Tak ayal kiranya,
Rintik sendu membuncahkan rakut
Disini kulihat banyak orang mengutuk
Tak paham pada mereka yang bersyukur
Sesekali ia kutantang
Kuajak dia beradu pandang
Gemuruhnya dibantu genting
Lantang teriak perang
Sial, aku tumbang
Malang nian, wajah meradang
Kini aku berdamai
Kuajak dia bernyanyi
Tetes-tetes rindunya memeluk bagai kawan lama
Tenanglah, katanya
Kusambut pelukannya
Tentu tak hangat, tapi jelas adanya
