra ikut ayahnya untuk melihat penyembelihan sapi itu. Setelah disembelih, daging sapi itu dikuliti, dipotong, dan kemudian akan dibagikan kepada para tetangga dan orang-orang yang membutuhkan.
Ayah : “Zahra, potong dagingnya yang bagus dan timbang dengan benar karena nanti akan dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Jadi, jangan sampai keliru dan tidak seimbang timbangannya.”
Zahra : “Siap, Ayah!”
Zahra sangat senang dapat merayakan Iduladha bersama keluarganya. Dia juga senang dapat berbagi daging kurban kepada orang-orang yang membutuhkan. Zahra tahu bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt., Zahra juga belajar tentang makna pengorbanan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya, Nabi Ismail, sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah Swt., Zahra ingin belajar untuk menjadi seperti Nabi Ibrahim, yang selalu taat kepada Allah Swt. dan rela berkorban untuk orang lain.
Setelah membantu para tetangga dalam memotong daging dan membagikannya, Zahra juga membantu membereskan sisa kotoran, darah, dan bau yang tersisa setelah pemotongan hewan kurban. Tak terasa hari sudah siang, kemudian Zahra, Ayahnya, serta para tetangga yang lain segera kembali ke rumah masing-masing setelah melakukan penyembelihan hewan kurban pada hari yang suci ini.
Aktivitas Zahra tak berhenti sampai disitu, saat kembali pulang ke rumah, Zahra langsung saja menemani sang Ibu untuk membantu mencuci dan memasak daging hasil penyembelihan tadi pagi. Zahra membantu sang Ibu untuk menyiapkan bumbu-bumbu yang akan digunakan memasak untuk hidangan agenda makan malam bersama dengan tetangga. Tadi sebelum pulang, ternyata Ayah Zahra telah mengundang para tetangga untuk datang ke rumahnya makan malam bersama. Maka dari itu, Zahra dan Ibunya berencana membuat hidangan sup daging dan rendang yang lezat agar para tetangga dapat menikmati hidangan dengan lahap.
Zahra : “Ibu, ini dagingnya mau dimasak semua? Apakah bumbunya cukup?”
Ibu : “Tentu saja akan dimasak semua, para tetangga yang hadir pastinya juga banyak. Bumbunya cukup kok, nak. Sekarang kamu kupas bawang saja dulu, kemudian kunyit dan jahe.”
Zahra : “Oke Bu, siap.”
Zahra beserta Ibunya sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam bersama. Hari raya Iduladha kali ini tentu saja sangat istimewa bagi keluarga Zahra karena pertama kali keluarganya dapat berkesempatan menyumbang sapi sebagai hewan kurban di desanya.
Tak terasa matahari sudah kembali tenggelam di tempatnya dan langit sudah berwarna gelap maka agenda makan malam bersama pun segera dilaksanakan.
Ayah : “Bu, masakannya apa sudah siap semua? Sebentar lagi tetangga pasti akan datang.”
Ibu : “Sudah, tinggal pindah ke ruang depan saja. Zahra, bantu Ibu menata makanan di depan.”
Zahra : “Iya, Bu.”
Ibu : “Ini mangkoknya taruh depan. Hati-hati, masih panas.”
Zahra : “Siap, Bu.”
Ibu : “Setelah itu, jangan lupa lap piring dan tata di depan juga buat sendoknya.”
Zahra : “Oke, siap.”
Disibukkan dengan menata ruang depan dan hal-hal di dapur, tak terasa para tetangga pun mulai berdatangan ke rumah Zahra. Ayah yang berada di depan menyambut mereka dengan penuh hangat dan suka cita. Agenda makan malam bersama berlangsung dengan penuh keramahan. Mereka makan dengan lahap, menikmati hidangan yang disajikan, serta tak lupa bersyukur atas nikmat yang Allah Swt. berikan. Zahra juga berbagi makanan kepada tetangga-tetangganya yang kurang mampu. Zahra sangat senang dapat merayakan Iduladha dengan penuh kegembiraan dan berbagi dengan orang lain. Dia tahu bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt. Zahra juga belajar tentang makna pengorbanan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Zahra ingin belajar untuk menjadi seperti Nabi Ibrahim, yang selalu taat kepada Allah Swt. dan rela berkorban untuk orang lain.
Semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua untuk merayakan Iduladha dengan penuh kegembiraan dan berbagi dengan orang lain. Mari kita belajar tentang makna pengorbanan dari Nabi ibrahim dan Nabi Ismail. Semoga kita dapat menjadi umat yang selalu taat kepada Allah Swt. dan rela berkorban untuk orang lain.
