Kubercerita pada Malang

Sudah begini.
Siapalah yang salah?
Garis Ilahi kah?
Kupikir tidak! Ambisimu membodohi, hasrat membuat sesat.
Sudah begini.
Kemanakah kumengadu, resah, gundah bergejolak pada kalbu.
Kemanakah kulimpahkan amarah, aku pun hilang arah.
Malam enggan menghiburku. Ia sembunyikan kartika yang ayu.
Kulihat tukang nasi goreng asyik sendiri.
Tak merasa bersalahkah ia?
Asap mengepul di bawah penerang jalan. Jelantah menguar mengotori mata.
Namun, aroma memantik selera.
Kurasa ia tak dapat disalahkan.
Sudah begini.
Siapalah yang salah?
Mungkinkah kucing putih itu?
Memburu lipas pun tak dapat.
Tidak, ia pun tak salah. Mungkin lipas tlah berdoa pada Tuhan untuk hidupnya
diselamatkan.
Aku merasa kalut hingga ingin semaput.
Lampu terlihat redup, berkedip macam katup.
Pria tua muncul bagai maut.
Merogoh katung tak berraut.
Ah, dasar!
Tubuhku tak apa, lampu yang habis masa.
Kuteringat pada lipas, mengapa pula aku lebih bodoh darinya.
Duh, Gusti Nu Agung.
Ku tak mampu berkata.
Baik bagiku, belum tentu bagi-Mu.
Sudah begini.
Tak ada salah, tak ada amarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *