Tongkat Penyambung Semangat

Pagi itu ku kira akan pagi seperti biasanya, aku yang tebangun aku triakan langkah ibu yang membangunkan ku untuk bersekolah. Tapi ternyata tidak. Ketika aku membuka mata aku melihat selang dengan sebuah penyangga yang menyangga selang tersebut dan terhubung dengan tangan ku. aku masih bingung, ini dimana? Aku kenapa?. Ku amati sekitar dan aku tidak menemukan sekitar. Setelah puas melihat sekitar aku mengamati tubuhku. Sepertinya ada yang kurang dari tubuhku. Dan benar saja kaki hanya utuh satu. Lalu satunya kemana? Aku juga tidak tau. Tidak ada orang di tempat ini untuk ku lontarkan pertanyaan.

Tak lama kemudian setelah banyak pertanyaan muncul dikepala tiba-tiba pintu masuk berbunyi pertanda ada yang akan masuk kedalam. Dia sosok cantik dan penyabar serta penyayang. Benar, Dia ibuku namanya surti. Tanpa aba-aba aku melihat air matanya penuh diujung matanya saat menatapku. Dengan cepat dia menanyakan keadaan ku. “Kamu sudah bangun? Apa yang sakit sayang?” tuturnya sambal terus mengamati ku. 

Aku melihat nya dan menganggukkan kepala ku sebagai jawaban aku tidak apa-apa. Kemudian aku memperbaiki posisi duduk ku. Aku mulai bertanya “bu kaki ku dimana?” tanyaku. Yang tadinya air matanya hanya menggenang di ujung mata sekarang air mata itu deras jatuh kepipi ibu ku. Benar, ibuku menangis. “Maaf nak, ibu terpaksa membuat satu kakimu demi kesehatanmu?” tuturnya. Samar-samar aku kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya sehingga aku terbaring disini. Ternyata kemarin ketika aku pulang dari sekolah, aku ditabrak oleh sebuah mobil yang menyebabkan kakiku tersangkut dan harus diamputasi.

Kurentangkan tanganku untuk memeluk ibuku sebagai isyarat aku tidak apa-apa. “Ibu tenang saja, aku tidak apa, mungkin itu memang takdirku. Ibu tidak perlu menangis” ucapku meyakinkan ibuku. Tak lama, tepatnya 2 minggu kemudian aku diperbolehkan pulang. Mulai dari hari kepulangan ku hidupku tidak lagi sendiri, aku selalu ditemani tongkat yang menjadi penyambung semangatku.

Kini hari-hari ku menjadi berbeda. Aku merasa diistimewakan seakan-akan aku selalu perlu dikasihani. Padahal aku tidak butuh itu. Aku hanya cacat, bukan lumpuh. Dengan kondisiku yang saat ini pun aku sering sekali diremehkan. Bahkan aku merasa dijauhi oleh beberapa temanku. Perasaanku agak sedih tapi bagaimanapun ini takdirku. Sebenarnya aku tidak meminta untuk seperti ini, tapi karena ini sudah terjadi padauk, mau tidak mau aku harus menjalaninya. Menyerah tidak akan menghasilkan apa-apa. Sekarang teman ku hanya tongkat yang ada dalam genggamanku yang bersedia menemaniku dan selalu menopang diriku untuk terus berdiri tegak.

Berkat kepercayaan diri dan usaha ku yang begitu tinggi. Kini teman-teman ku mulai menyadari keberadaanku. Aku tidak lagi dikucilkan oleh orang lain. Keberadaan ku sudah disama ratakan. Menjadi pelajaran untukku agar selalu mengapresiasi diriku agar orang lain tidak mudah merendahkanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *