Tuhan Sebut Ini Sia-Sia

Panas terik Kota Jakarta datang begitu menyengat. Sesekali kepalaku mengadah pada langit, berharap Tuhan yang Maha Bijaksana berada tepat di langit itu. Sesekali memicingkan mata sayuku, berharap kesedihan ini akan segera tergantikan. Menapakkan jejak demi jejak langkahku yang lebar, aku hanyalah remaja SMA yang dirundung banyak masalah. Menghela napas panjang, menandakan aku ikhlas dengan semua kesedihan. Menyusuri hiruk pikuk Kota Jakarta, kini aku berjalan dengan melamun. Melamun tentang masalah apalagi yang kiranya akan kuhadapi di rumah. 

Sebenarnya tidak ada yang perlu dibuat sedih dari hidupku, aku terlahir dari keluarga konglomerat, berkecukupan, bersekolah di SMA taraf Internasional, aku anak tunggal kaya raya katanya. Tetapi kehidupan di dalam rumahku, tak sebahagia senyum yang setiap hari selalu kupancarkan. Bisa dikatakan, aku hanyalah seorang anak perempuan dengan senyuman palsu, berbadan kurus, rambut pendek dan tidak terlalu tebal, semakin terlihat jelas bukan seperti orang stres. Orang-orang tidak pernah tau tentang omongan-omongan tajam yang setiap hari membunuh mental dan jiwaku. Sindiran hingga makian yang setiap hari datang mencerca kehidupanku. Terkadang, orang menganggap alay, hidup sudah berkecukupan saja masih memperdebatkan mental. Padahal realitanya, aku lebih memilih hidup sederhana, tetapi mental dan jiwaku terjaga. 

Gubrak.. “Dasar anak pemalas, setiap hari hanya di kamar saja. Benar-benar anak tidak diuntung. Andai saja aku bisa memilih, tak akan mau aku melahirkan anak sepertimu.”

Kasar? Memang seperti itulah makian yang harus aku perdengarkan setiap hari. Kadang aku bingung apa yang membuatku dimaki seperti itu. Kadang aku berpikir, aku ini anak siapa. Ibu dengan wajahnya yang anggun dan cantik, serta memiliki tubuh yang indah sangat disegani orang-orang karena kecantikan dan parasnya. Ayahku juga bertubuh gagah dan tinggi, memiliki garis wajah yang tegas serta berwibawa. Ayah dan ibu terlihat sangat cocok menjadi pasangan yang dikatakan konglomerat itu. Tetapi tidak dengan anak perempuannya, harus memiliki tubuh yang kurus dan penampilan seadanya. Mungkin itu bentuk kasih sayang mereka atau memang takut saja hartanya habis untuk membiayai anak perempuannya. 

         Menjatuhkan diri di meja belajar kesayanganku, sambil  bertanya-tanya, “Tuhan, apabila dulu aku tidak ingin dilahirkan, kenapa engkau membuatku hadir di dunia ini? Kebahagiaan apa yang sebenarnya telah engkau rencanakan untukku”

Sesekali air mataku menetes dari kedua mata yang sayu, lelah sekali rasanya berpura-pura untuk selalu kuat dan menahan air mata ini. Rasanya hati dan air mataku sudah kubendung kuat-kuat, aku tidak mau menjadi anak cengeng begitu saja hanya karena keadaan yang memang mengenaskan. Menenangkan diri, merenung bertanya pada barisan buku-buku yang tertata di meja belajarku, “Buku, semua kehendak yang digariskan di dunia ini pasti ada alasannya kan? Lalu apa alasanku untuk dilahirkan di dunia ini? Lalu apa alasanku untuk melanjutkan hidup? Jelas-jelas ibu yang melahirkanku saja mengaku bahwa aku memang tidak diinginkan lahir di dunia ini”

Sesekali aku menahan isak tangisku, sambil menahan bibir mungilku yang tak berhenti bergetar menahan kekesalan. 

         Menatapi dinding kamar yang dingin, “Dinding, kenapa ibu dan ayah sangat membenciku? Apa sebenarnya salah yang pernah kuperbuat? Aku selalu jadi siswa yang berprestasi, aku tidak pernah membuat malu orang tuaku. Sampai-sampai orang tua lain iri melihat prestasiku yang membanggakan. Tetapi kenapa ayah ibu tidak terlihat sedikitpun bangga?” Terdengar teriakan dan suara benda-benda berjatuhan, lagi-lagi ibu membuang semua medali dan piala penghargaanku. Ibu memang tak suka aku berprestasi di bidang olahraga, karena menurut ibu perempuan harus anggun dan kalem. Begitulah ibu dan ayahku, terlihat konglomerat tetapi pemikirannya masih seperti orang melarat. Seketika aku mengangkut pialaku yang telah ibu masukkan dalam kardus sampah. Lagi-lagi air mataku sudah tak bisa kubendung, rasanya sia-sia aku berjuang untuk memenangkan semua perlombaan ini jika tidak membuat ayah dan ibu bangga. Padahal aku melakukan ini semua mati-matian agar mereka bangga dan tak menyesal melahirkan anak seperti aku. 

           Tetapi memang begitulah, cobaan hidup yang harus kujalani setiap harinya. Terdengar kumandang suara adzan sholat ashar dimulai. Dengan mata sayu yang masih sembab dan hati yang belum ikhlas, kupaksa diri ini untuk tetap memohon ampun pada sang kuasa. Tak dapat dipungkiri, sujudku pecah. Aku merasa bahwa tiada lagi yang dapat kujadikan tempat bersandar selain Tuhan. Bersujud, seraya membuatku didekap dan dikuatkan oleh alam semesta. Menengadahkan tangan kepada Tuhan dan selalu bertanya-tanya “Kenapa harus aku yang melaluinya?” Berharap Tuhan ada di sampingku, hingga Tuhan mengerti dan mendengar semua kesedihanku. Pada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang aku berharap ibu dan ayah diberi kelembutan hati agar ikhlas menerima aku sebagai anak yang memang diinginkan kelahirannya. 

Terdengar lagi teriakan dan makian dari luar kamar, “Memang anak tuli. Kau tidak dengar, jangan di dalam kamar saja anak tak tau diri. Bantulah membersihkan rumah, agar kami tidak perlu membayar asisten rumah tangga” Air mataku semakin pecah, betapa sedihnya hati ini dimaki sebagai anak tuli. Padahal aku di dalam kamar sedang berdoa dan beribadah yang setelahnya akan mengaji agar diberi ketenangan hati. Betapa sedihnya lagi, aku seorang anak kandung tetapi dianggap seperti asisten rumah tangga. “Tuhan, kebahagiaan apa yang sebenarnya engkau rencanakan. Aku sudah lelah Tuhan, mendapati cacian dan makian yang menghantam keras pikiranku” Melepas mukenaku, sesegera mungkin aku keluar kamar dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. 

Sesekali air mataku menetes ke lantai keramik rumah yang katanya rumah konglomerat itu. Aku tidak menangis karena mengerjakan ini, tetapi aku menangis karena berpikir apa tidak ada perkataan atau cara lain yang lebih sopan saat menyuruhku. Kenapa begitu kasarnya memperlakukan aku sebagai anak, andaikan aku punya pilihan aku juga tidak akan mau hidup di dunia ini. Aku tidak ingin ibu melihat air mataku, apabila terlihat pasti habis aku dimaki  anak cengeng olehnya. Walaupun hati dan mentalku sudah rapuh, aku tetap berpura-pura cuek dan kuat di depan ayah dan ibu. Aku berpura-pura tidak pernah mengindahkan perkataan mereka, nyatanya aku selalu berpikir keras atas makian yang selalu mereka lontarkan. 

