Selamat!

“Kring!!” bunyi alarm itu menusuk indra pendengaranku, menarik paksa kelopak mataku untuk terbuka. Kulihat jarum jam yang masih setia berputar di tempatnya itu, rupanya sudah menunjukkan pukul 3 sore. Seketika langsung terlintas di kepalaku, jam 3 sore. Ya, masa depanku sedang dipertaruhkan sekarang. Langsung saja ku bergegas dari ranjang kayu itu dengan kasar. Kuambil barang elektronik silver yang bertengger di meja belajarku, barang yang akhir-akhir ini selalu menjadi teman setiaku.

Kuturuni anak tangga itu satu persatu dan segera bergegas menuju kursi klasik berwarna coklat tua. Hatiku benar-benar gelisah. Otakku pun tak dapat berpikir jernih. Masih terbayang masa-masa itu, masa di mana titik kesabaranku sedang diuji. Dengan gemetar, kuberanikan diriku untuk menatap layar laptop yang tengah menyorotkan cahaya putih dari layarnya. Kurasakan sebuah tangan lembut menyentuh pundak lemahku. Kutangkap raut wajah ibu yang sedang menatapku dengan senyum teduhnya, mengisyaratkan kepadaku agar tidak gelisah. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa hatiku semakin gundah.

Jarum jam kini sudah menunjuk ke angka 4. Kupejamkan kedua mataku perlahan, tak lupa merapalkan beribu harapan dan doa dalam hati. Setelah selesai, segera saja jari-jariku menari lincah di atas keyboard laptopku. “Selamat!” satu kata pertama itu cukup memporak porandakan hatiku, menurunkan sebuah hujan haru di pelupuk mataku. Ibu mendekapku erat, menyalurkan kebahagiaannya dengan tangan yang senantiasa mengusap lembut punggungku. “Selamat ya, langkah barumu akan segera dimulai. Ibu sangat bangga padamu, ndhuk.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *