Masa SMA akhirnya usai, Aula sekolah dipenuhi riuh rendah suara siswa yang sedang merayakan acara perpisahan. Melati, siswi SMA Insan Cendekia, berdiri dengan seragam putih abu-abu yang untuk terakhir kalinya ia kenakan dalam upacara resmi. Anak tunggal yang selalu menjadi kebanggaan orang tua itu tersenyum, meski hatinya diliputi rasa cemas tentang masa depan.
Ia berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di barisan kursi undangan. “Selamat, Nak, Ibu bangga sekali,” ucap ibunya sambil memeluk erat.
Sang ayah menambahkan, “Setelah ini, kamu mau melanjutkan studi ke mana?” Pertanyaan itu membuat Melati terdiam. Ia hanya menunduk, menimbang dalam hati. “Kenapa diam? Jadi kamu ambil kedokteran, kan?” desak ayah.
“Atau hukum?” sambung ibunya.
Melati menelan ludah. Suara di kepalanya semakin bising. “Aku harus lanjut ke mana? Jurusan apa? Aku bingung… aku takut,” batinnya.
Tiba-tiba ia berdiri. “Bu, Yah… Melati ke toilet sebentar, ya,” katanya terburu-buru. Ia berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di kursi tamu.
Di lorong sekolah yang sepi, Melati berhenti. Ia bersandar di dinding, menutup telinga rapat- rapat. Bisikan-bisikan seolah masih mengikutinya.
Ambil kedokteran saja, hidupmu terjamin. Kedinasan lebih baik, lebih bergengsi.
Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga?
“Aaaaah!” pekiknya lirih. Air mata pun jatuh tanpa disadari. Dalam benaknya, sosok
neneknya hadir kembali, menyapanya dengan lembut: “Cucu nenek hebat, jangan menangis.” Saat itulah suara seorang guru menyapa dari belakang. “Melati, kenapa? Kamu tampak murung. Ada masalah?” Bu Mawar, wali kelasnya, berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Bu, saya bingung. Banyak tekanan dari orang tua dan lingkungan. Saya capek,” jawab Melati dengan suara parau.
Bu Mawar merangkul pundaknya. “Ayo ikut ibu sebentar.” Ia menuntun Melati menuju ruang sebelah. Dari balik pintu, terdengar suara riang anak-anak kecil bernyanyi dan bermain.
Melati mengintip dan melihat sekelompok guru PAUD yang sedang mendampingi mereka. Ada tangis, ada canda, tapi sang guru sabar menenangkan setiap anak dengan penuh kasih. Melati terpaku, dadanya bergetar. “Wah… menarik sekali. Sepertinya ini cocok untukku,” gumamnya dalam hati.
Malam harinya, Melati memberanikan diri berbicara kepada ayah dan ibunya. “Ayah, Ibu, Melati ingin melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang, jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini.”
Sontak ayahnya membentak, “Apa! Ayah tidak setuju!”
Ibunya pun menimpali, “Gajinya kecil. Bagaimana nanti masa depanmu? Semua anak teman ibu masuk kedokteran.”
Namun Melati menahan tangisnya dan menjawab dengan tenang, “UM adalah universitas pendidikan terbaik di Indonesia. Aku ingin belajar di sana, karena aku yakin ini panggilanku.”
Ayahnya menghela napas berat. “Baiklah, terserah kamu. Tapi ingat, ayah tidak akan membiayai pendidikanmu.”
Keputusan itu terasa seperti palu godam. Meski berat, Melati mantap mencari beasiswa demi mewujudkan mimpinya. Perjuangan dimulai, ia jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi. Namun setiap kali terpuruk, Melati belajar untuk berdiri lebih kuat.
Tahun demi tahun berlalu. Kesibukan kuliah, suka-duka organisasi, dan tetesan air mata menempanya. Hingga akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Aula Universitas Negeri Malang dipenuhi toga hitam para wisudawan.
“Untuk peraih IPK tertinggi dari Departemen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini diraih oleh Melati Aisyah Putri,” suara MC menggema.
Melati melangkah ke panggung dengan senyum haru. Ayah dan ibunya yang dulu sempat meragukan kini berdiri di barisan depan, menatap dengan bangga. Sang ibu tak kuasa menahan tangis ketika memeluk anaknya.
Di tengah momen itu, Melati teringat pesan Bu Mawar: Jatuh, bangkit lagi. Gagal, coba lagi. Jika kamu tidak berkorban untuk impianmu, maka impianmu yang akan jadi korban.
Hari itu, Melati membuktikan bahwa keyakinan dan keteguhan hati mampu menepis segala rintangan.
