Formadiksi UM News – Sebagai mahasiswa aktif membuka berbagai kesempatan untuk menambah pengalaman dan wawasan, salah satunya melalui kompetisi. Hal tersebut dimanfaatkan Fais Achmad Muzaki yaitu tim, mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang, dengan mengikuti ajang internasional, yakni International Innovation ARSVOT Malaysia 2026. Dalam kompetisi tersebut, Fais Achmad dan tim membawa inovasi “Green Shelter Technology: Integrating Solar Cooling Walkways and Hydraulic Bus Boarding Systems for Inclusive Public Transportation and Urban Heat Mitigation in Surabaya” yang dirancang untuk mempermudah proses naik-turun penumpang, termasuk bagi pengguna dengan keterbatasan mobilitas.
Gagasan ini berangkat dari permasalahan di lapangan, khususnya kondisi pengguna transportasi umum yang masih harus menghadapi cuaca panas dan lingkungan halte yang kurang nyaman. “Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai transportasi, tetapi juga menggabungkan aspek energi terbarukan, kenyamanan, aksesibilitas, dan mitigasi panas perkotaan dalam satu sistem,” ungkap Fais Achmad. Dalam kompetisi ini, mereka menilai bahwa proses mempersiapkan karya dengan semaksimal mungkin lebih penting daripada hanya berfokus pada hasil akhir.
Persiapan dan Tantangan Kompetisi
Fais Achmad dan tim melalui proses persiapan yang cukup komprehensif dan terstruktur selama kurang lebih satu bulan. Setelah memperoleh informasi mengenai kompetisi dari Kaprodi Pendidikan Teknik Bangunan, Fais Achmad mulai membentuk tim yang terdiri atas empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan dan satu mahasiswa Teknik Sipil. Proses kemudian dilanjutkan dengan brainstorming untuk menemukan ide yang berangkat dari permasalahan nyata di lapangan.
Tentunya, dalam menjalani setiap tahapan tersebut, Fais dan tim tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Inggris. Fais Achmad dan tim menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka masih perlu ditingkatkan. Namun, tantangan tersebut justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar lebih jauh, mulai dari membaca dan memahami kembali ide yang telah dibuat hingga mempelajari berbagai istilah yang berkaitan dengan konsep inovasi mereka.
Keterbatasan dalam menggunakan bahasa inggris tidak menjadi penghalang bagi tim tersebut untuk tetap melanjutkan kompetisi. Mereka tetap memegang teguh prinsip awal yaitu mengikuti kompetisi karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Keputusan tersebut membuat mereka memilih untuk terus melangkah meskipun sempat merasa memiliki keterbatasan. “Jadi kami berpikir, kalau kami berhenti hanya karena merasa kurang mampu, kami tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kami sebenarnya,” tutur Fais Achmad. Selain itu, selama proses persiapan, Fais Achmad dan tim belajar lebih dalam, mulai dari menggali permasalahan hingga mengembangkan ide dengan berfokus pada persoalan yang ingin diselesaikan, bukan sekadar pada apa yang ingin mereka buat.
Di Balik Capaian Bronze Medal
Momen yang paling berkesan bagi tim tersebut terjadi saat nama mereka diumumkan sebagai peraih Bronze Medal. Bagi mereka, pengumuman tersebut bukan sekadar pencapaian, tetapi menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras yang telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Dengan waktu persiapan yang terbatas dan tahapan yang cukup panjang, pencapaian tersebut menjadi momen yang sangat berarti bagi Fais Achmad dan tim.
Menurut mereka, salah satu kekuatan inovasi yang membawa mereka meraih Bronze Medal terletak pada ide yang berangkat dari permasalahan nyata dan menggabungkan beberapa pendekatan dalam satu solusi. Green Shelter Technology tidak hanya melihat persoalan transportasi publik dari sisi mobilitas, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan, aksesibilitas, energi terbarukan, dan mitigasi panas perkotaan.
Refleksi dan Pesan untuk Mahasiswa KIP Kuliah maupun Mahasiswa Lainnya
Sebelum mengikuti kompetisi tersebut, Fais Achmad merasa bahwa kemampuan dirinya masih terbatas, terutama dalam menghadapi pengalaman baru serta penggunaan bahasa inggris. Kompetisi ini membuat Fais Achmad lebih percaya terhadap kemampuan dirinya dan membuatnya lebih menyadari bahwa kemampuan dapat berkembang melalui keberanian dan kemauan belajar.
Bagi Fais Achmad dan tim, pengalaman tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan tentang bagaimana mengubah permasalahan menjadi sebuah solusi, tetapi juga mengajarkan pentingnya kerja sama, komunikasi, pembagian tugas, dan keterbukaan terhadap masukan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang melengkapi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.
Fais Achmad dan tim berpesan kepada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun mahasiswa UM lainnya untuk tidak takut mencoba hanya karena merasa belum sepenuhnya siap. Menurut mereka, kesempatan untuk meraih prestasi tidak selalu berawal dari sesuatu yang besar, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk mengambil kesempatan dan mencoba hal baru. Dalam wawancaranya bersama Reporter Formadiksi UM News, Fais Achmad turut menambahkan, “Karena, prestasi bukan hanya tentang mendapatkan juara, tetapi juga tentang keberanian untuk berkembang dan membuktikan bahwa kita mampu.”
Reporter: Jihan Fabilah
Editor: Anika Putri
