Embun pagi menyapa langkah kaki pemuda itu untuk menuju sumur belakang rumahnya. Dinginnya air membelalakkan mata sayunya. Terdengar gemericik air wudhu dari balik bilik reyot di belakang rumah tua itu. Seperti biasa, pemuda itu berjalan menuju surau yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Berkumandang indah lantunan adzan darinya. Sholat jamaah usai, jamaah surau berbondong-bondong keluar.
Matahari telah seutuhnya menampakkan dirinya di langit nan indah. Langkah kaki yang ringan mengantarkan pemuda itu berangkat menuju sekolah. Kringgg, kringgg, kringgg bel masuk sekolah berbunyi. Murid-murid yang semula berjalan santai nampak lari dari kejauhan menuju gerbang sekolah sebelum sepenuhnya tertutup.
“Halo, salam kenal nama saya Christian, saya siswa baru, pindahan dari Papua, ikut Ayah saya.” sapa laki-laki yang tiba-tiba duduk di bangku samping Alfan. “Halo, salam kenal juga, saya Muhammad Alfan” jawab Alfan mengiyakan sapaan siswa baru itu. Ya, Namanya adalah Christian, seorang siswa baru yang merupakan pindahan dari Papua. ia datang ke Bumi Melayu itu dengan dalih mengikuti ayahnya yang sedang dinas di pulau ini. Percakapan keduanya berlanjut hingga sang guru memasuki ruangan dan memulai kelas pada pagi hari itu. Kelas berjalan dengan normal, sang guru pun memperkenalkan Christian kepada seluruh siswa di kelas itu, dan mereka memberikan sambutan yang hangat kepada Christian. Namun, dibalik sambutan hangat itu, ada juga sekumpulan anak yang kurang menyukai kehadiran Christian. Alasannya sepele, mereka kurang menyambut kehadiran Christian hanya karena ia berasal dari wilayah timur. “Awak dari mana?” salah seorang anak melontarkan pertanyaan dari Christian. “Oh haloo, saya dari kota Sorong” balas Christian dengan senyum ramah padanya. “Ooo dari Sorong, di sana ada listrik kah?” ejeknya kepada Christian. “Tentu ada, kota kami memang di timur Indonesia, jauh dari Ibukota. Tapi perkembangan kota kami juga bagus, meski tidak secanggih di Ibukota” tegas Christian pada anak itu. “Sudah baik kau di sana, kenapa pulak kau pergi ke tanah kami? menambah padat saja!” saut anak laki-laki tadi tanpa menghiraukan perasaan Christian. Lontaran kata-katanya semakin panas, namun Christian tetap diam, ia tak mau menyulut emosinya untuk menanggapi perlakuan anak lelaki itu.
Dari kejauhan Alfan melihat perbincangan ketiga teman sekelasnya itu dengan Christian. Dengan langkah ringan ia menghampiri Christian dan duduk di sampingnya. “Ada apa, Chris? sedang bicara apa kamu tadi dengan mereka?” tanya Alfan yang tampak mengkhawatirkan Christian. “Nggak, Fan. Bercanda saja kita tadi hahaha” jawab Christian yang mencoba menutupi perlakuan ketiga anak itu padanya.
Bel pulang berbunyi, seluruh siswa di sekolah itu berhamburan keluar gerbang. Sebagian anak ada yang mengayuh sepeda yang sudah tampak setengah usang, ada pula yang berjalan dengan gelak tawa bersama kawan-kawannya, ada yang dijemput oleh orang tuanya, ada pula yang jalan termenung menahan lapar setelah seharian menatap jenuh papan tulis di ruang kelas. Kali itu, Christian tampak berjalan sendirian menyusuri trotoar sekolah. Dari kejauhan Alfan tampak berlari kecil membuntuti Christian, ia berusaha mempercepat langkah kakinya untuk mencapai garis yang sama dengan langkah Christian. “Amboi, nampak murung betul kamu ni Chris, ada apakah gerangan?” ucap Alfan dari belakang yang cukup membuat jantung Christian terkejut sesaat. “Eh, kamu Fan! Ini aku hanya terpikirkan suatu hal kecil saja.” jawabnya. “Terpikirkan hal apa Chris? coba ceritakan padaku barangkali aku bisa membantu memecahkannya” ucap Alfan untuk memberinya kesempatan bercerita. “Menurut kamu saya ini orangnya bagaimana, Fan? apakah jika saya berasal dari wilayah timur, berarti saya terlihat rendah?” tanya Christian dengan ragu-ragu. Sontak Alfan terkejut mendengar pertanyaan kawan barunya itu, ia nampak khawatir dengan kondisi kawan barunya di sekolah. Alfan pun bertanya untuk memastikan keadaan kawannya “Tentu tidak, Chris. Semua manusia sama saja, meskipun ada banyak perbedaan diantara kita. Tapi tetap saja kita semua manusia, kita sederajat dan memiliki hak yang sama. Ngomong-ngomong, apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman Chris? apakah ada teman-teman yang membuatmu merasa terganggu di sekolah?” cecar Alfan pada kawannya itu, tanda bahwa ia khawatir.