Walaupun aku anak konglomerat, aku selalu memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan caraku sendiri. Entah dengan beasiswa yang kudapat dari prestasiku ataupun uang penghargaan dari perlombaan. Aku tidak berani sering-sering meminta pada ibu apalagi ayah, pasti aku dimaki habis-habisan katanya anak yang tidak tau sulitnya mencari uang. Padahal apa sih kebutuhan anak SMA, aku juga jarang hangout dengan teman, karena lebih memilih belajar untuk mempertahankan prestasiku demi membanggakan kedua orang tuaku. Rumah yang diidamkan oleh semua orang ini, bagiku adalah rumah yang penuh dengan benci. Rumah yang penuh dengan kekejaman dan ketidaknyamanan. Orang tua yang terlihat utuh dan harmonis, nyatanya hanya tipuan semata. Sudah lama, aku tidak merasakan hangatnya kasih sayang, hidupku penuh dengan kebencian, cacian, makian, dan kesedihan. Memang begitulah, tak pernah tau salah apa yang pernah kuperbuat hingga terjerumus pada keluarga yang kejam. Lagi-lagi di pikiranku bergentayangan, “Tuhan, kenapa harus aku? Rencana baik apa yang engkau buat untukku?” Pertanyaan itu kini kian menambah, “Tuhan, kau kira sekuat apa aku bertahan? Sampai kapan aku harus berpura-pura kuat menghadapi ini semua?  Lalu kapan kesedihan ini akan berakhir? Setidak pantaskah itu aku merasakan kebahagiaan? ” Sesekali tangan kurusku menghantam dinding. “Tuhan, aku benci. Aku benci harus berada dalam keadaan seperti ini. Aku benci dengan ayah dan ibu. Tuhan lihatkan, apa yang diperbuat ayah dan ibu kepadaku? Tuhan apakah aku salah bila membenci ayah dan ibuku?” Sesekali aku menjambak rambut ini. Rambut yang pendek dan tipis jatuh berguguran ke lantai. Aku benci dengan semua ini, aku kesal, aku sudah tidak kuat untuk bertahan. 

Aku selalu memegang prinsip untuk yang lalu biarlah berlalu. Aku mencoba selalu ikhlas atas perbuatan ayah dan ibu. Apapun keadaannya, kehidupan harus tetap berjalan. Aku pergi ke sekolah seperti biasanya, aku mencoba untuk tetap fokus menerima pelajaran walau sebenarnya pikiranku kacau penuh kebencian. Entah mengapa, kebetulan aku di sekolah juga tidak terlalu banyak teman. Meskipun barang-barangku terlihat branded dan mewah, aku adalah seorang yang introvert. Tentunya, siapa yang mau berteman, jika aku saja malas untuk bersosialisasi. Aku malas bersosialisasi bukan lain karena aku benci dengan keramaian, aku benci dengan sebuah ujaran ataupun percakapan. Aku hanya mencintai kesepian dan ingin abadi hidup di dalamnya. Aku haus kasih sayang, aku benci apabila mendengarkan teman-temanku bercerita tentang keharmonisan keluarganya. Sebegitu bencinya aku, ketika mereka menceritakan tentang perjalanan liburan, aku selalu menggunakan headphone agar tidak mendengar percakapan mereka. 

Aku punya satu teman, Alika namanya. Alika juga anak pengusaha konglomerat di Jakarta. Alika baik dan dia juga tidak terlalu berisik. Itulah mengapa, aku senang duduk bersebelahan dengan Alika. Alika juga sosok introvert, kami berteman hanya untuk kepentingan tugas. Percakapan setiap hari kami hanya membahas tugas. Alika juga jarang bercerita tentang keluarga dan kehidupannya, begitupun aku. Pertemanan kami bisa dibilang tidak begitu sejati, karena hanya fokus pada kepentingan tugas. Beberapa hari ini pikiranku sangat kacau, aku sulit sekali fokus dalam menerima pelajaran. Tiba-tiba aku berpikir untuk memberanikan diri bercerita pada Alika. Aku tau walaupun Alika introvert, sebenarnya ia pendengar yang baik. Aku tidak berekspektasi pada jawaban Alika nanti, rasanya aku hanya ingin meluapkan semua kekacauan yang ada di pikiranku. 

“Alika, ganggu sebentar ya. Kali ini bukan tentang tugas, tapi boleh ga kalo aku cerita sedikit. Soalnya pikiran agak kacau nih”

“Boleh” Memang begitu, dia dingin dan tidak terlalu banyak bicara. Tidak seperti aku yang sebenarnya suka berbicara tetapi berubah karena suatu kebencian. 

“Eh bentar, papa ku kirim pesan katanya udah di depan sekolah. So sorry ya, nanti kamu bisa kirim pesan ke aku”

Tidak usahlah berharap tentang responnya, berharap didengar saja masih untung. Memang aku ini hanyalah beban dimana-mana. Hidupku penuh dengan sia-sia. Lahir di dunia ini pun aku sudah sia-sia. Memang begitulah hidup, lagi-lagi aku harus ikhlas. Mendengar Alika dijemput papanya, hatiku miris. Terkadang ingin sekali dijemput ayah di sekolah, tetapi karena rumahku hanya 1 KM dari sekolah, papa menyuruhku jalan kaki agar sehat. Mungkin benar tujuannya agar sehat atau memang sengaja karena ayah membenciku. 

Menapaki jalanan Kota Jakarta yang penuh kebisingan dan terik matahari yang menyengat. Sesekali aku mengusap rambut tipisku yang selalu basah kuyup dihujani keringat. Memicingkan mata sayu dan mengepal tangan sambil berjalan. Berpikir cacian apa yang harus kuperdengarkan lagi di rumah. Bentakan apa yang akan dilontarkan oleh ibu setelah ini. Aku sebenarnya benci harus pulang ke rumah, tetapi tidak ada pilihan lain. Kabur pun, asisten ayah akan mencariku dimana-mana. Menapaki halaman rumah, rasanya seperti memasuki area neraka. Penuh kebencian, dendam, makian, dan cacian, itulah sebenarnya isi dari rumah konglomerat ini. Perlahan berdecit pintu rumah yang megah ini, perlahan kubuka berharap ibu tak mengetahui aku pulang. 

Brakkk.. Dasar anak tidak tau diri, kemana saja baru pulang. Bantu ibu membersihkan rumah, enak sekali hanya sekolah saja”

                Mataku pedas, pulang sekolah sudah disambut mata ibu yang melotot. Padahal di sekolah, aku belajar dengan sungguh-sungguh dan selepas pulang sekolah aku akan sholat dzuhur terlebih dahulu. Memang begitulah orang tuaku, konglomerat tetapi tidak tau rasanya bersyukur kepada Tuhan. Kadang aku malu memiliki orang tua seperti itu, hidup hanya menikmati kemewahan tetapi lupa cara bersyukur pada sang pemberi kemewahan. Pantas saja ayah dan ibu memperlakukanku seperti ini, karena hati mereka telah mati. Mati dan dibekukan karena tidak pernah bersyukur. Kadang aku kasian pada ayah dan ibu, memohon ampunkan pada Tuhan agar tidak disiksa karena tenggelam dalam kemewahan. Sesegera mungkin aku tetap beribadah kepada Tuhan, lagi-lagi masih sama memohon ampun dan mohon kelembutan hati untuk ayah dan ibu. Terdengar gebrakan pintu kamarku, lagi-lagi ibu berteriak. 

“Kau ini ya anak hanya satu, tapi tidak tau diri. Disuruh membersihkan rumah malah mengunci kamar. Jika kau tak ingin diatur ibu, silakan pergi dari rumah ini. Aku juga tidak mau memelihara pemalas sepertimu. Pergilah di rumah ini hanya jadi beban”

Dengan masih menggunakan mukenah, air mataku berderai sejadi-jadinya. Mukena yang kukenakan kujadikan tisu untuk membersihkan air mata ini. Sesekali ingin berteriak, “kenapa harus hidup dengan seperti ini” Bersujud kepada Tuhan, memohon keikhlasan dan ketenangan. Badan terasa lemas, wajah dipenuhi air mata, serta tangan dan bibir bergetar menahan kekacauan.

