Aku berdiri di tepi jalan yang seolah tak berujung, dikelilingi kehampaan yang menyesakkan. Semuanya putih dan kosong, tanpa bayangan atau suara. Kehampaan ini bukan hanya di luar, tapi juga di dalam diriku. Rasanya seperti terjebak dalam elevator yang rusak—hampa, canggung, dan sangat membosankan. “Serius? Bahkan tidak ada musik yang terdengar?” gumamku, setengah berharap ada hiburan kecil.
Tiba-tiba, dari kejauhan, sebuah titik hitam muncul. “Aha, akhirnya ada sesuatu!” kataku, berharap ini semacam kejutan. Titik itu semakin mendekat, berubah menjadi sosok perempuan yang berjalan tenang ke arahku. Saat dia makin dekat, aku merasakan kehangatan dalam tatapannya, seperti perasaan nyaman saat mengenakan piyama kesayangan.
“Siapa kamu?” tanyaku, sambil mencoba terdengar santai. Perempuan itu tersenyum kecil, “Aku adalah apa yang kamu cari.”
Aku menghela napas. “Itu jawaban yang sangat misterius,” balasku, merasa seperti di tengah plot film yang terlalu serius. Lalu, bayang-bayang gelap mulai muncul dari tanah di sekeliling kami, seolah-olah mewakili ketakutan dan keraguan yang sudah kuhindari. “Oke, ini mulai terasa seperti mimpi buruk,” kataku, setengah berharap mereka berubah menjadi badut atau balon, tapi tidak.
Perempuan itu menatapku dengan senyuman yang tiba-tiba terasa familier. Wajahnya perlahan berubah. “Ibu?” tanyaku, sedikit terkejut.
“Iya, Nak,” jawabnya. “Aku di sini untuk membantumu keluar dari kehampaan ini.”
Aku mengerutkan dahi, tapi sebelum sempat bertanya lebih lanjut, ibu menggenggam tanganku. “Mereka tidak bisa menyakitimu, kecuali kamu membiarkan mereka,” katanya, sambil melirik bayang-bayang yang menakutkan itu.
“Aku tidak takut,” kataku, lebih kepada diriku sendiri. Bayang-bayang itu perlahan memudar, seperti efek spesial yang gagal di film horor kelas B.
Kami mulai melangkah bersama, melewati kehampaan. Cahaya mulai muncul di depan, tapi sebelum sempat merayakan kebebasanku, semuanya menjadi buram.
Aku terbangun di rumah sakit, dikelilingi cahaya lampu neon yang menusuk mata. Bau antiseptik yang khas menyeruak, menegaskan bahwa aku benar-benar ada di sini—ruangan yang dingin dan steril. Dinding putih di sekelilingku tampak bersih, tapi juga memberikan kesan kosong, seperti rasa hampa yang sempat kurasakan tadi. Suara alat monitor berdetak pelan di sampingku, detak jantungku terpampang di layar, menjadi satu-satunya irama yang teratur di tengah keheningan ini.
Tangan seseorang menggenggam tanganku, kali ini terasa hangat dan nyata. Aku menoleh, berharap melihat wajah ibu yang tadi menemaniku di kehampaan. Tapi bukan dia. Yang kulihat adalah sosok yang tampak akrab, mungkin seorang teman—matanya merah, tapi tersenyum lega.
Aku menatap langit-langit, teringat senyum ibu. Apakah aku benar-benar sudah kembali? Atau, seperti permainan video, ini hanya level berikutnya? Apa pun jawabannya, satu hal yang pasti—aku masih di sini, dan mungkin, hidup tak seburuk itu kalau ada sedikit kejutan di dalamnya.