Christian menjelaskan apa yang sebenarnya ia alami di hari pertama sekolahnya. Ia bercerita tentang pengalaman kurang mengenakkan yang ia terima dari kawan-kawan baru di kelasnya. Alfan pun tertegun mendengarnya, ia tak menyangka bahwa Christian mendapat perlakuan seperti itu dari kawan-kawan di kelasnya. Ia pun mencoba menenangkan Christian, ia berusaha membuatnya tetap tenang dan tidak terlarut dalam rasa bersalah dan rendah diri atas perlakuan yang ia terima. Christian pun berterima kasih atas hal itu, ia merasa sangat senang bisa mengenal Alfan di lingkungannya yang baru.
Keesokan harinya, Alfan menemui ketiga anak laki-laki yang kala itu sempat memberikan perlakuan kurang menyenangkan pada Christian. “Halo teman-teman! maaf tiba-tiba ikut duduk disini” ucap Alfan sembari menarik kursi mendekati ketiga kawan laki-laki di kelasnya itu. “Oh iya, kemarin aku sempat mendengar cerita kawan baru kita, Christian itu. Katanya kemarin kalian sempat bercanda bersama ya? tapi kalian tahu tidak, beberapa kalimat kalian mungkin terdengar menyinggung hati Christian kemarin.” jelas Alfan pada ketiga kawannya itu. “Oh jadi melapor pada kau kah anak baru itu?” balas salah seorang anak yang merasa tak terima dengan penjelasan Alfan. “Tidak, bukan begitu maksudku kawan. Aku hanya bermaksud mengingatkan saja bahwa ada batasan kita dalam bergurau dengan sesama. Lagi pula, kita semua ini kan sama. Kita warga Indonesia, memang banyak betul perbedaan diantara kita. Singkat saja, kita memang berbeda ras, suku, dan agama dengan kawan baru kita itu. Tapi kita ini sama-sama berbangsa Indonesia. Kalian ingat tidak? ada Pancasila yang mempersatukan semua kemajemukan yang ada di bumi pertiwi ini. Sudah susah payah pahlawan kito dulu merumuskan Pancasila untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Marilah kita jaga kemurnian nilai-nilai Pancasila tu! termasuk dalam adab bergaul dengan sesama kawan yang berbeda dengan kito.” ucap Alfan yang sudah panjang lebar menjelaskan pada kawan-kawannya. “Iya, betul juga kau ini, Fan. Baiklah pulang sekolah nanti kito jumpa si Christian, nak minta maaf kito padanya” balas mereka mengiyakan nasihat yang telah diberikan oleh Alfan.
Sepulang sekolah, ketiga anak laki-laki itu berjalan membuntuti langkah kaki Christian dan Alfan yang sudah lebih dahulu meninggalkan gerbang sekolah. Begitu sampai, ketiganya membuka pembicaraannya dengan Christian. Awalnya, Christian nampak ragu dengan kedatangan mereka. Namun ternyata, ketiganya datang untuk meminta maaf padanya. Dengan begitulah hati Christian tampak lebih lega. Ia senang dengan perbuatan kawannya itu dan tidak lagi merasa rendah diri akibat perkataan mereka yang kerap menyudutkan warga dari wilayah timur Indonesia.
