Formadiksi UM News – Langkah Kecil Sejuta Manfaat (LKSM) tahun 2026 menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penyaluran bantuan kemanusiaan. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Human Initiative sebagai pihak yang membantu proses penyaluran bantuan kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Reporter Formadiksi UM News berhasil mewawancarai Ketua Pelaksana LKSM tahun 2026, Dewi Lailatus Saniah Sunarji, serta pihak Human Initiative terkait pelaksanaan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sania, menyampaikan bahwa penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di NTT telah berjalan dengan baik. Meskipun terdapat jarak yang cukup jauh antara pihak pemberi bantuan dan lokasi terdampak, kerja sama dengan Human Initiative membantu proses penyaluran dapat terlaksana secara efektif. “Alhamdulillah penyaluran bantuan untuk masyarakat terdampak gempa di NTT sudah berjalan dengan baik. Walaupun terpaut jarak yang cukup jauh, adanya kerja sama dengan Human Initiative, kita mampu melakukan penyaluran dengan efektif,” ujar Sania.
Dalam penyaluran tersebut, Formadiksi UM memberikan bantuan berupa dana sejumlah Rp2.500.000,00 melalui perantara Human Initiative. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli barang dan kebutuhan sehari-hari sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak gempa di NTT. Proses penyaluran bantuan dilakukan secara daring melalui kerja sama antara Formadiksi UM dan Human Initiative. Sania menjelaskan bahwa kerja sama tersebut dijalankan secara profesional dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Persamaan rasa kemanusiaan antara kedua pihak juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat kepercayaan dalam proses penyaluran bantuan. “Penyaluran oleh pihak Human Initiative juga terbilang cepat, mengingat setelah tiga hari proses transfer bantuan sudah tersalurkan kepada masyarakat,” jelas Sania.
Sementara itu, dalam proses penyaluran di lapangan, Human Initiative menghadapi sejumlah tantangan. Moh. Agus Salim selaku perwakilan Human Initiative menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi cukup kompleks, terutama berkaitan dengan kondisi akses menuju wilayah terdampak. “Akses jalan sulit, akses ke pelabuhan, kerusakan jalan,” ungkap Agus ketika menjelaskan sejumlah kendala yang dihadapi dalam proses distribusi bantuan. Selain kendala akses, ketersediaan barang juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa jenis bantuan, seperti kasur, selimut, dan bantal, memiliki keterbatasan stok di wilayah NTT. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Human Initiative melakukan pengadaan barang dari luar NTT dengan jumlah sekitar 700 paket.
Dalam menentukan bantuan yang menjadi prioritas, Human Initiative melakukan asesmen terlebih dahulu terhadap kebutuhan masyarakat. Asesmen dilakukan untuk mengetahui kebutuhan yang belum terpenuhi di setiap wilayah terdampak sehingga bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. “Kami melakukan asesmen dahulu terkait kebutuhan masyarakat. Kira-kira kebutuhan apa yang belum didapatkan di wilayah A,” tutur Agus.
Saat bantuan disalurkan, masyarakat terdampak menyambutnya dengan baik. Bantuan kebutuhan pokok seperti beras, tepung, gula, dan kopi dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Menurut Agus, masyarakat sangat terbantu dengan adanya bantuan yang disalurkan dari pihak luar NTT. Meski demikian, proses penyaluran bantuan belum sepenuhnya merata. Kondisi geografis dan keterbatasan akses membuat penyaluran bantuan baru menjangkau sebagian masyarakat. Oleh karena itu, manfaat dan ketenangan dari bantuan tersebut belum dirasakan oleh seluruh masyarakat terdampak.
Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi, Human Initiative berharap bantuan yang telah disalurkan dapat meringankan beban para penerima manfaat serta membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Selain itu, keberlanjutan kerja sama dengan pemerintah maupun pihak lainnya juga diharapkan dapat terus terjalin. “Harapan yang pertama, semoga kepada penerima manfaat untuk bisa meringankan bebannya serta membantu kebutuhan sehari-hari sehingga tercukupi. Yang kedua semoga kolaborasi dengan pemerintah atau pihak lainnya dapat menciptakan keberlanjutan dan memberikan kebermanfaatan bagi semua pihak,” ujar Agus.
Penyaluran bantuan melalui Langkah Kecil Sejuta Manfaat (LKSM) tahun 2026 menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat terdampak bencana. Melalui kolaborasi antara Formadiksi UM dan Human Initiative, bantuan diupayakan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi langkah kecil dalam menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas.
Bidikmisi! Berprestasi Tiada Henti!
KIP Kuliah! Generasi Muda Semangat Berprestasi!
Formadiksi UM! Sukses!
Reporter: Farah Nurfadhillah
Editor: Farah Nurfadhillah
