Senyuman paksa Alycia ditujukan untuk sang kasih yang sekarang tengah duduk di depannya. 4 tahun menjalin hubungan, tidak pernah mereka merasa secanggung ini rasanya. Percayalah, beberapa belas menit pertama, mereka hanya saling diam dan sesekali menatap mata tanpa disengaja. Wajar saja sebenarnya, sudah 2 minggu pasangan itu jarang saling bertukar kabar dengan benar karena cekcok di kencan terakhir mereka. Entah masih bisa dibilang dalam suatu hubungan, atau memang sudah selesai tanpa disadari.
“Gimana kabar kamu akhir-akhir ini?” ucap Ardian membuka percakapan dengan gerak-gerik canggungnya.
“Baik kak, ternyata bener kata Kak Ian kalau kuliah bakal bikin sibuk banget, apalagi ada recording juga minggu ini. Kak Ian sendiri gimana?”
Bukan, bukan begini harusnya pasangan yang sedang menghabiskan waktu berdua di tempat romantis ini. Harusnya mereka sedang tertawa karena tingkah random seorang Kak Ian, harusnya mereka saling tersenyum bahagia seolah madu dapat menetes dari mata keduanya.
Mereka menyadari itu. Mereka merasakan perbedaan itu. Mereka tau, kata ‘kita’ dalam hubungan keduanya, sudah di ujung lidah untuk di ucapkan oleh salah satunya.
“Mama selalu nanyain Kak Ian kapan ke rumah lagi loh, soalnya kayak sibuk mulu sekarang” Alycia mengakhiri perkataannya dengan tawa canggung.
Lagi dan lagi salah satu dari mereka terus melemparkan topik untuk menutupi keadaan saat ini, dengan harapan bisa memperpanjang percakapan yang tampak masih asing.
“Bilangin ke mama anaknya yang ini masih sibuk kerja sama kuliah semester akhir, udah hampir mau gila kayaknya” Alycia dengan semangat menertawai jawaban pacarnya.
“Tapi keliatan sih, biasanya aku liat repost an tiktoknya kakak yang isinya meratapi kehidupan kuliah mulu. Kakak gamau cerita ke Lily juga kah? ” Ardian menanggapi jawaban Alycia dengan senyuman kecil. Miris mendengarnya. Pasangan yang tau keadaan dari repost an sosial media? Tertawakan saja mereka ini.
Dan lagi lagi perasaan tidak nyaman ini menggerogoti keduanya, beberapa kali mereka menyampaikan banyak hal yang terus berhenti dengan senyuman paksa, sadar akan sebenernya mereka sudah enggan untuk meneruskan hubungan yang melelahkan ini.
Hingga saat tangan Ardian menggenggam jari-jari Alycia dengan lembut namun terasa begitu erat dan mata yang menjurus langsung kedalam hatinya seakan mengatakan ‘Sudah Ly, sudah cukup kita usahakan dengan baik hubungan ini’.
Melihat mata yang selalu menatapnya dengan kasih sayang dan lembut kasih, mata yang selalu menjadi tempat Alycia berharap semua masalahnya akan luruh hanya dengan pelukan yang begitu menenangkan sekarang berubah menjadi mata yang menyiratkan lelah dan putus asa yang dirasanya. Kini semua hal mesra itu semua terasa kabur dimatanya, seakan hilang dan begitu asing nantinya bagi mereka.
Tidak ada lagi pelukan, tidak ada lagi senyuman, tidak ada lagi kenyamanan, tidak ada lagi dekapan, dan tidak adanya harapan bagi mereka berdua hanya semakin membuat seakan tak ada yang bisa membantu keduanya, bahkan takdir yang katanya bisa dirubah pun nampaknya enggan memberikan kebahagiaan kepada mereka.
Air mata Alycia mulai jatuh dengan menyesakkan, “Udah ga bisa lagi ya kak? Ini beneran ga bisa kita benerin lagi ya? Sakit kak rasanya. Aku ga rela mau lepasin kak Ian dengan cara kayak gini. Aku kan udah bilang kalau masih sanggup buat jadi pacar kakak. Aku masih bisa kak Ian” Ardian merasa didorong masuk kedalam kesedihan berat saat melihat kesayangannya begitu rapuh di depannya.
“Ly, dengerin aku” Ardian keluar dari kursinya tanpa melepaskan genggaman tangan. Menyamakan pandangan dan menangkup wajah seseorang yang masih bisa ia panggil kekasih untuk saat ini.
“Lihat aku dan dengerin baik-baik ya, kita ini sudah sampai di batas akhirnya sayang, kita sudah berusaha dengan semua yang kita punya, aku dengan masa depan yang sudah dibuat sedemikian rupa, lalu kamu. Kamu yang sudah jauh melangkah begitu apik”
“Begitu bersinar mengalahkan bintang yang selalu kamu puji setiap malam saat kita berdua. Kamu indah Ly, kamu berharga di mata kakak.” Ada jeda sejenak di percakapan mereka, Ardian menulusuri setiap sisi wajah Alycia, memberikan usapan lembut pada rambutnya.
“Tapi kamu juga indah dan berharga di mata banyak orang, kamu jadi sebuah alasan bagi mereka terus melangkah. Aku juga sama, aku akan terus melihat kamu dari belakang dan terus memberikan dukungan dengan langkah kaki yang sama. Tapi tidak dengan berdampingan. Aku lepas kamu sekarang dan lanjutkan karirmu yang sudah kamu tunggu dari dulu. Aku bangga dan aku selalu bangga, entah sebagai teman, sebagai pasangan, atau sebagai penggemar kamu.”
Ardian tersenyum teduh sembari mengusap lembut pipi sang kekasih, harap-harap tangisannya akan berhenti “Aku sayang sama kamu, sayang ku ke kamu itu udah segalanya, aku kasih kamu seutuhnya tanpa terkecuali. Aku selalu bahagia sama kamu, aku selalu jadiin kamu prioritas diatas segalanya, bahkan diatas diri aku sendiri. Tapi engga untuk hancurin harapan atau mimpi kamu, engga untuk membuat rasa sayang dan cinta aku ke kamu berubah jadi penghalang bagi masa depan kamu.”
Begitu katanya, Begitulah akhirnya.
Mereka menangis sejadi-jadinya, saling mendekap erat raga yang mungkin sekarang menjadi kesempatan terakhir kalinya. Ardian selesai dengan beban hatinya, melepaskan kesayangannya agar bebas dan terbang mengarungi dunianya. Kekasih kecilnya itu akan menjadi penyanyi yang hebat nantinya, Ian yakin akan hal itu.
Dalam kebisingan malam yang terjadi di sekitar mereka, air mata yang bercucuran menjadi saksi dari perpisahan yang tak pernah mereka relakan. Dalam genggaman yang perlahan terlepas, mereka melepaskan satu sama lain, membiarkan waktu menjadi jawaban bagi akhir dari kisah cinta yang pernah mereka bangun bersama.
Mulai sekarang tidak akan ada kencan diam diam yang selalu mendebarkan setiap malamnya. Mereka selesai, namun dengan setitik harapan akan bertemu lagi. Saat itu, berikan takdir terbaik dengan jalan cinta yang bahagia bagi mereka. Semoga.
-The End
