Seorang gadis berseragam putih abu-abu memasuki rumah dengan langkah ceria. Tangan kanannya mengenggam beberapa kertas tebal.
“ Assalamualaikum ibukkkkk, Adek pulang.” salam gadis itu dengan suara yang lantang. Ia melepas sepatunya di depan pintu rumah, membiarkannya berserakan.
“ Adek gak usah teriak-teriak!” balasan itu terdengar tak lama, seorang wanita paruh baya keluar dari bilik dapur. Ia melihat putri bungsu nya menyengir.
“ Lupa Ibukkk.” ujar Nara setelah menyalimi tangan Marwa, sang Ibu.
“ Bu, tahu nggak hari ini ada banyak penyuluhan dari kampus-kampus loh. Liat-“ jeda Nara mengangsurkan brosur-brosur kampus yang didapatkan kepada Marwa. “ Nara dapat banyak brosur kampus, lihat-lihat yuk Bu. Nara masih bingung mau ambil jurusan apa.” lanjutnya dengan nada bimbang.
“ Iya, ganti baju dulu sana. Terus makan, Ibu masak perkedel jagung sama asem-asem kesukaan Adek.” perintah Marwa mendorong pelan bahu putrinya.
“ SUMPAH!? AAAAA MAKASIH IBUKKU SAYANG.” Nara memekik kegirangan, mencium pipi ibunya dengan cepat lantas berlari masuk ke dalam kamar. Perkedel jagung I’m coming!!
“ NARAAAAA, INI SEPATU KENAPA GAK DI TARUH DI RAK?? KEBIASAAN.” Seruan ibunya membuat Nara yang tengah membersihkan muka meringis.
“ MAAF BU, NARA KHILAF.”
“ Gimana, Bu? Nara pilih apa ya enaknya.” Nara mengetukkan jari telunjuk nya ke dagu sambil menatap ibu nya dengan tatapan bingung.
“ Ya kalau Ibu terserah Nara, yang penting Nara enjoy. Ibu gak mau maksa, Nara nya tertarik kemana?” tanya Marwa sembari menyisir rambut putrinya yang memanjang.
“ Nara tuh mau antara Tata Boga atau PG Paud. Boleh, Bu?” Nara menoleh ke belakang sekilas untuk menatap ibunya.
“ Boleh dong, kenapa harus nggak boleh?” tanya balik Marwa.
“ Eumm.. Nara cuma takut nanti lowongan kerja nya lebih sedikit dari prodi lainnya. Nara gak mau jadi beban keluarga makin lama.” ujar Nara mengeluarkan keresahannya.
“ Nggak ada ya Dek beban keluarga gitu. Adek sama Mbak gak pernah jadi beban buat Ibuk, buat Bapak. Hadap sini dulu.” Nara membalikkan badan menghadap sang ibu. Ibu nya mengelus surai hitam legam miliknya, dengan tatapan lembut beliau berkata.
“ Adek ambil yang menurut Adek sesuai sama passion Adek. Ambil yang menurut Adek, Adek bakal senang dan enjoy ngejalaninnya. Ibuk sama Bapak disini cuma bisa ngasih saran, Adek yang menentukan sendiri. Iya? Jangan kepikiran macam-macam, pokok tugas Adek sama Mbak itu sekolah.” tegas Marwa dibalas Nara dengan anggukan patuh. Gadis itu memeluk ibunya dengan erat sambil bergumam.
“ Adek sayang Ibuk, adek janji bakal ngebanggain Ibu sama Bapak. Nara mau jadi sarjana plus cumlaude.”
“ Aamiin Nak. Jangan lupa sholat dan berdoa nya di perkuat.”
“ Naraaa, kamu deg-degan gak sih nunggu pengumuman sore ini?” tanya Tasya pada Nara yang tengah memakai kaos kaki.
Kedua gadis itu selesai melaksanakan sholat dzuhur di sekolah. Nara mendapat giliran Ujian Sekolah di sesi siang hari yaitu pukul 13.00-15.00. Pukul tiga sore bertepatan dengan pengumuman SNMPTN yang Nara ikuti sebelumnya. Setelah berdiskusi dengan keluarga, Nara akhirnya memilih Tata Boga sebagai pilihan pertama dan Pendidikan PG Paud untuk pilihan kedua. Ia berharap hari ini mendapatkan kabar baik, kata “LOLOS” akan tertera di halaman SNMPTN.
“ Banget Syaaaa. Aku dari semalem gak fokus belajar karena kepikiran hasil hari ini. Bismillah ya Sya, semoga kita diterima.” Ucap Nara bersungguh-sungguh.
“ Aamiin Ya Allah. Yaudah yuk balik Ra.”
“ Bapakkkk.” Seru Nara sambil berlari kecil menghampiri ayah nya di gerbang sekolah. Hari ini, gadis itu diantar jemput oleh ayah nya untuk ke sekolah.
“ Gak usah lari-lari, Nduk.” peringat Ridwan, menatap khawatir putri bungsu nya yang sangat aktif. Nara menyengir saja, ia naik ke atas motor dengan cepat
“ Ayo Bapak, cepet. Nara gak sabar lihat pengumuman.” ujar gadis itu dengan tak sabar nya membuat sang ayah menggeleng.
“ Iya-iya. Pegangan, Nduk.”
Nara segera turun dari motor dengan langkah tergesa. Gadis itu melempar sepatu nya di depan rumah lalu berteriak.
“ IBUKKKK, MBAKKKKK, BAPAKKKKK. AYO KESINIIII!!” Nara cepat-cepat masuk ke kamar, mengambil laptop miliknya. Tak lama kemudian Ibu nya menyusul masuk ke dalam kamar.
“ Kebiasaan loh Adek teriak teriak kayak gitu. Gak bagus.” tegur sang ibu membuat Nara meringis.
“ Maaf Ibuk, adek terlalu excited ini. Ibukkk sini duduk sini Ibuk.” Nara menepuk sisi kiri di sebelah nya. “ Mbak sama Bapak mana, Bu?” tanyanya tidak sabar, Nara mulai membuka website pengumuman SNMPTN. Kaki dan tangannya mendadak dingin. Perutnya mulas seperti ada yang meremasnya kuat. Jantungnya bertalu begitu cepat sampai Nara takut akan keluar.
“ Mbak disini.” seru Jihan, kakak nya yang baru memasuki kamar. Ia langsung saja duduk di sebelah kanan adik nya. Tak lama kemudian sang ayah menyusul duduk bersebelahan dengan sang ibu.
Nara mengetik nomor pendaftaran dan tanggal lahir nya perlahan. Bahkan jari jemari nya terasa kaku untuk sekedar mengetik.
“ Ibukk takuttt.” rengek Nara menatap sang ibu dengan wajah pucat. Marwa tersenyum geli menatap putrinya.
“ Adek bismillah dulu. Adek kan udah berusaha, bismillah hasil nya juga memuaskan.” ujar Marwa mencoba menenangkan putrinya.
“ Bener kata Ibu, Nduk. Nara kan udah berusaha dari kelas X, sekarang serahin semuanya sama Allah. Insyaallah lolos, Nduk.” Ayahnya ikut menimpali membuat Nara menghembuskan napas perlahan. Gadis itu mengangguk menyetujui ucapan sang ayah, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat nilai rapor yang stabil dari mulai kelas X. Nara menenangkan hatinya yang berdebar.
“ Apapun hasilnya, kamu udah ngasih yang terbaik Dek. Ayo di buka, Mbak udah penasaran.” Nara mengangguk. Ia menyiapkan hatinya untuk apapun hasil yang di terima. Dengan tangan sedikit gemetar, Nara memencet tombol bertuliskan “Lihat Hasil Seleksi.”.
Nara membulatkan mata melihat kalimat yang tertera paling atas. Jantungnya berdetak sepersekian detik.
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNMPTN 2021
Selanjutnya tangisan Nara memecah keheningan itu, disambut dengan pelukan erat oleh keluarganya. Nara tidak sanggup untuk bersuara. Jantung yang sedari tadi berdetak cepat berangsur kembali normal. Otaknya masih mencerna apa yang barusan dilihat. Benarkah ini? Rasanya tidak menyangka ia berhasil lolos seleksi SNMPTN. Nara terisak di pelukan sang Ibu.
“ Selamat Adekkk, anak Ibu resmi jadi mahasiswi tahun ini. Ibu bangga banget sama Adekkk. Nanti kita cari kos yang nyaman buat Adek ya.” ucap Ibu nya dengan suara bergetar, wanita itu juga menangis terharu.
“ Alhamdulillah anak bungsu Bapak bakal jadi sarjana. Makasih Adek, Makasih Mbak udah buat bangga Bapak sama Ibuk.” ucap Ridwan dengan penuh emosional. Ayahnya juga menangis dalam diam menatap putrinya penuh rasa bangga.
“ Mbak bangga punya adek. Rajin-rajin ya dek kuliahnya.”
Hari itu, menjadi salah satu hari paling bahagia yang Nara rasakan. Bukan hanya dia, namun Ibu, Bapak, bahkan Mbak nya juga merasakan kebahagiaan itu.
“ Cieee yang makan bebek goreng. Seneng tuh dapet dua potong.” godaan dari Jihan yang jalan ke ruang makan membuat Nara menaik turunkan alis dengan raut sombong.
“ Iya donggg. Ini namanya self reward loh, Mbak.” balasnya sambil tertawa. Jihan mencibir mendengarnya.
“ Self reward apaan, yang beliin kan Ibuk.” ucap Jihan menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Ia menatap Nara yang sudah menghabiskan tiga piring nasi. Nara dengan bebek goreng memang menakutkan, adik nya akan berubah menjadi Tanboy Kun jika disandingkan dengan makanan kesukaannya itu.
“ Sirik aja Mbak tuhhh, udah aku mau nambah lagi. Jangan berisik.”
Pagi ini Nara menyirami tanaman-tanaman bunga milik ibunya, Marwa memang suka menanam sedari dulu. Nara membersihkan daun-daun kering yang jatuh. Gadis itu berdiri menatap tanaman bunga matahari yang ia pinta pada ibunya untuk ditanam. Sudah hampir tiga bulan berlalu, ia menyentuh kelopak bunga yang sudah mulai tumbuh membesar.
“ Bu, itu bunga nya bentar lagi besarya.” ujar Nara mengadu pada ibunya yang tengah memetik cabai.
“ Iya Adek, beberapa minggu lagi kayaknya udah bisa di panen. Nanti kita ambil sama-sama ya.” ucap ibunya sembari tersenyum.
Nara menatap bunga matahari yang sudah mekar sempurna di hadapannya. Sepasang netra nya penuh dengan air mata yang mengalir di kedua pipi nya. Gadis itu menatap gunting di tangannya, dengan tangan bergetar gadis itu memotong beberapa bunga matahari yang bisa dijangkau nya. Nara terisak setelah mengambil bunga-bunga di genggamannya. Gadis itu jatuh terduduk di tanah, menepuk dadanya berulang kali, mengurai sesak di dada yang semakin pekat melanda.
Nara menatap bunga matahari di genggamannya dengan pandangan mengabur. Air matanya menetes membasahi baju yang dipakai. Gadis itu bersuara di tengah isakannya.
“ Ibuk bohong, N-Nara.. Nara ngambil bunga nya sendirian, Ibuk.. I-Ibuk nggak nemenin Nara ngambil b-bunganya. N-Nara mau Ibuk balik ambil bu-bunganya sama sama.”
“ I-ibuk gak bisa n-nemenin Nara.. N-nara buat cari kos. Ibuk bohong. N-nara mau perkedel jagung lagi, N-nara gak mau dibeliin ayah di wa-warung, rasanya gak enak.”
Nara memeluk bunga matahari itu seerat mungkin. Ia kembali menangis tersedu, ibu nya sudah tiada. Ibu bukan hanya surga, tapi juga sebagian jiwa untuk Nara. Kata orang, tidak ada obat rindu kecuali pertemuan. Lalu bagaimana mengobati kerinduan yang terhalang kematian?

Siapa yang naruh bawang di sini.