“Tuhan, Rabbku aku berlindung kepada-Mu. Tunjukkan apa salah yang kuperbuat, mengapa ayah dan ibu harus seperti itu kepadaku? Kenapa engkau memaksa aku untuk lahir di dunia ini Tuhan? Aku menyerah dengan segala ujianmu, maafkan hambamu yang harus tumbang di tengah jalan.”

Sambil berdoa, aku menjatuhkan badanku pada sajadah. Aku meringkuk bergetar pada sajadah. Derai air mataku semakin deras, hati dan pikiran ini penuh dengan kebencian dan kekacauan. 

               Keesokan harinya, ibu marah denganku. Ibu tidak memberiku uang saku sama sekali, karena aku kemarin tidak langsung membersihkan rumah. Ibu juga tidak memperbolehkanku makan makanan yang ada di rumah. Pagi-pagi hati sudah dibuat hancur, apabila aku menangis pasti habis dimaki oleh ibu. Kupaksa diri ini untuk tetap melangkah ke sekolah, dengan hati yang hancur dan kepala penuh kekacauan. Lagi-lagi aku berpikir Tuhan apa sebenarnya salahku, kapan kesedihan ini akan berakhir. Sesekali di pikiranku muncul rasa untuk mengakhiri hidup. Aku merasa hidupku hanyalah sia-sia. Aku bersekolah juga untuk siapa, aku tetap hidup juga untuk siapa. Prestasiku hanyalah sia-sia, semua perjuangan dalam pertandingan juga sia-sia. Penghargaan yang menumpuk serta peringkat di sekolah bukanlah apa, semua tidak ada rasa bangganya. Sering kali berpikir bahwa lebih baik untuk mengakhiri hidup, agar tenang dan tidak mendengar cacian setiap harinya. 

          Cacian yang dilontarkan ibu bukan hanya seminggu atau dua minggu saja, hal itu aku alami tahun-tahunan. Ibaratnya sekarang adalah titik terakhirku untuk tetap berpura-pura kuat, sekarang inilah rasa sabar dan ikhlasku sudah habis. Kadang berpikir, mungkin apabila aku sudah tidak di dunia ini, ayah dan ibu tidak akan perlu capek-capek setiap hari melihat aku penuh kebencian. Pasti ayah dan ibu tidak perlu setiap hari harus mengeluarkan tenaga untuk berteriak dan membentak. Kehidupanku di alam lain juga akan terasa tenang. Aku selalu sedih mengingat tidak ada tempat bersandar lagi selain Tuhan. Tidak ada tempat untuk berkeluh jesah, tempat memberikan kasih sayang, tempat untuk mendukungku. Memang itulah yang setiap hari ku rasakan. Berjuang sia-sia yang nyatanya hanya untuk kebahagiaan orang tua. Berusaha sepenuh tenaga, mengumpulkan banyak prestasi, nyatanya tidak sama sekali membuat ayah dan ibu sayang kepadaku. Pernyataan-pernyataan kehancuran itu selalu bergentayangan di pikiranku. Jalanan menuju sekolahku memang melewati banyak jalan raya, karena kehancuran dan kekacauanku kini aku benar-benar menyerah. Mengganjal pada hati untuk meminta maaf pada Tuhan karena aku menyerah duluan sebelum waktunya. Memejamkan mata seraya mengikhlaskan semua kehidupan di dunia dan berpasrah pada kehidupan selanjutnya. Memantapkan hati, segera aku berlari ke tengah jalan raya dan ya inilah akhir dari kisah hidup penuh kekacauan. Tubuh kurusku terpental dan terbanting dihantam truk. Ayah dan ibu, semoga setelah kepergian ini, tidak akan ada lagi kebencian yang menghiasi kehidupan kalian. Maaf telah membuat kalian hidup penuh dengan kebencian. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *