Tagar yang Menyatukan

Ketika tanggal 30 Juni, di kalender dinding kamar, Zahra menandainya dengan stabilo kuning tebal Hari Media Sosial. Bagi remaja seusianya, hari ini lebih penting dari ulang tahun tetangga sebelah atau bahkan ujian tengah semester. Zahra bukan selebgram. Ia tak punya ribuan pengikut, dan foto-fotonya seringkali hanya mendapat belasan likes. Namun menyukai dunia media sosial, karena di sanalah ia bisa menjadi siapa saja, berbagi hal-hal kecil, dan menjalin pertemanan yang kadang justru lebih jujur dibanding obrolan di bangku kelas. Di balik layar, Zahra punya misi khusus di Hari Media Sosial pada tahun ini: membuktikan bahwa media sosial bisa menjadi ruang yang menyatukan, bukan memecah.

Ia membuat tagar #BersatuDiTimeline.

“Yuk, ceritakan satu kebaikan kecil yang kamu alami hari ini, dan tag tiga temanmu untuk lanjutkan rantainya,” tulisnya di caption. Tak muluk-muluk, ia hanya ingin melihat linimasa dipenuhi hal positif, meski hanya sehari.

Awalnya, tak ada yang menggubris. Postingan itu hanya disukai oleh Dita, sahabat Zahra yang setia sejak SD. Akan tetapi, Dita menulis ulang dengan ceritanya sendiri, tentang bapak tukang parkir yang membantunya saat motornya mogok. Lalu Riko, teman sekelas, ikut menulis tentang seorang nenek yang memberinya senyum dan sepotong permen di angkot. Semakin lama, tagar itu menyebar.

Zahra membuka gawai sambil tersenyum. Tak lagi sekadar melihat filter-filter estetik atau debat tak berujung di kolom komentar. Hari itu, timeline-nya berubah. Ada tawa, haru, dan empati. Semua orang berbagi. Tak peduli latar belakang, jumlah followers, atau status sosial.

Di sela-sela komentar, ada satu pesan masuk dari akun tak dikenal. Isinya singkat:

“Terima kasih, Zahra. Hari ini aku merasa tidak sendiri.”

Zahra menatap layar cukup lama, lalu menulis balasan dengan hati-hati.

“Kita semua terhubung, bahkan lewat hal-hal paling sederhana.”

Malam itu, Zahra mematikan ponsel dengan senyum mengembang. Di Hari Media Sosial, ia tak jadi viral. Tapi ia tahu, setidaknya hari ini, dunia maya terasa lebih manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *